(Our Sky) 24. Apa Artinya ini?

4 0 0
                                        


Keyla menghalangi sorotan sinar matahari menggunakan tangannya, berusaha membuat pria dihadapannya tak terusik.

"Sean, makasih udah nolongin aku dan bawa aku ke UKS."

"Kenapa kamu nggak nungguin aku sampe sadar? Kamu malas, ya?"

"Sean, kayaknya kehidupan kita balik ke zaman Siti Nurbaya, ya?" Keyla tertawa pelan dengan ucapnya sendiri.

"Kamu mau di jodohin, aku juga kayaknya mau dijodohin. Kenapa harus kejadian aja yang sama? Apa nggak bisa kalo orangtua kita juga yang saling mengenali itu?"

"Aku udah selesai ucap terimakasih. Makasih udah nolongin aku, makasih udah diem dengerin ucapan aku, terimakasih udah pernah bikin aku senyum dan terimakasih udah berhasil-"

Keyla terkejut saat tangannya yang menjadi penghalang sinar matahari digenggam oleh Sean, apalagi sekarang Sean menatapnya.

"Lo dijodohin?" tanya Sean suaranya tidak seperti orang yang bangun tidur.

"Kayaknya, aku gak yakin." Keyla sedikit tenang mendengar nada bicara Sean yang kembali.

Sean menatap seolah meminta Keyla untuk menjelaskan lebih tentang hal itu, Keyla lama-lama merasa kikuk jika harus ditatap dengan mata elang itu.

"Kata bunda, ayah mau ngajak kita buat ketemu sama sahabatnya," tutur Keyla.

"Ngajak gue?" goda Sean.

Keyla memejamkan matanya sebentar menenangkan diri, "maksud aku, kita itu bunda sama aku."

"Terus?"

"Aku tanya, bunda mau jodohin key, terus bunda jawab, bukan mau jodohin cuma ketemu aja, tapi kalo Keyla suka kita bisa bicarakan kalo nggak ya nggak apa-apa."

Sean melepaskan pergelangan tangan Keyla, "gue khawatir."

"Khawatir kenapa?"

"Nanti tuh cowok bakalan suka sama Lo, untung kalo tuh cowok cakep kayak gue minimal mirip lah sebelas dua belas sama gue, kalo nggak gimana?"

"Kamu pikir aku mandang tampang?"

"Gue cakep gak?" tanya Sean mencondongkan badannya hingga wajahnya hanya memiliki jarak 15cm dengan Keyla.

"Kan Lo gak bisa ngomong karena gue terlalu tampan. Kata cakep gak muat buat bungkus ketampanan gue," cetus Sean percaya diri sambil berkacak pinggang.

Keyla menampilkan mimik wajah antara sinis akan kepercayaan diri pria dihadapannya dan shock melihat pria itu tidak sedingin kemarin-kemarin.

"Kamu udah nggak diemin aku lagi?" ujar Keyla.

"Kapan gue diemin Lo? Kagak pernah tuh?"

"Kamu diemin aku, kamu gak nyadar? Kamu gak mau ngobrol sama aku, bahkan tiap ketemu aja kamu gak pernah liatin aku."

"Gue jalan kan kalo papasan sama Lo?"
Keyla mengangguk, "nah dimana letak gue diemin Lo?" ucap Sean.

"Aku capek ngomong sama kamu!" seru Keyla bangkit dan hendak meninggalkan Sean.

"Key," panggilan Sean membuat Keyla berhenti, "Lo udah jawab pertanyaan bunda? Lo mau ikut ketemu sama anak dari temen bokap Lo itu?" imbuhnya. Entah hanya perasaan Keyla atau memang suara Sean yang terdengar sedih?

"Mungkin aku bakalan ikut, kitakan cuma mau ketemu bukan mau tunangan."

"Lo inget perjanjian kita? Gue masih punya tiga permintaan buat Lo kabulin." Sean berjalan mendekat sementara Keyla masih setia di posisinya, karena Keyla pikir ini disekolah gak mungkinkan Sean mau macem-macem.

"Waktu itu Lo masih belum kabulin permintaan gue buat bilang 'iya' sama apa yang gue minta,"ucap Sean berhenti saat jarak mereka tinggal dua langkah.

"Hari ini gue mau Lo lakuin permintaan gue itu," tuturnya.

"Kamu mau aku bilang iya sama perkataan kamu yang mana?" tanya Keyla bingung.

"Bisa Lo jangan pergi ke acara itu?" pintanya.

Keyla melihat mata Sean, itu mata yang dia lihat saat berada di apartemen. Tatapan mata sendu yang sedih yang mungkin hanya Sean perlihatkan pada orang-orang tertentu.

"Iya," jawab Keyla tersenyum.

Sean tersenyum, senyuman manis yang membuat bibir tipis berbentuk hati hampir sempurna itu tambah tipis.

"Tapi, apa kamu bisa lakuin hal yang sama?" pinta Keyla.

Sean mengerti akan permintaan Keyla, dia melangkah menyisakan jarak satu langkah, "Gue gak bakalan dateng ke dinner yang diatur sama bokap gue."

Mereka saling memandang sambil tersenyum tanpa disadari di jendela kepala-kepala itu timbul melihat interaksi keduanya dengan kegelian dan keirian masing-masing.

Semenjak kejadian tadi Keyla tidak berhenti tersenyum, begitupun dengan Sean tipis-tipis terlihat senyumnya.

"Iya, yang lagi happy. Bentar lagi tu bibir belahannya ngalahin om Joker," ujar Mita.

"Masa sih? Om Joker kan pake lipstiknya aja yang berlebihan ampe ujung ke ujung," sahut Keyla dengan mata polosnya dan bibir yang tersenyum, Mita yang ditatap seperti akhirnya menempatkan kelima jarinya diwajah Keyla dan mendorongnya menjauh, "nyesel gue ngasih usul sama Lo. Gue serba salah, didiemin gak tega liat Lo murung mulu giliran dibantuin gue yang kasian harus liat wajah Lo yang kayak orang bego gitu."

Keyla tidak memperdulikan omongan Mita, Keyla menyingkirkan tangan Mita yang menempel pada wajahnya dan berdiri, "kamu mau cemilan? Aku yang bayar."

Mita tersenyum mendengar perkataan itu, otaknya seolah berpikir apa yang harus dia minta pada gadis di hadapannya. "Gue mau minuman kaleng soda, sama ciki aja."

"Oke. Aku yang bayar!" seru Keyla gembira.

"Key, sekalian bayarin utang yang kemarin. Lo nyuruh gue bayar, orang uang gue kurang," imbuh Mita.

"Oke!"

Mita dibuat melongo melihat tingkah Keyla yang keluar kelas dengan mood booster, "anjir tuh anak, mood booster banget. Apa gue bisa minta dibeliin motor baru aja, ya? Kali aja tuh bocah bilang 'oke!'."

Reza yang baru keluar dari ruangan OSIS melihat Keyla memangku cemilan dengan lengan yang memegang kaleng minuman, terlihat ribet namun wajahnya terlihat ceria. Reza menghampiri Keyla setelah pamit dengan teman-teman.

"Key, mau aku bantuin?" tawar Reza, Keyla mengangguk,"boleh."

Reza mengambil alih cemilan itu menyisakan dua untuk dibawa Keyla sisanya dia yang bawa, tidak masalah baginya untuk membawa cemilan itu.

"Kamu keliat happy banget, ada hal baik apa?"

"Iya, ada sesuatu yang baik terjadi."

Reza menatap Keyla dengan selidik menggoda, "kamu jadian sama cowok, ya?"

"Nggak! Bukan gitu," kelak Keyla.

"Kan bener tebakan aku. Siapa cowok beruntung itu?" tanya Reza berharap mendapat jawaban.

"Nggak. Beneran bukan gitu," elak Keyla.

"Yaudah, kalo emang gak jadian sama orang lain gimana kalo kita aja yang jadian?"

Ucapan tiba-tiba dari Reza membuat Keyla berhenti berjalan dan menatap bingung pada Reza, "maksudnya?"

"Aku suka sama kamu, Key."

Pengakuan itu tidak sengaja terdengar oleh Bagas yang baru mau keluar dari kelas Keyla setelah berjumpa dengan Mita.

Keyla mengambil cemilan yang dipegang Reza dengan kikuk, "ma-makasih udah bantuin aku . Aku duluan, bye!"

Keyla buru-buru masuk meninggalkan Reza yang tersenyum melihat Keyla yang gugup dihadapannya itu. Tidak ingin tinggal lama Reza kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang hanya terpaut satu ruangan. Entah kenapa senyum manisnya itu berubahnya menjadi senyum sinis lalu berganti dengan wajah datar dengan tatapan malas.

'Aku sempat berpikir, ini berakhir rasa suka mu hanyalah sesaat. Tadinya aku akan berhenti berharap karena uluran waktu ku sudah berakhir, tapi nyata kamu kembali. Terimakasih.'

Our Sky (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang