‼️ PART SUDAH TIDAK LENGKAP ‼️
Pre order: 14 Mei 2022 - 28 Mei 2022
SPIN OFF "BETWEEN LOVE AND LIES"
(Dapat dibaca terpisah)
Reagan terpaksa harus menikah dengan Sesil, gadis periang yang sama sekali tak dicintainya. Bukan rasa cinta yang tumbuh, me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hal pertama yang Sesil lakukan setelah bangun dari tidurnya adalah pergi ke kamar Reagan, mengecek apakah suaminya sudah pulang atau belum. Sayangnya, saat ia membuka pintu, ruangan itu masih sama, kosong dan tak berpenghuni.
Sesil menghela napasnya. Ia memejamkan mata, berusaha menghalau rasa pusing yang tiba-tiba melanda. Sejak kemarin, Sesil memang merasa tubuhnya kurang fit. Ia merasa kepalanya pusing dan badannya lemas sekali. Sepertinya karena belakangan ini, Sesil terlalu memforsir tubuhnya untuk membuat pesanan kue yang terus berdatangan.
Karena tak menemukan Reagan, Sesil memutuskan untuk membersihkan kamar sebentar sebelum kembali membuat kue. Karena kamar Reagan masih rapi, Sesil hanya membersihkan kamarnya saja. Setelah itu, ia bergegas ke dapur, memanaskan makanan sisa kemarin untuk sarapan.
Pikiran Sesil kembali melayang pada Reagan. Apakah Reagan sudah menerima makanan yang ia buat kemarin? Apakah laki-laki itu menyukainya?
Semalam, Sesil memaksakan dirinya untuk mengantar sendiri makan malam ke kantor Reagan. Padahal, sejak semalam tubuhnya sudah tidak fit. Ia menggunakan taksi online karena tidak ada mobil sama sekali di rumah, lagi pula Sesil juga tidak bisa menyetir. Sesampainya di rumah, Sesil langsung membersihkan dirinya dan tidur.
Seusai menghabiskan sarapan, Sesil mencuci piring, lalu mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Beruntung, hari ini tidak terlalu banyak pesanan. Hanya dua brownies berukuran kecil dan tiga bolu jadul cokelat keju. Sebelum mulai, Sesil terlebih dahulu mandi dan menggunakan perlengkapan seperti masker dan mengikat rambut, untuk memastikan semua kue buatannya bersih dan higienis.
Karena Sesil tak memiliki pegawai, jadi Sesil melakukan semuanya sendiri. Untungnya, semua ter-handle dengan baik sejauh ini. Bi Lilis juga biasanya membantu mencuci peralatan yang sudah kotor.
Sesil tahu kapasitas dirinya. Karena itu, ia membatasi maksimal sepuluh pesanan setiap hari. Uang yang didapat sejauh ini pun lumayan, Sesil sudah bisa membeli oven baru yang lebih besar dari hasil penjualan kue selama dua bulan terakhir.
"Pagi, Non," sapa Bi Lilis yang baru datang. Sesil tersenyum lebar di balik maskernya. "Pagi, Bi."
Seperti biasa, Bi Lilis langsung mencuci tangan dan kaki, lalu mencuci peralatan yang baru saja digunakan Sesil. Mereka mengobrol ringan seperti biasa.
"Non agak lemes keliatannya," celetuk Bi Lilis. "Non sakit, ya?"
"Agak nggak enak badan, Bi," jawab Sesil. Ia memasukkan loyang-loyang berisi adonan ke dalam oven. "Tapi nggak papa kok," lanjutnya saat melihat raut wajah Bi Lilis yang tampak khawatir.
"Setelah ini istirahat ya, Non," ucap Bi Lilis. Sesil mengangguk mengiyakan. Ia duduk di meja makan, memijat pelipisnya yang berdenyut sembari menunggu kuenya jadi.
Sembari menunggu, Sesil menggulir laman media sosialnya. Ia melihat kembali feeds instagram online shop-nya. Senyumnya kembali terbit saat melihat banyak feedback positif dari para pembeli.