Rimba berlari di tengah hutan sambil terbatuk berat akibat sihir teleportasi yang ia gunakan. Sebenarnya tubuh gadis itu bisa terbilang kuat, namun entah kenapa sihir itu tidak pernah bersahabat dengan fisiknya. Gadis dengan rambut yang mulai memutih itu berlari menuju arah sumber air, lalu meneguknya dengan rakus.
"Sial." Rimba menekan dadanya yang terasa sakit. Matanya terpejam menahan sakit. "Aku berbohong pada Pangeran Dimas saja sudah menyakitkan, sekarang sihir ini menambah penderitaanku."
Rimba melirik boneka beruang yang sudah kotor terkena tanah. Beruang itu seakan menatapnya kasihan dan mengejeknya di waktu yang sama. Gadis itu berdiri menyeret kaki, lalu mengucapkan mantra sambil mencekik leher boneka itu.
"£¢€¢•¥¢¥%^¢¥'^¢¥¢¥~"
Boom.
Mata boneka itu bersinar. Batu sihir.
Pangeran Dimas adalah salah satu laki-laki hangat yang cukup licik. Meski caranya masih terbilang biasa, di zaman ini cara tersebut masih efektif digunakan.
"Dia bahkan berniat mengawasiku," ucap Rimba kian terbatuk parah.
Gadis itu menyelimuti boneka beruang tersebut dengan api hitam yang tidak membakar. Tak lama, mata boneka itu kembali semula.
Rimba tak berniat untuk menghancurkan batu sihir yang terpasang di sana, karena gadis itu hanya akan mengubah pandangan tentang batu sihir.
'Hal buruk yang kulakukan, akan terlihat menjadi hal baik di mata batu sihir ini,' batin Rimba.
Menatap matahari di sore hari, Rimba membentuk simbol sihir di tanah sekecil diameter cangkir kerajaan. Gadis itu menulis surat mini untuk Ventus, dan memasukkannya ke lubang sihir.
"Hanya ini sisa kekuatanku," gumam Rimba menahan sakit sembari melihat kertas itu tenggelam dilahap sihir teleportasi.
[°°°]
Bak.
Punggung Reid menghantam batang pohon dengan cukup keras. Laki-laki itu baru saja dicengkeram dan dilempar oleh monyet remaja yang ternyata cukup cekatan. "Memalukan," ucap Reid dengan suara kecil.
Alia memandangi Reid yang terlempar, gadis itu mendesis pada si monyet yang masih berhadapan dengannya.
Alia baru saja mengayunkan pedangnya sebelum ...
"Jangan."
Alia membeku dengan mulut menganga. Apa?! Apa monyet ini berbicara?! Atau aku yang terbiasa mendengar suara monyet, makanya bisa berbahasa monyet?!
Dunia permonyetan ini membuat Alia gila.
"Jangan." Monyet itu mengeluarkan air mata.
"Kau menangis?! Seharusnya aku yang menangis! Kau kira aku tidak takut berhadapan dengan binatang sepertimu!" balas Alia, air matanya ikut menggenang. Kukira aku bakal jadi Alia penyet.
"Euung!" Monyet itu bergumam sedih. "Weku hanya ingin makan. Weku lapar."
Alia kembali menyimpan pedangnya. Dia masih berjaga-jaga takut binatang ini hanya sedang berakting paling tersakiti. Alia melangkah perlahan mendekati monyet sebesar kendaraan beroda dua itu.
Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda menyerang, Alia melemaskan otot yang menegang sembari menarik mundur anak rambutnya. Dia berkata hati-hati, "Aku bisa berbahasa monyet? U-u a-a?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasíaUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
