Chapter 17: Perjanjian abadi.
Tiba-tiba kesiur angin kecil datang di hadapan Elle. Setelah angin hitam itu hilang, muncullah sosok yang dipanggil Elle.
"Malam, tuan Elle." Sapa lucifer itu dengan mengejek.
"Wah-wah, sudah berapa lama kita tidak bertemu secara langsung?" Lucifer itu memainkan ekor panjang dan mengerikannya itu.
"To the point." Elle memotong.
"Perjanjian kita adalah kamu menjaga putriku dan sekarang lihatlah, dia tengah terbaring di rumah sakit karena kecerobohanmu." Elle berkata datar.
Lucifer yang tengah meminum entah apa itu di gelas mewahnya, tersedak seketika.
"WHAT?"
"My Queen..." Lirih Lucifer itu.
"No, dia tidak akan pernah menjadi ratumu. Ingat itu." Ancam Elle.
"But dia semakin peduli kepadaku, Elle."
"Dia selalu tahu kapan aku mengikutinya bukan?"
"Seperti insiden berdiri bersama di tengah terik matahari tadi, guru manusia bodoh itu tidak tahu sedang menghukum siapa." Lucifer itu berkata tegas.
"Langsung ke inti saja, Aurora hidupnya tidak akan lama. Dan aku mau melakukan perjanjian yang lebih berat." Yakin Elle.
Lucifer yang hendak meminum minumannya itu terhenti, tidak percaya dengan perkataan manusia gilanya itu.
"Canda yang bagus, kawan."
"Aku serius."
"Aku ingin kau memberikan kehidupan abadi kepada Aurora, tuan Askarell." Tegas Elle.
Askarell? Iya, Askarell Hellvano. Jadi selama ini Aska bukanlah manusia semata yang mengincar Aurora. Dirinya itu pangeran dari bangsa Lucifer. Dan sayangya dirinya tidak bisa mengambil tahta sebagai raja jika belum menemukan ratunya. Tapi bukan semata Aska mengincar Aurora karena tahta, namun memang terselip sebuah perasaan di hati Aska yang kelam itu.
Aska yang sedang meminum minuman berwarna merahnya itu, tersembur seketika.
"Wow! Ulangi perkataanmu, Elle. Kau tahu perjanjian itu tidak ada mudahnya." Aska memastikan. Meski dia iblis namun sudah seperti sahabat saja gaya bicaranya dengan Elle.
"Aku tahu segala konsekuensinya. Yang berarti Aurora..."
"Akan menjadi pengantinmu." Elle menghela nafas.
"Lalu? Dia akan pergi ke Neraka bersamaku juga kan?" Cengir Aska.
"Tidak! Dia hanya gadis lugu. Akulah yang menanggung semuanya. Dan jangan kau berani sakiti sedikitpun dirinya maupun jiwanya." Tegas Elle.
Aska tampak seperti berpikir. Sebenarnya Aska sudah memilih jawabannya. Namun Aska ini tipe iblis yang jarang serius. Elle bahkan sempat berpikir bahwa Aurora hanya akan menjadi mainan Aska saja. Namun Elle tidak ingin kehilangan putrinya itu dulu sementara waktu.
"Hmm bagaimana ya..." Aska tampak berpikir dengan wajah sok seriusnya itu.
"Aku tahu jawabanmu pasti setuju, Aska." Elle mendengus kesal.
Aska tertawa. Mau diapa lagi? Manusia dihadapannya ini tidak pernah bisa diajak bermain.
"Tapi kalo aku menolak gimana..." Aska memasang wajah sedih.
"Kan bisa saja setelah dia mati, dia pergi ke Neraka. Ke kerajaanku."
"Karena dirinya saja tidak tahu apa itu tuhan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Terakhir
Teen Fiction[FIKSI REMAJA-MISTERI] *Juga sedikit bumbu romansa remaja dan gore(ngan) ringan. Aurora dengan kehidupannya yang damai dan bahagia. Orang tua yang amat perhatian, sahabat selayaknya kakak sendiri, dan teman-temannya yang seperti keluarga. Kedata...