"Lo gugup, ya," bisik Sean yang kini sudah membuat pipinya bersentuhan dengan pipi gadis itu.
Keyla menggunakan tangannya yang bebas untuk meninju perut Sean dan atas perbuatannya itu Sean terjatuh kelantai sambil memegangi perutnya.
"Anjir! Pukulan Lo kok kuat banget sih, kayak petinju aja!" keluh Sean.
Keyla tertawa sembari membetulkan posisi duduknya, "makanya jangan kebanyakan bercanda yang bikin jantung gak aman! Rasain sakit kan."
Sean tersenyum menatap Keyla yang tertawa, "gue rela sakit kalo bisa liat Lo ketawa sepuas itu." Perkataan Sean mampu membungkam mulut Keyla dengan pipi yang tersipu.
"Apaan sih! Siapa juga yang mau terus ketawa kalo orang lain kesakitan."
"Ada kok orang yang kayak gitu," ucap Sean duduk di samping Keyla, "tuh contohnya orang yang gak suka sama kita, mereka sering banget ketawa kalo kita lagi gak baik-baik aja," imbuhnya sambil memakan camilan yang ada di meja.
"Terlalu sad."
"Kamu datang kesini cuma mau tanya perihal Reza?"
"Kenapa? Gak suka?" serga Sean.
"Emosian banget sih!" cibir Keyla, "yaudah kalo gitu kamu pulang aja, udah dapet kan jawabannya."
Keyla kembali menonton televisi dengan wajah cemberut, dia tidak memperdulikan Sean yang kini menatapnya gemas.
"Hey." Sean meraih tangan Keyla mengelus-elus nya lembut, "emangnya Lo pikir gue mau ngapain datengin Lo sampe ke rumah segala?" tanyanya dengan nada lembut tapi masih menggunakan 'Lo'
"Aku gak ngarepin apa-apa."
"Gue cuma gak mau ada kesalahpahaman lagi. Cukup kemarin aja kita gak komunikasi. Cukup kemarin aja gue dibuat frustasi karena harus tenangin batin gue. Cukup kemarin aja gue jagain Lo dari jauh dan cukup kemarin aja gue teledor sampe bikin Lo masuk UKS."
Keyla melunak mendengar perkataan Sean, dia balas menatap Sean iba, "kemarin itu bukan salah kamu, itu salah aku yang gak hati-hati jadi ketimpa bola."
"Yang gue tahu cewek itu bukannya gak pernah salah, ya?" ledek Sean yang berujung tangannya di hempaskan Keyla dan membentur senderan sofa.
Keyla kaget saat Sean benar-benar kesakitan dengan tangannya, "tangan kamu kenapa? Kok luka kayak abis nonjok sesuatu?"
Sean menarik tangannya dari Keyla, "gue jatoh."
"Jatoh gimana! Jelas-jelas ini luka bekas tonjokan! Kamu abis berantem lagi? Sama siapa? Kenapa berantem! Ada masalah itu omongin baik-baik jangan tangan yang kamu pake buat ngomong!" cerca Keyla, "tunggu disini!" imbuhnya setelah menarik nafas.
Keyla pergi mengambil kotak P3K dengan telaten Keyla mengobati luka itu sampai-sampai Sean tidak mengeluh sakit atau perih sekalipun. Keyla mengoleskan obat merah lalu terakhir memasang plester yang dipotong sesuai ukuran luka.
"Kamu berantem sama siapa?" tanya Keyla lembut.
***
"Reza! Darimana kamu jam segini baru pulang! Mau jadi apa kamu hah!"
Bukan sambutan hangat atau pertanya khawatir yang didapatkan dari sang perempuan yang menyandang status sebagai ibunya itu.
"Kamu mau kayak Abang kamu, hah? Kamu mau mati sia-sia kayak dia hah!"
"Stop! Ma! Stop! Abang itu udah meninggal dan mama masih jelekin dia? Emangnya mama ada waktu buat urus kita biar jadi anak baik, hah? Ada?!"
"Reza! Mama gak suka kamu ngelawan kayak gini. Besok kamu jangan masuk sekolah, mau di taro dimana muka mama kalo sekolahan liat wajah kamu yang kayak gitu. Jangan bikin Mama malu!"
Reza tidak menjawab, dia memilih untuk pergi ke kamarnya. Menenangkan pikiran adalah solusi terbaik untuk saat ini.
Reza menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, wajahnya memar. Sudut bibir yang sobek, tulang pipi memar ungu, pelipis sobek kecil.
"Bangasat! Emang darah Lo itu udah kemasuk darah pembuhun," maki nya.
"Bagi Lo mungkin gak masalah kalo harus ngabisin satu nyawa lagi, atau mungkin itu hal yang paling mudah."
