PARODY
hidup itu konyol
kalau hidup saja penuh kekonyolan...
gimana makhluknya gak edan?!
seperti parodi, mereka menjalaninya dengan mengikuti alur semesta-
-tapi dengan ugal-ugalan
---
mohon hargai karya setiap orang
mungkin agak gila dan gak jelas...
Di chapter ini mungkin mengandung kata-kata kasar Mohon selalu bijak dalam membaca:)
Seperti biasa kawan-kawan Isi daftar hadir dulu Pencet tombol bintangnya jangan dilupa
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebelumnya...
"Oke, sekarang kalian diperbolehkan meninggalkan sekolah."
Setelah kalimat itu di lontarkan, siswa-siswi kelas X MIPA 2 mulai mengemasi barang-barang. Satu persatu siswa keluar dari ruangan. Begitu juga dengan Naura, gadis itu melangkah keluar.
Hingga kemudian, langkahnya terhenti setelah melewati ambang pintu. Dia tertegun mendapati Dhika yang sedang berdiri sambil bersandar di samping jendela. Entah apa yang dilakukan cowok itu. Pasalnya, ketika mengetahui Naura menampakkan diri, Dhika langsung membenahi posisinya. Dia berdiri tegak berhadapan dengan Naura.
"Dhika? Ngapain di sini?"
"Nungguin lo."
Hanya dua kata itu tapi mampu membuat pemikiran Naura melayang jauh.
"Ada perlu sama gue?" tanya Naura.
"Ayo pulang bareng!" ajak Dhika langsung tanpa ragu sedikitpun.
Sedangkan yang diajak bicara tidak langsung menjawab karena tidak menyangka laki-laki dihadapannya ini mengajaknya pulang bersama.
"Pulang bareng?" tanya Naura sedikit tidak yakin.
"Gue pikir lo masih trauma soal yang tadi. Ayo pulang sama gue, siapa tahu lo bisa tenang....
.....dan gue sendiri juga gak khawatir."
Naura sampai tidak percaya dengan ucapan Dhika. Apalagi dengan kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu. Dia khawatir? Padahal, dirinya sendiri sudah melupakan insiden di kamar mandi beberapa waktu lalu.
"Jangan khawatir lah, hehe... Gue bisa pulang bareng Veli sama Vara," ucap Naura berusaha terlihat santai.
"Sama gue aja," sahut Dhika. Kemudian, dia terlihat gelagapan. "Maksudnya... Gue sekalian bareng..," ucap Dhika meralat kata-katanya.
"Oh, iya boleh. Ayo," ucap Naura.
Selama berjalan berdua melewati lorong sekolah, hanya hening yang tercipta diantara keduanya. Mungkin suara sepatu yang menapak ubin-ubin jadi terdengar tidak begitu sunyi. Tapi tetap saja, canggung banget ini.
"Btw, apa kabar?"
Entahlah, setiap mendengar Dhika berbicara padanya, Naura selalu salah tingkah.
"Baik. Lo sendiri gimana?"
"Gini-gini aja. Gak ada yang beda," jawab Dhika.
"Oh." Hanya itu yang dapat Naura katakan saat ini.