‼️ PART SUDAH TIDAK LENGKAP ‼️
Pre order: 14 Mei 2022 - 28 Mei 2022
SPIN OFF "BETWEEN LOVE AND LIES"
(Dapat dibaca terpisah)
Reagan terpaksa harus menikah dengan Sesil, gadis periang yang sama sekali tak dicintainya. Bukan rasa cinta yang tumbuh, me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Reagan, nggakmausarapan dulu?"
"Sibuk," jawab Reagan. Laki-laki itu langsung melangkah keluar rumah, dan Sesil mengikutinya.
"Hati-hati, ya. Jangan lupa sarapan di kantor, vitaminnya diminum. Jangan lupa makan siang juga," ucap Sesil mengingatkan. Reagan tak menggubris, ia langsung masuk ke dalam mobil, dan tak butuh waktu lama, mobil itu sudah hilang di tikungan.
Sesil menatap kepergian Reagan dengan senyum. Sudah satu bulan Reagan selalu pulang ke rumah setiap malam, meski terkadang tengah malam baru pulang. Bukan hanya itu saja, Reagan juga sesekali membalas pertanyaan atau ucapannya, seperti tadi. Suaminya itu seolah terhantam batu dan sadar bahwa Sesil bukanlah hantu selama ini.
Sesil mulai mengira-ngira apa yang sekiranya membuat Reagan sedikit berubah. Apa karena make up tipis yang selalu Sesil aplikasikan di wajahnya setiap hari? Ataukah ada hal lain? Apakah Reagan sudah sadar akan kesalahannya?
Sesil tersenyum lagi. Baru diperlakukan kecil saja, Sesil rasanya sudah senang sekali. Ia merasa dihargai.
Mengingat hal itu, jantung Sesil berdebar begitu kencang. Sudah lama sekali ia tidak merasa sesenang ini.
Semoga Reagan akan terus seperti ini, hingga akhirnya laki-laki itu mulai bisa membalas perasaan Sesil.
***
"Hai," sapa Sarah begitu masuk ke dalam mobil Reagan. Laki-laki itu tersenyum tipis saat melihat Sarah. Keduanya pun berpelukan, seperti biasa. Sudah menjadi ritual bagi mereka untuk saling memeluk setiap bertemu.
"Udah siap?" Sarah mengangguk. Lalu, Reagan pun mulai menjalankan mobilnya.
"Sarapan bubur mau?" tawar Reagan. "Boleh," jawab Sarah. Reagan pun kembali fokus menatap jalanan, menyetir dengan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain, ia gunakan untuk menggenggam tangan Sarah.
Hubungan keduanya memang semakin berkembang. Reagan semakin gencar mendekati Sarah, dan gadis itu tampak tak keberatan. Sudah hampir satu bulan mereka menjalin hubungan tanpa status. Mereka memanfaatkan waktu luang yang ada dengan sangat baik untuk mengenal lebih jauh tentang satu sama lain.
Mobil Reagan sampai di penjual bubur yang tak jauh dari apartemen Sarah. Keduanya turun, lalu duduk di salah satu meja kosong.
"Lengkap?" tanya Reagan. Sarah mengangguk mengiyakan.
"Pak, buburnya dua. Satu komplit, satu tanpa kacang. Minta kerupuknya dipisah ya Pak. Minumnya air mineral satu, kamu?" Reagan kembali bertanya pada Sarah.
"Samain aja."
"Mineralnya dua, Pak. Biasa semua, ya." Setelah memesan, Reagan pun duduk berhadapan dengan Sarah. Tak lama, bubur pesanan mereka pun jadi.
"Nggak difoto dulu?" tanya Reagan. Sarah mengerutkan kening. "Untuk?"
Reagan mengedikkan bahu. "Nggak tau. Cewek-cewek kan suka begitu," ujarnya mengingat bagaimana Bianca dan Nela hobi sekali memotret makanan mereka saat kumpul-kumpul.
Sarah tertawa. "Aku nggak suka foto makanan, lebih suka pemandangan," jawabnya santai.
"Pemandangan?"
"Iya. Gunung, pantai, laut. Gitu-gitu. Aku suka alam," jawab Sarah. "Kalo kamu?"
"Biasa aja," jawab Reagan jujur. "Tapi kalo kamu mau ke pantai, aku temenin."
"Bali?" tanya Sarah.
"Kalo kamu mau, ayo aja," jawab Reagan. "Nanti aku arrange jadwal aku, untuk sekalian mantau resort di sana."
"Wah, boleh. Ntar kalo udah nggak sibuk, nggak papa?" Sarah tampak begitu antusias, sampai-sampai gadis itu tidak sadar kalau wajahnya belepotan. Reagan segera mengusap sudut bibir Sarah yang terkena bubur.
"Makan yang rapi," ucap Reagan lembut. "Terserah kamu maunya kapan. Kasih tau aku dua minggu sebelumnya, ya."
Sarah mengangguk. "Oke!"
***
Seusai mengantar Sarah ke cafe, Reagan pun segera ke kantor Raihan karena ada rapat yang harus ia hadiri. Nuel sudah sampai lebih dulu, dan menunggu Reagan di depan. Begitu keduanya sampai di lantai tempat ruang rapat berada, mereka langsung disambut oleh sekretaris Raihan.
"Silahkan, Bapak. Pak Raihan sudah menunggu di dalam." Reagan mengangguk, lalu berjalan mengikuti sekretaris ayahnya menuju ruang rapat dengan Nuel yang setia mengekorinya.
Rapat pun berlangsung dengan lancar. Semua peserta rapat pun satu per satu mulai meninggalkan ruangan, menyisakan Raihan, Reagan, dan sekretaris masing-masing.
"Tolong tinggalkan kami berdua," titah Raihan. Reagan duduk di kursi paling depan, dekat kursi ayahnya.
"Kenapa, Pa?" tanya Reagan.
"Udah nggak pernah nginep di kantor lagi, kan?"
Reagan mendengus malas. Ayahnya pernah membahas ini sebelumnya. Tentu saja Raihan tahu dari Maheswara, membuat Reagan harus berurusan dengan kedua orang tuanya. Tak hanya Raihan, ia juga harus berurusan dengan Meghan yang cukup cerewet saat berhubungan dengan pernikahan anaknya. Reagan sampai diomeli habis-habisan oleh Meghan waktu itu.
"Nggak, Pa."
Raihan mengangguk. "Kakek memang seperti itu, wataknya keras. Apa yang ia inginkan, harus terwujud. Dulu, Mama dan Papa pun juga sama, dijodohkan. Tapi, kami sekarang berakhir baik-baik saja, dan malah semakin lengket sekarang."
Reagan hanya diam, menyimak. Meski tak ada satu pun ucapan sang ayah yang masuk ke otaknya. Ia hanya melakukan itu guna menghormati sang ayah.
"Dulu di awal pernikahan, kami sering bertengkar. Karena nggak ada cinta di dalamnya. Sampai akhirnya kakak kamu Mikhayla lahir. Mama sama Papa mulai mencoba berdamai dengan keadaan. Kami mencoba untuk saling peduli satu sama lain, dan akhirnya perasaan itu mulai tumbuh. Semakin lama, semakin besar. Bahkan sampai sekarang pun, rasanya perasaan di antara kami masih belum berhenti berkembang."
Reagan masih diam.
"Papa tahu, sampai sekarang kamu masih belum bisa menerima pernikahan ini. Umur kamu masih muda, masih dua puluh dua. Sesil pun sama, dia masih dua puluh. Tapi cobalah untuk berpikir dewasa dan menghargai dia, Reagan. Bagaimana pun, Sesil itu istri kamu. Orang tua Sesil membesarkannya susah payah bukan untuk kamu abaikan keberadaannya."
Reagan mengusap wajahnya kasar. "Iya, Pa."
Raihan mengangguk. "Nggak hanya kamu yang berkorban di sini. Sesil pun sama. Dia bahkan nggak kuliah supaya bisa menikah dengan kamu, lho. Semua itu nggak gampang. Sesil merelakan masa remajanya untuk jadi istri yang baik buat kamu. Berbeda dengan kamu, yang masih bisa menyelesaikan pendidikan S1 kamu di Amerika."
Ia menepuk pundak Reagan dua kali, seolah menyuntikkan semangat untuk sang putra. "Cobalah membuka hati untuk Sesil. Papa takut kamu menyesal nantinya kalau sampai terlambat. Oke?"