"Gue bakalan bales dua kali lipat sama apa yang udah Lo lakuin ke gue dan saudara gue!"
Sore tadi Sean meninggalkan basecamp dan kembali ke sekolahan, tujuannya hanya satu yaitu mencari pria yang bernam Reza Artamevia. Ketua OSIS di SMA Aranda ini.
Suasana sekolah sudah lumayan sepi karena ini sudah bukan jam belajar, yang tersisa hanya murid ekskul dan anak-anak organisasi.
Sean berjalan lurus menuju ruangan dengan tanda "Ruangan OSIS" tanpa mengucap salam atau permisi pintu itu terbuka lebar oleh ulah kakinya.
Semua yang didalam dibuat kaget dan bertambah kaget ketika melihat pelakunya, tidak ada yang berani menegur mereka hanya menatap tidak suka.
"Sorry gue gak sengaja tenda itu pintu, gue kirain di kunci ternya nggak," ucap Sean santai tanpa merasa bersalah.
"Ada perlu apa?" tanya Reza.
Sean melihat nametage memastikan jika dia benar Reza Artamevia yang ia cari, "gue ada perlu sebentar sama Lo."
"Perlu apa?"
"Mending Lo ikut gue, daripada gue ngomong disini gak bakalan kelar." Sean melangkah pergi tapi baru dua langkah dia berbalik, "bawa juga tas Lo, gue yakin Lo langsung pulang atau pergi ke tempat lain yang pasti bukan sekolahan," imbuhnya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
Meskipun bingung Reza tetap mengikuti apa saran Sean, dia berpamitan untuk pulang lebih awal dan diskusi akan dilanjutkan lain waktu. Sepeninggalan mereka, anggota OSIS yang tersisa mulai bergosip dan menanyakan apa yang terjadi antar Sean dan Reza?
Sean membimbing Reza ke lapang belakang sekolah. Reza mengikutinya dengan malas, aura baik sang ketua OSIS seolah lenyap berganti dengan aura tak kalah bandel dengan Sean.
"Gue denger Lo suka sama Keyla?"
"Lo bahkan nyatain perasaan sama dia tadi disekolah?"
Reza menyunggingkan senyuman, "kenapa? Lo Cemburu?"
"Lo belum tau Keyla itu milik gue," tegas Sean.
"Milik Lo? Emang Lo udah hubungan apa sama Keyla sampe ngecap dia milik Lo?"
"Satu sekolahan juga tau kalo gue sama Keyla itu pasangan."
"Sean, Sean. Gue harap Lo sadar, disini yang anggap siapa milik siapa itu cuma Lo! Apa Lo udah tanya ke Keyla gimana perasaannya sama Lo?"
Reza berjalan mendekat dan menatap Sean, tangannya yang sedari tadi berada di saku dia keluarkan dan menepuk-nepuk bahu Sean seolah menyingkirkan debu yang menempel. Berasa Dejavu anjir!.
"Keyla itu milik bersama, kalo Lo udah nyicip kenapa Lo gak biarin orang lain lakuin hal yang sama?" bisik Reza.
Sean naik pitam, darahnya seolah memanas mendengar perkataan Reza tangannya yang mengepal akhirnya mencium rahang Reza.
Reza tersungkur dengan serangan tiba-tiba itu, tapi dia malah tertawa, "kenapa Lo marah? Gue salah ngomong?"
Sean menghampiri Reza dan melayangkan pukulannya bertubi-tubi, Sean tidak memberi celah untuk Reza membalas atau melindungi wajahnya. Nafasnya yang naik-turun, tangannya yang sudah lecet serta korban yang sudah hampir kehilangan kesadaran baru bisa menghentikan Sean udah memukulinya.
"Gue peringatan sama Lo! Keyla, dia bukan milik bersama!" seru Sean penuh penekanan.
Sebelum bangkit Sean melakukan pukulan terakhir yang berhasil membuat cairan merah bertambah sedikit di ujung bibir Reza.
Sean meninggalkan Reza yang masih terkapar, langin sore menjadi satu-satunya penglihatan yang tertangkap oleh matanya, entah halusinasi atau apa tapi kini Reza tertawa. Dia menertawakan keadaan sendiri.
"Gue gak bakal biarin Lo sendirian di atas sana," gumam Reza kedua tangannya mengepal kuat.
27
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Sky (On Going)
RomanceNggak follow nggak papa asal vote sama komen jalan, ya ???? Suka lanjut, kalo nggak suka lanjutin aja???? canda ... boleh pindah lapak kok???? Our Sky Diatas langit masih ada langit dan dibawah langit masih ada langit juga! Itu artinya kita di teng...
