25- Zaro Curiga

95 23 0
                                        


"Pangeran?!"

Tak ada sahutan.

Zaro memasuki gua dengan berlari panik. Sudah dua jam dia dengan pasukan menunggu di depan gua, namun pangeran tak kunjung keluar. Tidak seperti biasanya, jejak hangat pangeran bahkan tidak dapat di rasakan dari permukaan batu raksasa.

Zaro berbalik menatap pasukan yang mulai ricuh. Alisnya berkedut, dan berteriak kencang hingga membuat seluruh pasang mata menatapnya. "Dengar! Cepat telusuri wilayah sekitar dan temukan keberadaan Pangeran Kedua!"

Zaro menarik pedangnya, mengangkatnya seakan mampu membelah udara. "Laksakan!"

Para prajurit bersorak menyahuti perintah pengawal setia sang pangeran. Zaro menarik napas dan berusaha mendinginkan kepalanya.

"Tidak mungkin." Zaro mendesah gelisah. Permukaan batu tak menunjukkan jejak hangat di mana pangeran duduk. Artinya, pangeran Dimas diculik bahkan sebelum dia berhasil menduduki batu meditasi.

'Sudah dua jam, bisakah?' batin Zaro. Dua jam mungkin waktu yang cukup untuk membuat para penculik menghilangkan bukti dan keberadaan mereka. Zaro menjambak rambutnya, kenapa ia begitu lalai?

Patih tua mengambil posisi berdoa. Kerutan di wajahnya tak dapat menyembunyikan betapa khawatirnya ia pada pangeran yang sudah ia asuh sejak dulu. Kemana hilangnya sang pangeran? Kenapa begitu bersihnya tindakan komplotan penculik itu sehingga mengelabui pasukan kerajaan?

Pengawal Zaro bergerak meninggalkan patih tua. Ia tak bisa hanya diam dan menunggu pekerjaan dari pasukan prajurit yang mulai mencari jejak pangeran Dimas. Zaro harus menemukan pangeran sebelum matahari ditelan langit.

Bagaimana caranya, dia pun tidak dapat berpikir. Laki-laki itu berharap keberuntungan dan keselamatan selalu menyertai sang calon raja masa depan di mana pun ia berada.

Namun, satu jam pencarian Zaro membuahkan hasil. Hanya saja, hasil tersebut jauh dari doa dan harapan yang dipanjatkan patih tua dan dirinya.

Zaro menjatuhkan pedangnya, dia melihat, matanya bergetar, kakinya seakan tak dapat menerima kenyataan.

Pangeran Dimas. Lelaki itu terbujur kaku dengan wajah pucat, tepat di pinggiran sungai yang mulai dihiasi darah.

[°°°]

Ada beberapa hal yang tidak diterima manusia dalam kehidupan mereka, pengkhianatan dan takdir yang tidak diinginkan.

Pangeran Dimas selalu dihantui oleh kedua hal tersebut. Dia dibelenggu oleh takdir, sampai kapan? Kenapa kakaknya tak berniat kembali dari tidurnya yang begitu panjang?

Lelaki itu berjalan di dalam gua yang sangat sunyi. Setiap tapakan kaki yang menyentuh tanah gua, Dimas selalu merasa jejak pangeran pertama terus mengiringi langkahnya. Dimas tidak membenci perasaan ini, hanya saja, belenggu yang mencekik lehernya tak pernah ingin lepas.

Kematian pangeran pertama.

Dia adalah sosok pangeran yang dicintai rakyatnya. Bukan karena ia begitu ramah, hanya saja kakaknya adalah sosok yang adil dan cepat menyesuaikan diri. Ia begitu profesional dan penuh dengan ambisi. Seakan memiliki begitu banyak kepribadian, pangeran pertama terkadang sedingin pegunungan pagi dan bisa sehangat teh yang baru disajikan.

"Huft. Lihatlah batu ini, begitu malas untuk menaikkan kaki ke atas sana," guman Dimas. Tangannya menyentuh sisi batu raksasa, lalu perlahan mengangkat kaki untuk menuju puncaknya.

Degh...

Dimas mengurungkan niatnya untuk memanjat. Jantungnya ... berdetak dengan kecepatan tidak normal. Dadanya sakit, Dimas terbatuk berat dengan suara pelan. Laki-laki itu menoleh ke belakang, sepertinya Zaro ataupun prajurit yang lain tak mendengarnya.

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang