Hi!
Udah isi daftar hadir?
Pencet tombol bintangnya, ya!
Musik di atas bisa langsung diputar.
Terima kasih :)
—
Malam ini langit terlihat indah. Bintang-bintang bertaburan ditemani bulan yang belum bundar sempurna tapi masih tetap cantik. Sayang, udaranya dingin. Andai saja ada yang mau berbaik hati untuk pinjamkan tubuhnya biar bisa dipeluk. Halu!
“Mas, ganti channel dong!”
Di ruang tamu, Veli dan kakaknya sedang ribut. Ini tentang Mas Jordan yang lihat sepak bola dan Veli yang ingin ganti lihat kartun si kembar botak kinclong.
“Gak!” Mas Jordan menjauhkan remote dari jangkauan adiknya.
“Ih, ganti!”
“No!”
“Mama! Mas Jordan gak mau ngalah!” Veli mengadu.
“Kalian ribut mulu!” teriak Mama dari dalam kamar. Beliau sedang sibuk mencari kecoa yang tadi nyelip di bantal-bantal.
“Dih, ngaduan!” cibir Mas Jordan.
Veli berdecak kesal, sedangkan Mas Jordan cengengesan. Setelahnya, raut wajah pemuda berusia sembilan belas tahun itu berubah menjadi serius. Dia sangat menikmati pertandingan tersebut.
“Ayok! Masok! Yak--yakk! Alah, jancok, pake kebablasan segala!”
“HEH! LAMBENE SOPO KUWI?!” Papa datang sambil membawa stoples berisi kacang. Beliau memasang wajah garang.
“Mas Jordan misuh, Pa!” kata Veli.
“Hust!” Mas Jordan menyikut lengan Veli.
“Papa! Mas Jordan nyikut aku!” Veli semakin gencar mengadu. Dia tersenyum miring kala kakaknya itu menatapnya tajam.
“Kalian ini minta dikirim ke pondok?” kata Papa.
“Enggak!” jawab Mas Jordan dan Veli secara kompak.
“Kalau gitu akur!”
Mereka mengangguk patuh. Gak tau, paling besok diulang lagi. Namanya juga khilaf.
“Pa, dingin. Mau wedang jahe, ayo ke warung!” ajak Veli.
“Bentar, Papa lagi nonton bola nih. Sama Mas-mu aja lah,” kata Papa tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
“Warung mana?” tanya Mas Jordan.
“Teh Susi. Murah soalnya,” jawab Veli.
“Enggak, ah! Sendiri aja sana!” tolak Mas Jordan.
“Kenapa, Mas? Bukannya kamu juga suka minum wedang jahe?” tanya Papa.
“Anu, Pa... Ada Teh Susi, aku takut. Setiap ke sana digodain terus sama dia,” jawab Mas Jordan yang langsung mendapat gelak tawa dari Veli dan Papa.
“Minta di lamar itu, Mas,” gurau Veli.
“Ogah! Aku mah cari yang perawan, bukan malah janda anak tiga!” kata Mas Jordan.
Papa dan Veli semakin tertawa.
“Ya, sudah, pergi sendiri aja, Vel,” ucap Papa.
“Uangnya?” Veli mengedipkan matanya beberapa kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parody
Подростковая литератураPARODY hidup itu konyol kalau hidup saja penuh kekonyolan... gimana makhluknya gak edan?! seperti parodi, mereka menjalaninya dengan mengikuti alur semesta- -tapi dengan ugal-ugalan --- mohon hargai karya setiap orang mungkin agak gila dan gak jelas...
