(Our Sky) 11. Kesenangan War!

104 25 3
                                        

Vote dan komentar nya, ya🙂
Maaf kalo ada typo🙂
S

elamat membaca

Sudah seminggu Keyla mengajar Sean dan sudah seminggu pula Keyla selalu bergelut dengan laptopnya kala jam kosong dikelasnya itu.

"Key, keluarga Lo bangkrut, ya?" tanya Mita yang duduk di meja sambil memperhatikan Keyla prihatin.

"Nggak, kenapa emangnya?" ujar Keyla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

"Udah satu minggu ini mainan Lo laptop mulu. Segitu pengennya masuk universitas pake beasiswa?"

Keyla menghelai napas dan menghentikan gerakan jemarinya yang tengah menari diatas laptop itu. Keyla menatap sendu pada Mita. Keyla belum mengucapkan apapun dan Mita sudah kembali berkecoh.

"Tuh kan tatapan, Lo ... "

"Kenapa tatapan aku?"

"Serius deh, bokap Lo kan orang kaya nyokap Lo juga meski diem dirumah juga punya butik yang terkenal di kota ini. Masa dalam semalam semuanya lenyap!" seru Mita tak tahan melihat sahabatnya itu.

"Aduh Mita! Aku main laptop itu bukan karena belajar yang giat buat dapat beasiswa, toh aku udah pinter dan beasiswa pasti aku dapat," ujar Keyla.

"Ya terus ngapain Lo terus-terusan gelut sama toh soal-soal," ujar Mita yang melihat soal-soal yang terpampang jelas di layar laptop Keyla.

"Kamu inget, kan waktu aku bilang aku udah punya pekerjaan baru. Nah ini pekerjaan aku sekarang!" seru Keyla merentangkan kedua telapak tangannya dihadapan laptop itu.

"Eh, Key! Kok Lo nggak bilang-bilang sih kalo Lo jual soal-soal ini! Kalo gue tau kan gue juga mau beli," ujar Mita yang langsung duduk di kursinya.

"Bagi gue ya, gue bayar deh berapapun," pinta Mita dengan memelas.

"Ih Mita! Aku nggak bikin contekan buat dijual! Pekerjaan yang aku maksud itu, aku jadi tutor seseorang dan bayarannya lumayan jadi aku ambil aja pekerjaan ini, gitu!" jelas Keyla.

Mita kini manggut-manggut mengerti dan tak bertanya lebih lagi. Mita beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Keyla.

"Mau kemana?" tanya Keyla.

"Kafetaria! Laper!" seru Mita tanpa berbalik.

"Yaudah, aku titip susu kotak coklat sama roti selai durian," ujar Keyla dan mendapatkan jawaban 'Ok' dari Mita.

Keyla kembali melanjutkan tarian jemarinya diatas laptopnya dia terlihat geram mengingat soal-soal yang dia tulis kini adalah soal UAS kelas 10.

"Coba aja kalo kamu pinter dikit! Gak bakalan kejauhan aku ngajar nya!" seru Keyla bergumam.

***

Keyla sudah berada didalam apartemen Sean, tapi dia tidak melihat tanda-tanda ada manusia lain selain dirinya. Keyla tidak tahu jika hari ini Sean sudah memiliki janji untuk war dengan SMA Nusa Bangsa.

"Woy! Mana bos Lo!" seru salah satu murid SMA Nusa Bangsa.

"Ngapain Lo tanya-tanya! Kagak usah takut, hari ini biar kita-kita aja yang lawan lu-lu pada!" seru Bagas.

"Oh iya! gue lupa! Bos lu itu kan abis ngebunuh pimpinan kita, gara-gara takut kalah kan! Makanya dia gak muncul sekarang!" Ledek murid SMA Nusa Bangsa.

"Jangan banyak bacot, Lo! Kalo mau war, war aja kagak usah ngebacot ngasal!"

Sean memonitor kedua kubu yang tengah berhadapan itu, untuk hari ini SMA Aranda hanya mengerahkan 25 siswa dan SMA Nusa Bangsa dua kali lipat dari mereka. SMA Aranda tidak gentar akan lawannya itu, toh mereka yakin jika war kali ini pasti mereka ungguli lagi.

Tanpa diduga Sean berjalan kearah mereka dan berdiri paling depan diantara anak SMA Aranda. Mereka terkejut dengan kedatangan Sean, bukankah mereka telah sepakat jika Sean tidak akan turun pada war kali ini?

"Lo kangen sama bogeman gue ya, yaudah ayo langsung aja jangan banyak bacot!" seru Sean.

Sean menghisap dalam rokok yang sedari tadi menemaninya itu dan menyemburkan asapnya lalu membuat rokok itu dan

Brum!!

War pun dimulai! Alat-alat yang dibawa para murid itu kini sudah melayang mencari sasaran guna menambah kegesitannya. Gir, rantai ataupun cerulit yang mereka bawa kini telah licin dengan cairan merah dari tubuh sehat para pemuda itu.

War sudah berlangsung selama setengah jam, namun pelerai belum kunjung datang, hingga membuat bertambahnya pemuda yang tumbang. Sean masih mulus tanpa luka sedikitpun, hanya bajunya saja yang terciprat darah dari sang lawan.

Kini SMA Aranda menyisakan 10 siswa yang masih berdiri meski dengan beberapa luka yang berhasil membuat darah lolos untuk mengalir, disisi lain SMA Nusa Bangsa hanya tersisa 5 siswa lagi itupun saling bertopang.

"Udah!" seru Sean.

Teman-temannya yang tengah bertarung menghentikan gerakannya dan berjalan mundur setelah mendengar instruksi dari Sean.

"Mendingan Lo cabut! Bawa semua pecundang ini ke rumah sakit. Kalo udah sembuh baru kita war lagi!" seru Sean pada pimpinan SMA Nusa Bangsa.

Mereka bubar dengan saling membantu menopang teman-temannya yang sudah tak sanggup berdiri. Suara sirene polisi mulai terdengar, tapi sayang tempat itu kini hanya terdapat noda darah yang berceceran tanpa pemiliknya. Sungguh mereka sangat telat!

Sean pulang ke apartemennya dengan pakaian yang ditutupi jaket hitam miliknya. Keadaan di dalam apartemen sunyi senyap, ia berjalan ke kamarnya dan terkejut mendapati Keyla yang tengah tidur meringkuk diatas kasurnya itu.

Sean melirik jam dinding, sudah pukul setengah enam sore dan Keyla masih berada di apartemennya masih menggunakan seragam pula. Bukan apa-apa, hanya saja rok seragam sekolah Aranda itu pendek!

Sean yang tersadar dari ketertegungan nya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, selang 20 menit Sean sudah keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya itu. Keyla masih setia dengan kasurnya, ia tertidur lelap.

Setelah Sean memakai pakaian, kaos pendek hitam dan celana kolor, ia memangku Keyla membantunya untuk membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya yang membuat Keyla semakin terlelap.

Sean mengambil almamater Keyla yang berserakan dilantai bersamaan dengan ranselnya, menaruhnya di sofa dan ia ikut tidur di ranjang yang sama dengan Keyla.

Sean yang tadinya terlentang kini memiringkan tubuhnya, saat merasakan pergerakan posisi dari Keyla, sehingga membuat mereka saling berhadapan. Sean menyelipkan rambut yang menghalangi wajah manis Keyla saat tertidur dan tersenyum.

"Manis! Tunggu aku Sarjana, kita nikah!" seru Sean mengecup kening Keyla, tanpa diduga Keyla malah menyusupkan kepalanya pada dada bidang Sean, seolah mencari kenyamanan dan kehangatan dikala senja mengintip dari balik tirai itu.

Suara telepon berdering panggilan masuk ke ponsel yang tersimpan di meja kecil dekat ranjang disebelah Keyla. Keyla yang kini sudah tidur di lengan Sean tanpa pelukan, meraih ponsel itu dan menjawab panggilan tanpa melihat siapa penelpon dan milik siapa ponsel itu.

"Dasar anak nakal! Kapan kamu akan pulang hah!"

"Ayah? Kenapa suara ayah berbeda?" tanya Keyla yang masih belum tersadar sepenuhnya.

"Sean? Ini dengan Sean Maravilloso?"

"Itu ponsel gue!" seru Sean mengambil alih ponselnya.

"Ah ponsel kamu," gumam Keyla yang hendak kembali tidur namun jadi terjaga sepenuhnya, "Ponsel kamu!?"

"Aku tidak akan pulang!" seru Sean pada penelpon itu dan menutup panggilan.

Keyla yang kini terduduk masih mengamati sekitar, mencoba memastikan jika dia sedang berada di kamarnya atau bukan. Sean ikutan bangun dan memperhatikan Keyla yang sedang melihat-lihat.

"Kenapa aku ada disini!?" seru Keyla dan kemudian ia berteriak sangat keras kala melihat Sean tidak menggunakan baju, sehingga memperlihatkan perut sixpack serta otot bisep yang dimilikinya.

"Ah, berisik!" seru Sean kembali berbaring sambil menarik Keyla kembali dalam pelukannya.

'Tak bisa berhenti berdetak kencang bila dengan mu. kadang aku takut kadang aku senang. Perasaan seperti ini yang aku inginkan selalu.'

Our Sky (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang