BHS | 28

46.8K 4.6K 1.2K
                                        

Sesil baru pulang ke rumah keesokan paginya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesil baru pulang ke rumah keesokan paginya. Semalam, gadis itu memutuskan untuk menginap di rumah lamanya, menemani Arumi yang syukurnya baik-baik saja— setidaknya begitu kata dokter.

Hal pertama yang Sesil dapatkan begitu ia memasuki ruang tamu adalah tatapan tajam nan penuh intimidasi dari Reagan.

"Dari mana lo?" tanyanya sinis. "Semaleman nggak pulang. Lupa rumah?"

Kening Sesil berkerut. "Apa peduli kamu?"

Reagan berdecih. "Lo istri gue. Lupa kalo punya suami?"

"Aku yang harusnya tanya sama kamu, Reagan." Sesil menatap Reagan tajam. "Lupa kalo punya istri?"

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Sesil, membuat gadis itu terhuyung. Tubuhnya yang lemah karena tak bisa tidur tenang semalam membuat Sesil hampir saja jatuh.

"Lo mulai berani ngelawan gue, ya," desis Reagan seraya mencengkram dagu Sesil kuat. Gadis itu— entah mengapa, kali ini tak ingin kalah. Ia membalas tatapan Reagan seolah mengisyaratkan bahwa dirinya sama sekali tidak takut.

"Aku cuma bicara fa—ssh." Sesil meringis saat cengkraman Reagan semakin menguat. Gadis itu berusaha melepaskan tangan Reagan dari dagunya, namun tak bisa.

Karena terlalu sakit, Sesil tak bisa lagi menahan air matanya. Melihat itu, Reagan menyeringai puas. Ia menghempaskan Sesil begitu saja, lalu berdecih.

"Lo nggak akan menang ngelawan gue."

Sesil hanya menatap Reagan tajam, lalu pandangannya beralih pada sebuah koper besar di sebelah laki-laki itu. Reagan mengikuti arah pandang Sesil.

"Gue mau ke Bali sama Sarah," tuturnya, membuat Sesil kembali menatapnya. Entah mengapa, gadis itu cukup terkejut.

"Lo tau apa yang harus lo lakuin," tutur Reagan. Sesil hanya diam, sekali lagi hatinya seperti diremas oleh ribuan tangan tak kasat mata. Ia berusaha untuk tidak peduli, tetapi Sesil tidak bisa.

Biar bagaimanapun juga, Reagan punya tempat di hati Sesil.

Setelah beberapa saat terdiam, Sesil menatap Reagan dengan senyum manisnya. "Silahkan. Selamat bersenang-senang, Reagan," ucapnya, lalu berlalu menuju kamar.

Kali ini, Reagan tak menjawab. Laki-laki itu merasa aneh saat melihat Sesil yang tampak biasa saja. Entah mengapa, ia berharap Sesil menunjukkan sedikit rasa cemburu atau terluka. Ia merasa sangat tidak puas dengan reaksi Sesil tadi.

Reagan menggelengkan kepalanya pelan. Laki-laki itu mengambil ponselnya yang berbunyi nyaring, dan saat itu juga senyumnya terbit saat melihat nama Sarah di sana.

"Halo, Sayang. Aku jemput sekarang, ya."

***

Kepergian Reagan dan Sarah Sesil manfaatkan untuk mengunjungi Arumi setiap hari, dari siang hingga malam. Arumi masih tak menunjukkan adanya tanda-tanda kesembuhan, seluruh tubuhnya masih kaku dan tak bisa digerakkan.

BEHIND HER SMILE ✓ [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang