Permulaan Tempur

30 7 14
                                        

Cella celingukan di depan gerbang SMA Merdeka. Mungkin sekarang murid-murid yang lalu-lalang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya karena hanya dirinya seorang yang memakai seragam biru putih.

“Satya oh Satya... Dimanakah engkau berada?” gumamnya dengan nada yang asal-asalan.

Tangan kanannya sedang menenteng kantung plastik berisi es krim. Sesekali anak itu menggembungkan pipinya sambil menoleh ke arah barang yang dia bawa. Cella menoleh ke dalam halaman sekolah. Sudah banyak murid-murid yang berjalan keluar, namun keberadaan Satya tidak kunjung dia temukan.

“Masa gak masuk sih?” Cella menerka-nerka.

Saat dia menoleh ke jalan raya, wajahnya langsung berseri-seri. Satya baru saja menyebrang jalan. Raut wajahnya yang dingin, kacamata bening yang bertengger di tulang hidung, rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin, Cella memerhatikan setiap bagian dari Satya.

“Pantesan gak nongol-nongol,” lirih Cella.

Tapi kegembiraan hatinya tidak bertahan lama saat dia sadar sosok perempuan yang menyusulnya dari belakang. Perempuan cantik dengan rambut panjang yang tergerai. Senyumnya manis diperlihatkan untuk Satya meski cowok itu tak merespon lebih.

“Kak!”

“Kak Satya!”

Keduanya terlihat menoleh ke arah Cella yang tersenyum ceria sambil melambaikan tangan.

“Lo kenal dia?” tanya perempuan itu pada Satya. Cowok itu hanya menggeleng singkat.

Cella berjalan ke arah dua anak SMA itu. Satya tetap berjalan melewati Cella, padahal dia sadar cewek itu menghampirinya.

“Kak!” Cella hampir meraih lengan Satya, tetapi perempuan yang berjalan dengan Satya tadi menahan Cella.

“Hei! Siapa, ya?” tanya perempuan itu dengan nada yang sedikit sarkas.

“Maaf, gak ada urusan sama Mbak.”

Perempuan itu langsung melongo. Dia berjalan cepat saat Cella kembali mengejar Satya.

“Halo--”

Satya menepis tangan Cella yang tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Awalnya Cella sedikit terkejut, setelahnya gadis itu tersenyum hingga sederet gigi rapinya terlihat.

“Siapa?”

“Lupa ya? Aku Cella, Kak. Yang di kafe waktu itu!”

“Ini cewek siapa sih, Sat?” tanya gadis berambut panjang. Dia menatap Cella dari atas hingga bawah kemudian sebaliknya.

“Gak tau.”

“Lo siapa sih, anjir?!”

“Cella,” jawabnya singkat.

“Hah? Maksudnya tuh lo siapanya Satya? Sok kenal gitu.”

“Lah? Orang emang kenal kok. Waktu itu pernah ngobrol bareng di kafe! Emang lo siapa?” Cella bertanya balik. Dia melihat nametag cewek itu. Tertera nama Audrey Nadia Putri. “Mbak Nadia diem dulu, ya.”

“Kok tau nama gue?”

“Ada nametagnya, Mbak! Gue juga bisa baca kali!”

Satya memerhatikan keduanya tanpa ekspresi. Kemudian saat dia hendak meninggalkan tempat, Cella kembali memanggilnya.

“Kak Satya jangan pergi dulu!”

“Maumu apa? Saya gak kenal sama kamu.”

“Ck. Ngobrol sebentar lah, Kak. Kakak amnesia apa gimana? Aku udah pernah ketemu--”

ParodyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang