Di basecamp LeoStra, kini mereka berkumpul dengan cemilan yang tersedia di meja yang mereka lingkari.
"SMA Nusa Bangsa ngajak war lagi!" seru Bagas sambil memakan kacang dua kelinci.
"Yakin? Kagak kapok apa!" seru Gilang mengambil beng-beng.
"Kapan?" tanya Sean.
"Katanya sih minggu depan, tapi bos, mending Lo jangan ikutan dulu deh! Kan baru masuk, masa nanti di skorsing lagi," ucap Bagas.
"Iya, bener tuh! Lagian tuh polisi kok bego banget! Cctv-nya kenapa nggak diperiksa coba," ucap Gading.
"Lo nggak mau nunjukin cctv-nya ke polisi?" tanya Rendi membuka suara ketika mereka membicarakan kejadian yang membuat Sean di skorsing selama 3 bulan itu.
Sean menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis, "kita itu nggak bisa percaya begitu aja sama hukum di negara ini, yang notabene nya cuma mentingin yang dilihat tanpa bukti akurat!" seru Sean dingin sambil meremas botol sprite hingga penyek.
Mereka yang melihat itu menelan ludah, memang tak salah memilih Sean sebagai ketua mereka. Tampan? Tentu. Tajir? Sangat. Jago baku hantam? Jelas. Pintar? Iya juga, cuma malas belajar aja!
"Jadi gimana? Mau turun?" tanya Gilang.
"Boleh, ajak aja yang lain," ucap Sean.
"Bener kata Bagas mending untuk war kali ini Lo gak usah ikutan dulu. Lagian ini war nggak terlalu berat kok kayaknya," ucap Rendi dan meneguk Coca-Cola.
"Oke."
Mereka tersenyum lega mendengar jawaban Sean, memang jika Rendi yang bilang Sean akan sedikit menurut. Sean lebih akrab dengan Rendi karena mereka hampir senasib. Broken home.
"Tapi, gue tetep bakal ikut buat mantau. Kalo sampe sekolah kita ada tanda-tanda kekalahan, gue turun langsung." lanjut Sean membuat mereka cengo.
"Tapi, bos-"
"Nggak ada tapi-tapi an, gue nggak lagi ngasih tawaran!"
Mereka mengangguk paham jika Sean sudah berkata seperti itu maka gak ada yang bisa menghentikannya lagi.
***
Pulang sekolah seperti yang dikatakan Millo tadi pagi, jika dia akan menjemput Keyla dan mengajaknya jalan-jalan bersama Rinda juga.
Saat Millo hendak masuk ke area sekolah yang sudah mulai dipenuhi oleh siswa siswi yang hendak pulang, sebuah motor dengan kecepatan tinggi lewat dihadapannya hampir saja membuat dirinya menjadi korban tabrak lari.
Motor itu berhenti dan membuka kaca helm nya.
"Maaf om! Nggak sengaja!" seru orang itu yang ternyata Sean.
Millo merasa tidak asing dengan suara itu, dia menghampiri Sean dan melihat penampilan Sean dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sean merasa deja Vu ditatap seperti itu.
"Kenapa Om? Jiwa nya terbang ya?" tanya Sean.
"Kamu? Apa kita pernah bertemu?" tanya Millo.
Sean mengerutkan keningnya, dia turun dari motornya dan melepaskan helm nya balik menatap Millo dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Emangnya Om pernah ikutan tawuran? atau Om pernah ikutan balap liar?" tanya Sean tanpa berfikir terlebih dahulu.
Millo menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Sean. Anak jaman sekarang memang kurang sopan, ya meskipun Millo tampak seperti usia 30 tahun an, tapi tetap saja itu tidak sopan. Usia Millo kini hampir 50 tahun, tapi tampangnya masih bisa dikategorikan dalam usia 30 an.
"Tapi kayaknya kalo tawuran nggak mungkin deh," ucap Sean yang melihat penampilan Millo yang menggunakan kemeja dan celana bahan, terlihat seperti pekerja kantoran.
"Atau Om mau ngajakin balapan? Boleh Om ... Om nggak salah cari orang. Saya Sean Maravilloso sang raja balapan," ucap Sean membanggakan dirinya sendiri.
Millo memilih untuk meninggalkan Sean, mungkin dia hanya salah orang saja. Senyumannya terukir ketika seorang gadis menghampirinya.
"Ayah!" panggil Keyla pada Millo.
