|Chapter 16|

2 2 4
                                    

Chapter 16: Nasib Aurora dan Curhatan Alfin.

Elle terbelalak. Kedua matanya bersusah payah menahan air mata yang akan mengalir, juga rahangnya yang memanas.  Bahkan kedua tangannya ingin sekali membunuh seseorang sekarang. Seperti dokter ini misalnya, kenapa tidak bisa memberi kabar baik saja?

Elle meninggalkan ruangan itu begitu saja. Dirinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokternya itu. Tapi Elle tidak akan menyerah semudah itu. Dia tidak akan biarkan keluarga kecil bahagianya itu terpisah sedikitpun.

"Dokter bodoh! Dunia bodoh! Bahkan tuhan kenapa harus menghukum putriku! Aku yang bersalah kenapa malah dirinya yang tidak tahu apapun dikorbankan? Semua hal ini bodoh!" Gumam Elle frustasi.

Tujuannya kini adalah ruangan Aurora dirawat. Namun Elle tidak bisa memasang wajah seperti ini. Dia tidak boleh memberi tahu kabar seburuk ini kepada Norra. Itu akan memperburuk situasi saja.

Di depan pintu dimana ruangan Aurora dirawat. Elle menghela nafas sejenak dan berusaha memasang wajah seperti diawal bersama Norra. Mana mungkin Elle datang-datang dengan wajah kesal.

Pintu ruangan dibuka. Elle menemukan istrinya yang tengah menggenggam tangan putri kecilnya itu. Elle bahkan tidak kuat melihat anaknya itu. Apalagi mendengar perkataan dokter itu. Dirinya belum siap kehilangan putrinya maupun ratunya. Tidak, bukan belum. Namun tidak akan pernah. Elle akan melakukan apapun untuk kedua perempuan penting di hidupnya itu setelah ibunya.

"Elle, kamu darimana?" Tanya Norra pelan.

"Ke toilet sebentar." Bohong Elle.

"Anak kita nanti kedepannya akan baik-baik aja kan, Elle?" Norra memastikan.

Elle menelan ludah. Dari awal bertemu Norra dirinya sudah banyak berbohong. Tapi pada akhirnya akan terbongkar satu-satu. Haruskah Elle mengatakan yang sebenarnya?

"Elle."

"Elle, jawab aku."

"Arra akan baik-baik aja kan?" Norra semakin mendesak dan mulai berpikiran negatif.

"Arra bakal baik-baik aja. Dia itu kuat seperti kamu, Norra." Elle ikut menggenggam tangan Aurora yang sedang terbaring lemas itu.

Norra menatap Elle penuh penghargaan. Lain sisi dengan Elle, dirinya hampir tidak bisa menahan semuanya.

Tiba-tiba tangan yang kedua orang tua itu genggam, bergerak perlahan. Elle refleks berdiri dan Norra menangis bahagia.

"Mamah..." Lirih Aurora dibalik infusnya itu.

"Arra kamu bangun. Mamah khawatir banget sama kamu, sayang." Norra menggenggam erat kedua tangan putrinya itu.

"Suster! Dokter!" Elle berteriak untuk mengabarkan kondisi Aurora.

Yang dipanggil datang. Mereka pun memeriksa Aurora lebih dalam. Sedangkan Norra kini berdiri di sebelah suaminya itu.

"Kamu benar, Elle. Dia memang kuat. Bahkan lebih kuat dari aku sendiri." Norra memeluk Elle dengan erat.

Elle hanya bisa membalas pelukan itu. Namun wajahnya tidak bisa berbohong. Elle menatap Aurora dengan sendu. Putrinya akan mati di usia yang bahkan beranjak dewasa saja belum.

"Tidak akan lama, Norra." Gumam pelan Elle yang hampir tidak bisa di dengar siapapun. Karena para dokter dan suster sedang sibuk memeriksa Aurora.

***

"Engga enak di rumah terus. Kangen Ra." Keluh Alfin.

"Enaknya ngapain sekarang ya?" Gumam Alfin di kamarnya itu.

Aksara TerakhirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang