BHS | 33

59.7K 6.1K 2K
                                        

"Non, Ibu kritis lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Non, Ibu kritis lagi."

Dunia Sesil seperti diputarbalikkan begitu saja hanya dengan sebuah kalimat. Pandangan gadis itu berubah kosong, air mata yang awalnya bersembunyi tiba-tiba berlomba-lomba untuk jatuh.

BRAK!

Ponsel Sesil jatuh begitu saja dari genggamannya. Lalu, saat kesadarannya kembali, gadis itu segera memungut ponselnya kembali, mengambil dompet, lalu memesan taksi online meski tangannya gemetar.

"Ma, Mama bertahan, ya," gumam Sesil pada dirinya sendiri. Air mata gadis itu terus berjatuhan. Gadis itu belari keluar dari rumah saat taksi online yang dipesannya tiba. Ia bahkan mengabaikan tatapan bingung Reagan yang baru saja keluar dari kamar.

Sepanjang perjalanan, Sesil tak bisa berhenti menangis, hingga membuat sang supir khawatir. "Tisu, Mbak," tawarnya. Sesil mengambil beberapa lembar, lalu mengucapkan terima kasih.

Begitu sampai di rumah sakit, Sesil langsung berlari menuju ruangan tempat sang ibu berada. Gadis itu langsung memeluk Bi Sukma, menumpahkan semua kekhawatiran dan ketakutannya di sana. Bi Sukma pun merasakan hal yang sama seperti Sesil.

"Bi, Mama nggak papa, kan?" tanya Sesil di sela-sela tangisnya.

"Kita berdoa saja untuk Ibu, ya, Non. Semoga dokter keluar dengan kabar baik," tutur wanita paruh baya itu. Sesil mengangguk, lalu keduanya duduk di kursi tunggu dan memanjatkan doa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Sesil pernah mengalami kegelisahaan yang sama, lima tahun yang lalu. Saat Arumi sedang dalam kondisi kritis karena kecelakaan yang dialaminya. Meski tak begitu baik, setidaknya Arumi selamat. Dan kali ini, Sesil berharap, sang ibu akan mendapatkan keberuntungan yang sama.

Sudah setengah jam menunggu, dokter masih belum juga keluar. Sesil tak bisa berhenti menggerakkan kakinya gelisah sembari menggigiti kuku. Dalam hatinya, Sesil terus merapalkan doa untuk Arumi yang sedang berjuang untuk tetap hidup.

Sesil benar-benar tidak siap melepas ibunya pergi sekarang. Katakan saja Sesil egois, Sesil tidak peduli. Gadis itu masih membutuhkan ibunya, ia masih ingin melihat ibunya sembuh dan kembali seperti dulu. Sesil rindu menceritakan hari-harinya dan mendengar nasihat dari Arumi yang tak pernah gagal menjadikan Sesil pribadi yang lebih baik.

Sebenarnya, sejak tiga hari yang lalu dokter sudah menyatakan bahwa mereka angkat tangan. Kondisi Arumi sudah terlalu parah, dan sukar untuk diobati. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu keajaiban, dan Sesil benar-benar melakukannya. Gadis itu menunggu dengan sabar dan penuh harap.

"Non, apa pun hasilnya, kita harus tetap ikhlas, ya," tutur Bi Sukma.

Sesil menggelengkan kepalanya cepat. "Mama pasti selamat, Bi. Sesil nggak mau ditinggal Mama sekarang. Sesil nggak siap."

"Non." Bi Sukma menarik Sesil ke dalam pelukannya, lalu ia kembali menangis. "Mungkin, melepas Ibu adalah jalan yang terbaik. Kita memang berharap Ibu bisa sembuh, tapi kalau Tuhan sudah berkehendak lain, kita bisa apa?"

BEHIND HER SMILE ✓ [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang