Alia menggosok-gosok matanya saat merasakan sinar matahari masuk melalui jendela kayu yang terbuka lebar. Tidak ada estetika-nya sama sekali. Kapan saja ayam tetangga akan melompat ke jendela dan berkokok di wajah Alia.
"Hoam ... apa Reid sudah pergi berburu?" Alia menggaruk rambutnya yang berantakan makin berantakan. Gadis itu beralih menggaruk pantat dan pipinya. Dia melongokkan kepalanya keluar dari jendela, dan dapat melihat ibu tirinya sedang berjemur sinar matahari pagi.
"Hei, kau ibu tiri, sedang apa kau di sana. Tumben rajin," ujar Alia memaksa matanya terbuka.
Wanita tua itu melotot padanya. Makin hari tingkah Bawang Putih tidak ada anggun-anggunnya. Dia jadi beranggapan bahwa Alia benar-benar sudah gila hanya karena disiram, seperti laporan dari Bawang Merah.
"Aku sedang menyehatkan kulitku, anakku." Ibu tiri membalas sarkas. Wanita itu memasang wajah songong. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dirinya berjemur di bawah matahari karena laporan Reid yang mengatakan Alia sering memanasi kulitnya pada sinar matahari pagi. Dia menyimpulkan rahasia kulit cantik milik Alia adalah dengan cara berjemur pagi.
Alia mengangguk sambil memberikan jempol. "Bagus, bagus. Sinar pagi memang bagus, ibuku."
Ibu tiri menatapnya tidak mengerti. Dia mendirikan jari jempolnya seperti Alia meski tidak tahu artinya. "Y-ya tentu saja."
"Wanita tua gila, apa kau kemarin menemukan pasangan kencan yang bagus? Aku juga ingin kencan rasanya," tanya Alia terus terang. Hanya ibu tiri kasar itu satu-satunya perempuan di rumah ini. Dia tidak bisa menanyakan perihal segala dunia wanita pada Reid.
Alia menggaruk kepalanya lagi. Ah, kenapa rasanya gatal sekali? Padahal Alia tidak punya kutu. "Kenapa kau menatapku dengan wajah melongo itu?"
Ibu tiri mengacungkan tiga jarinya. "Aku berhasil kencan dengan 3 pria. Namun tidak ada yang kaya raya. Disayangkan sekali, padahal tampang mereka lumayan."
Tunggu, kenapa dia berbagi cerita dengan anak tirinya ini?! Wanita itu ingin menampar otaknya jika bisa.
Alia yang masih mengumpulkan jiwa berusaha berpikir. "Iya, pria tanpa uang itu tidak lengkap. Lain kali cari lah di dekat ibu kota Kerajaan. Biasanya ada duda baru tiap harinya di sana. Tentu saja mereka penuh kekayaan."
Wanita itu menoleh pada Alia dengan tatapan sungguh-sungguh. "Benarkah? Aku belum pernah mencarinya di sana. Bagaimana kau tahu?"
Mereka berdua membicarakan pria seakan seperti ingin membeli kue di pasar.
Alia menutup matanya merasakan sinar matahari naik sampai ke wajahnya. "Hanya menebak, tapi coba saja. Setidaknya aku punya ayah tiri yang kaya raya jika tidak bisa kembali."
Ibu tiri itu tidak paham, tapi dia mencatat baik-baik saran anak tirinya yang satu itu.
"Apa yang kalian bicarakan sampai seserius itu?"
Entah dari mana Reid datang mengintrupsi pembicaraan mereka. Dibelakang tubuhnya tergantung karung lumayan besar.
"Tidak ada. Apa yang kau bawa, sayang?" tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau dianggap berbaikan dengan Bawang Putih.
"Oh. Aku membawa rusa buruanku. Bawang Putih bisa memasaknya 'kan?" tanya Reid pada Alia. Tumben sekali anak itu menanyainya.
Alia mengangguk. "Karena aku kasihan pada kalian, aku akan memasaknya."
Reid menampilkan ekspresi akan menendangnya. "Ck. Kata-katamu benar-benar membuatku kesal."
"Ku tidak peduli~! Bawa saja rusanya ke halaman belakang. Jangan lupa dipotong dengan benar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
