Sean menarik Keyla ke bagian taman yang cukup sepi dan melepaskan genggamannya.
"Mulai besok Lo gak boleh tampil di kafe lagi!"
"Kenapa?"
"Gak usah banyak tanya! Kalo gue bilang jangan, ya jangan!"
"Tapi kan kamu tau sendiri, kalo aku mau punya penghasilan sendiri."
"Iya, tapi jangan tampil di kafe juga!" seru Sean frustasi.
"Jaman sekarang itu susah cari kerja, apalagi kita masih bersekolah. Syukur-syukur aku punya suara bagus, jadi bisa nyanyi di kafe," ujar Keyla menunduk.
Sean mengusap wajahnya kasar, dia tidak tahan jika Keyla tampil dan seluruh mata menontonnya. Dia hanya ingin Keyla untuk dirinya seorang. Egois kah? Dia tidak punya hubungan apapun dengannya tapi, Sean ingin Keyla hanya untuk dirinya sendiri.
"Pokoknya gak boleh! Kalo Lo nekat tampil di kafe itu, besoknya tu kafe bakalan rata sama tanah!" ancam Sean.
"Eh kok gitu, mana bisa gitu!" seru Keyla menatap Sean panik.
"Makanya jangan tampil lagi!"
"Kamu mau tanggung jawab, buat cari pekerjaan buat aku?"
Sean berpikir, ayahnya memiliki beberapa bisnis lestoran dan perhotelan tapi itu sama saja dengan Keyla yang bekerja di kafe. Ditempat itu pasti banyak sekali orang, tidak masalah jika semua tamu atau pengunjungnya wanita, tapi ...
"Tuh kan! Kamu nggak punya pekerjaan yang cocok buat aku," ucap Keyla membuang muka.
"Gue ada kerjaan yang cocok buat, Lo!" seru Sean tersenyum.
"Apa?"
"Lo jadi guru les gue aja. Bokap gue bakalan marah kalo ampe gue gak lulus tahun ini. Nilai gue rata-rata merah kecuali pelajaran bahasa asing."
"Jadi tutor kamu?"
Keyla berfikir sejenak, dia memang pintar dalam hal pelajaran tapi apa Sean yang bakalan ia ajar dapat memahami pelajaran nya? Dengan kebiasaannya yang suka tawuran dan balap liar, Keyla pikir mungkin Sean hanya menghabiskan waktunya untuk hal itu-itu saja.
"Gimana? Mau gak?" tanya Sean mengambil kembali pikiran Keyla yang tengah melambung.
"Aku mau-mau aja tapi, emangnya pelajaran nya bakal masuk gitu ke otak kamu? Kerjaan kamu kan cuma tawuran dan balap liar! Kemungkinan cuma 20% pelajaran yang masuk ke memori otak kamu," ucap Keyla dengan tampang polosnya.
Sean mendekatinya dengan tatapan dingin, Keyla hendak mundur tapi tangan Sean berhasil meraih pinggangnya dan menariknya hingga membuat mereka sangat-sangat dekat.
"Se mi sottovaluti così ancora una volta, allora ti bacerò le labbra!" ucap Sean dalam bahasa Italia yang sangat lancar. Selancar hubungan aku dengan dia yang tak ada.
"Kamu ngomong apa?" tanya Keyla tidak mengerti dengan bahasa yang Sean ucapkan itu.
"Gue bilang 'mau gak ambil tutor ini' buat bayarannya 1 juta/hari, gimana?"
"A-apa 1 juta perhari?" Keyla tahu jika Sean memang kaya, tapi 1 juta perhari hanya untuk mengajar bukankah itu terlalu banyak?
"Kenapa? Kurang? Yaudah tinggal sebutin aja nominal nya, nanti gue bayar!"
"B-bukan begitu, menurut ku itu terlalu banyak. Memangnya kamu mau akau mengajar berapa jam per harinya?"
"Sekuat nya, Lo aja."
"Ih, aku kan yang mau mengajar dan aku harus tau kapasitas dan ketahanan orang yang mau aku ajar!"
"Mungkin sekitar 2-3 jama per hari," ucap Sean setelah berpikir sedetik tadi.
"Oke, tapi bayarannya 300ribu aja, jangan 1 juta, kebanyakan," ucap Keyla tersenyum.
Keyla tidak sadar jika sedari tadi Sean sudah melepaskan tangannya dari pinggangnya, hingga kini kedua tangannya masih setia memegangi bahu Sean, yang dia gunakan untuk menahan tubuh mereka agar tidak terlalu menempel.
"Lo suka sama gue?" tanya Sean.
"Ka-kata siapa?! A-aku nggak suka kamu kok!"
"Terus kenapa masih mau nempel? Tadi tempat ini sepi tapi sekarang gue jadi tontonan orang yang lewat!"
Benar, setiap orang yang melewati mereka pasti berbisik sesuatu melihat keadaan ambigu mereka itu.
"Ka-kamu lepasin aku! Ngapain narik-narik pinggang aku! Nggak sopan!"
Sean mengangkat keduanya tangannya dan menatap Keyla seolah memberitahu jika dia sama sekali tidak menyentuh Keyla. Keyla melihat tangannya yang masih menempel di bahu Sean dan cepat-cepat melepaskan nya, hingga keseimbangannya tak dapat dia jaga.
Bruk!
Keyla terjatuh dengan Sean yang berada di atasnya. Sebelum Keyla jatuh dia menarik Sean guna tetap menjaga keseimbangannya, tapi Sean malah terbawa jatuh.
"Lo gakpapa?" tanya Sean yang kini melihat wajah Keyla sudah merah.
"Aku gak apa-apa! Kamu berat!" seru Keyla mendorong Sean agar berpindah dari atas tubuhnya itu.
Keyla bangkit dan membersihkan pakaiannya, dia kaget melihat ada darah di tanah bekas kepalanya. Keyla memegangi kepalanya mencoba merasakan apa ada yang sakit? Tidak. Lalu itu darah siapa?
"Tenang itu darah gue! Bukan darah Lo!" seru Sean menyingkirkan pecahan kaca yang masih menempel di tangannya.
"Kamu ..."
"Apa!"
"Makasih,"
"Kalo Lo berterima kasih, obatin tangan gue! Perih nih!"
"Aneh tawuran aja nggak pernah ngeluh, giliran kena pecahan kaca aja ngomong perih. Dasar!" gumam Keyla mencibir perilaku Sean.
"Lo ngomong sesuatu?"
"Nggak kok! Aku nggak ngomong apa-apa."
Keyla menyanggupi apa yang mereka sepakati itu. Keyla akan mengajari Sean selama 2-3 jam per harinya dan untuk waktunya ditentukan oleh Sean, tentunya tidak lebih dari jam 9 malam.
"Makasih atas tumpangannya!" seru Keyla turun dari motor Sean.
"Besok gue tunggu jam 2 siang!" seru Sean.
"Oke! Rumah kamu dimana?"
"Nanti gue serlok! Gue cabut!"
***
Mita
Maaf ya kau nggak bisa tampil di kafe lagi
Lo tadi dibawa kemana sama Sean?
Kagak diapa-apain kan?
Loh kenapa gak mau tampil lagi?
Bayarannya lumayan loh
Gak papa aku nggak mau aja, aku udah dapat pekerjaan yang lebih mudah :)
Bayaran hari ini buat kamu aja nggak papa
Oh oke kalo gitu
Terimakasih atas bayaran nya sahabat ku
Keyla menatap langit-langit kamarnya, orangtuanya belum pulang mereka bilang mereka sedang kencan. Keyla berpikir kira-kira nanti apa yang bakal dia ajarkan pada Sean? Terlebih lagi dia tidak mempunyai kontak Sean. Besok dia harus memintanya.
"Siapa yang punya kontak Sean, ya?"
"Ah! Rendi pasti punya, nanti aku minta dia aja."
Keyla pergi ke kamar mandi sambil bersenandung ria, hari ini hari yang melelahkan, dia tampil menggunakan gaun ini dan itu adalah penampilan terakhirnya.
"Penampilan aku tadi bagus, kan? Pasti bagus dong,"
"Ah andai aku jadi penyanyi terus terkenal dan punya banyak fans, pasti gak kalah tenar sama Sean yang jadi ketua geng."
'aku suka dengan tingkah nya tapi dia kurang baik dalam mengekspresikan nya. Sean. Mungkin setelah hati ini aku akan lebih mengenal dirimu. Sean Maravilloso.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Sky (On Going)
Storie d'AmoreNggak follow nggak papa asal vote sama komen jalan, ya ???? Suka lanjut, kalo nggak suka lanjutin aja???? canda ... boleh pindah lapak kok???? Our Sky Diatas langit masih ada langit dan dibawah langit masih ada langit juga! Itu artinya kita di teng...