Sean yang sedari tadi masih memperhatikan Millo dibuat kaget dengan panggilan yang barusan dilontarkan Keyla untuk seseorang yang baru saja dia ajaki untuk balap liar?
Sean cepat-cepat memakai helm nya dan meng gas motornya, meninggalkan area sekolah dengan pikiran yang lagi-lagi kusut.
"Ayah abis bicara sama siapa?" tanya Keyla melihat motor Sean yang sudah menjauh.
"Bukan siapa-siapa. Ayok, bunda udah nungguin di mobil."
Brak!!
Sean menendang keras pintu basecamp LeoStra yang berhasil membuat penghuni didalamnya kaget setengah mati, pasalnya mereka sedang tidur siang. Untung kagak ada yang punya riwayat jantung, kalo ada udah end dah!
"Bangsat! Bangsat! Tolol! Tolol!!" maki Sean.
"Siapa bos?" tanya Gading.
"Bos di begal?" tanya Gilang.
"Yanga ada tuh begal langsung tobat kalo ketemu si bos!" celetuk Bagas.
"Iya juga, ya."
"Si bos lebih serem dari pada begal yang mukanya pas-pasan."
"Udah pas-pasan ditutup pake kain pula! Dia pikir ukhti apa!"
Gelak tawa keluar dari ketiga orang yang baru bangun tidur itu.
"Anj*Ng Bangs*t! Emang dasar!" maki Sean tanpa memperdulikan pertanyaan mereka.
Mereka berhenti tertawa mendengar Sean yang tak kunjung berhenti mengeluarkan kata-kata mutiaranya, itu.
Mereka saling dorong untuk mendekati Sean dan bertanya apa yang terjadi hingga membuat dirinya terlihat begitu kesal.
"Lo aja yang tanya!"
"Lo aja!"
"Lo aja dah!
"Udah mending kita suit aja!" seru Bagas.
Mereka melakukan kertas-Batu-Gunting dengan perasaan was-was. Bagas yang malang, iya yang menyarankan untuk suit dan dia pula yang kalah. Gading dan Gilang mendorong Bagas hingga berdiri dihadapan Sean.
Sean menatap tajam. Tatapannya seakan menusuk masuk kedalam matanya, melewati lubang hidungnya dan masuk kembali ke lubang mulut dan melewati perosotan tenggorokan hingga tersangkut di hati.
"B-bos, K-kenapa marah-marah?" tanya Bagas menelan ludah tak tenang.
Sean pergi duduk di sofa dan diikuti oleh ketiga temannya itu. Rendi tidak ikut nimbrung, saat pertemuan pertama saat membahas tentang war, Rendi dan Sean kembali ke sekolah sementara ketiga sejoli itu memilih bolos dan saat jam pulang Rendi memilih untuk pulang karena ada urusan.
"Gimana ya caranya biar disayang sama calon mertua?" tanya Sean tiba-tiba sambil menatap ketiga sahabatnya itu bergantian.
Yang ditatap malah saling lempar pandangan heran. Yakin si bos kagak kesambet nih? Kok tiba-tiba nanya soal camer sih?
Bagas beralih tempat dan duduk disamping Sean. Sean kira Bagas akan memberikan jawaban tapi, Bagas malah menempelkan tangannya di jidat Sean kemudian membandingkan suhunya dengan pantat nya.
"Sama!" seru Bagas menatap kearah Gilang dan Gading.
Pletak!
Atas kejadian itu Bagas mendapatkan hadiah dari Sean. Ya Sean memukul belakang kepalanya karena merasa kesal dengan yang dilakukan oleh Bagas padanya barusan.
"Eum! Bego! Maksud Lo apaan?!"
"Anjir sih bos! Sakit!" rengek Bagas mengusap kepalanya.
"Kalo ampe otak gue yang tinggal seperempat ini ilang gimana!" seru Bagas.
"Ya tinggal dikubur dibawah tanah, terus kita tahlilan lumaya dapat gurimih," ucap Gilang dan melakukan hive five dengan Gading
"Anjir asu Lo pada!"
"Eh, tapi seriusan bos! Kenapa Lo tanya soal gituan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Sky (On Going)
Lãng mạnNggak follow nggak papa asal vote sama komen jalan, ya ???? Suka lanjut, kalo nggak suka lanjutin aja???? canda ... boleh pindah lapak kok???? Our Sky Diatas langit masih ada langit dan dibawah langit masih ada langit juga! Itu artinya kita di teng...
