‼️ PART SUDAH TIDAK LENGKAP ‼️
Pre order: 14 Mei 2022 - 28 Mei 2022
SPIN OFF "BETWEEN LOVE AND LIES"
(Dapat dibaca terpisah)
Reagan terpaksa harus menikah dengan Sesil, gadis periang yang sama sekali tak dicintainya. Bukan rasa cinta yang tumbuh, me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil yang dikendarai Reagan tiba di sebuah pelataran rumah mewah milik keluarga Adiputra. Begitu sampai di pintu utama, dua orang pelayan membantu membukakan pintu untuk Sesil dan Reagan, lalu menunduk hormat.
"Selamat malam, Den, Non," sapa seorang asisten rumah tangga yang biasa dipanggil Bi Sumi. Wanita paruh baya itu merupakan kepala pelayan di kediaman Adiputra. Ia sudah bekerja selama puluhan tahun, mendedikasikan hampir seluruh hidupnya bekerja untuk keluarga kaya raya itu.
Keluarga Adiputra dan keluarga Maheswara, merupakan pemilik kerajaan bisnis di bidang yang sama, yaitu properti. Keluarga Maheswara sedikit lebih kaya dibanding keluarga Adiputra, namun kehidupan keluarga Adiputra jauh lebih glamor. Mereka sangat hobi berfoya-foya, menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
"Malam, Bi. Papa Mama ada?" tanya Sesil ramah. "Ada, Non. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan. Mari, saya antar."
Sesil melirik Reagan sekilas. Laki-laki itu masih setia dengan wajah datarnya.
"Ayo, Reagan," ajak Sesil. Mereka berdua pun mengikuti langkah Bi Sumi menuju ruang makan.
Kediaman keluarga Sesil benar-benar luas dan mewah. Guci-guci mahal dipajang hampir di setiap sudut rumah. Beberapa benda seperti pigura dan vas bunga pun banyak yang mengandung emas murni. Ukiran-ukiran di setiap pilar, semua juga mengandung emas murni. Lukisan-lukisan karya pelukis ternama dunia yang didapat dari hasil pelelangan terlihat di setiap lantai.
"Malam, Pa, Malam, Ma," sapa Sesil lebih dulu. Semua orang langsung menoleh. Andhika dan Soraya— orang tua Sesil, langsung menyambut dengan senyum hangat.
"Ini yang ditunggu-tunggu," ujar Soraya. Wanita lima puluh tahunan itu tampak senang saat melihat Reagan dan Sesil tiba.
"Malam Pa, Ma," sapa Reagan. Meski enggan, ia tetap berusaha terlihat sopan, dengan menyunggingkan seulas senyuman tipis. Bagaimana pun, kedua orang itu adalah mertuanya sekarang. Lagipula, Reagan juga sedang tidak ingin bermain-main dengan kakeknya.
"Duduk," pinta Andhika. Terdengar hangat, namun tegas.
Sesil dan Reagan pun menarik kursi masing-masing, lalu duduk bersebelahan, di sisi kanan Andhika. Reagan duduk berhadapan dengan Soraya, sedangkan Sesil berhadapan dengan Calvin, kakaknya. Di sebelah Calvin, ada Kelvin, adik Sesil. Laki-laki yang masih berusia delapan belas tahun itu menyapa Sesil dengan senyuman sambil menaik turunkan alisnya.
Makan malam berlangsung tanpa ada satupun yang bersuara, karena Andhika tak suka ada percakapan saat makan.
Setelah selesai makan malam, Andhika menyuruh Calvin dan Reagan untuk mengikutinya. Sudah bisa dipastikan mereka akan membahas bisnis. Sedangkan Soraya, pergi untuk menerima telepon dari salah satu teman arisannya.
"Kak, ke taman belakang, yuk," ajak Kelvin. Sesil mengangguk, mengikuti langkah sang adik menuju taman belakang. Keduanya duduk di kursi kayu yang menghadap langsung ke kolam ikan.