BHS | 16

38.1K 3.6K 868
                                        

"Makasih ya, Pak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makasih ya, Pak. Kembaliannya ambil aja."

"Serius, Neng? Banyak banget kembaliannya." Supir taksi online yang mengantar Sesil menatap gadis itu tak percaya.

"Iya, Pak. Rezeki buat Bapak. Semoga berkah, ya," balas Sesil. Setelah itu, ia langsung turun, dan masuk ke dalam restoran tempat teman-temannya berkumpul.

"Sil!"

Suara Amanda yang menggelegar membuat semua mata langsung tertuju pada Sesil. Sejak dulu, Amanda tidak pernah berubah. Selalu berisik dan suka berteriak. Meski begitu, banyak sekali yang mau berteman dengan gadis itu, mengingat Amanda sangat supel dan ramah pada semua orang.

"Akhirnya, Bu Maheswara muncul juga."

"Kiwkiw, calon mahmud!"

"Gila, lo nggak berubah ya, Sil. Tetep cantik!"

"Sil! Kangen banget gue!"

Sesil terkekeh mendengar celetukan teman-temannya. Ia hanya menanggapi seadanya, karena tak tahu harus menjawab apa. Gadis itu pun duduk di kursi kosong di sebelah Amanda.

"Izin dari mas suami akhirnya keluar ya, Sis." Amanda tertawa, begitu juga Sesil.

"Apaan sih lo."

"Gimana rasanya nikah muda, Sil? Asyik, nggak? Asyik lah ya, suami lo ganteng gitu. Kalo buka pendaftaran buat jadi bini kedua, gue siap!" Poppy— teman Sesil yang lain, menyahut.

"Aish. Mana mau dia, Pop. Bininya udah semlehoy begini!" Fahmi menyahuti. "Nanti kalo lo udah cerai, bilang gue, Sil. Gue siap kok."

"Sama ae lo tompel botak!" Amanda menutuk kedua temannya dengan ujung sendok. "Udah lah, ayo pesen pesen! Gue sama Sonya udah pesen makanannya, tinggal pesen minum aja."

Sesil menghela napas lega. Ia merasa tidak nyaman, dan Amanda sangat peka.

Saat mereka sedang sibuk memesan minuman, tiba-tiba pintu restoran kembali terbuka. Semua mata langsung tertuju ke arah pintu, karena siang itu, restoran memang sudah dipesan khusus untuk mereka.

Sesil pun ikut menoleh. Untuk beberapa saat, mata Sesil seolah terkunci oleh pemilik netra hitam yang juga ikut menatapnya.

"Thomas!"

***

Hal pertama yang Reagan temukan saat ia terbangun adalah, sebuah notes kecil yang tertempel di lemari nakasnya. Laki-laki itu mengambilnya, lalu membacanya cepat meski kesadarannya belum terkumpul sempurna.

Reagan, aku pergi dulu, ya. Nggak lama kok, ntar aku izin pulang cepet aja.
Makan siang udah aku siapin, nanti bisa minta tolong Bibi untuk manasin.
Jangan lupa makan, ya. Maaf nggak bisa pamit langsung, kamu semalem begadang. Aku nggak tega banguninnya.

BEHIND HER SMILE ✓ [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang