(Our Sky) 25. pipi yang bersilaturahmi

4 2 0
                                        

"Ayang Mita, lagi ngapain?" tanya Bagas duduk dihadapan Mita yang terpisah oleh meja.

"Lagi berak!"

"Masa berak di kelas, lagi baca buku kali."

"Udah tau make tanya lagi apa, anda sehat?" ujar Mita geram.

Bagas meraih tangan Mita dan menempelkan pada pipinya, "nggak, aku nggak sehat. Coba rasain panas kan? Apa lagi disini." Tangannya menuntun untuk menyentuh dadanya, "jantung aku berdetak kan."

Mita menarik tangannya, "kalo dingin Lo mati, kalo tu jantung nggak berdetak Lo mati."

"Bahasa sangat indah, kata-kata mutiara kalah dah tuh puisi-puisi," ujar Bagas masih berusaha menggoda.

"Mendingan Lo pergi deh, gue capek tiap hari harus jadi sorotan dikelas."

Iya, teman-teman sekelasnya tidak berhenti menahan tawa melihat kelakuan dirinya dan Bagas. Bagas melihat mereka dan balas tersenyum, lalu kembali ke pandangan awal, "itu artinya kita pasangan serasi. Buktinya mereka aja ampe terpesona." Bagas masih dengan kepercayaan penuhnya.

"Bisa gak Lo pergi, jangan tiap hari masuk kesini ini bukan kelas Lo, Gas."

Bagas bertepuk tangan girang membuat Mita kaget sekaligus keheranan begitupun dengan yang lain.

"Lo baik-baik aja'kan?"

"Ini pertama kalinya ayang Mita nyebut nama panggilan buat Abang Bagas."

Mita speechless mendengar itu, kepalanya yang tidak pusing kini ia geleng-gelengkan.

"Yaudah kalo gitu Bagas pulang ke kelas dulu, ya. Bye!"

Bagas pergi dengan senyum sumringah atas kejadian itu, tangannya meraih kenop pintu tapi terhenti saat mendengar pengakuan Reza pada Keyla. Suaranya jernih terdengar di telinganya, beberapa kali dia mengorek-ngorek kupingnya dia tidak salah dengar.

Pintu terbuka dari luar, Keyla berjalan dengan cepat tanpa menyadari keberadaan Bagas yang melihat dirinya sampai duduk di kursi, Bagas mengeluarkan kepalanya melihat pria yang baru saja mengobrol dengan Keyla, "Ketua sosis?" gumamnya.

Sore hari LeoStra masih asyik di basecamp, Bagas dan Gilang yang tengah berebut makanan, Gading yang asik tertidur dan Sean yang memperhatikan semuanya. Rendi? Dia masih belum datang, katanya masih ada urusan.

"Tadi disekolah gue mau ngomong apa, ya?" gumam Bagas mencoba mengingat sesuatu.

"Akh! Gue dapet!" seru Gilang mengambil makanan itu dan Bagas tidak merebutnya kembali.

"Oh iya! Bos!" panggil Bagas padahal Sean ada di depannya. Sean melihatnya wajahnya seolah menjawab panggilan Bagas 'apa?'

"Tadi gue denger si sosis nyatain perasaan sama si Key, emangnya Lo sama Keyla masih marahan?"

"Sosis? Siapa?"

"Itu ketua sosis sekolah kita Lo! Si ... Sia siapa teh?" Bagas balik tanya.

"Reza?" ucap Gilang.

"Nah itu bocah! Si Reza."

"Lo ada denger Keyla jawab apa?"

Bagas sedikit ragu, "kagak kayaknya, soalnya dia langsung masuk mana tangannya penuh sama cemilan lagi."

"Eh bos mau kemana?" panggilan mereka tidak dihiraukan, Sean melangkah pergi saat Rendi baru saja tiba.

"Mau kemana?" tanya Rendi menahan bahu Sean.

"Ada urusan sebentar."

Rendi masuk ruangan yang berisi tiga orang itu lalu duduk di tempat Sean tadi, "tu anak kenapa?"

Our Sky (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang