Seorang laki-laki dengan bola mata hitam dan rambutnya yang selaras sedang duduk di bagian depan kereta kuda, menatap perjalanan yang diselimuti pepohonan. Dia adalah Ianas, di sampingnya duduk Anggit yang sedang mengendarai kereta kuda. Di bagian dalam ada Nohta, Ilita, dan Marrow yang bermain catur sambil memakan buah.
"Kau yakin kita menuju ujung arus sungai? Bukannya mereka berkata akan menyusul di tempat awal?" tanya Anggit.
Sebenarnya kelompok Ianas sudah menunggu di posisi awal sejak beberapa menit yang lalu. Beruntungnya, Ianas merasakan kehadiran mana Reid, namun tak menuju arah posisi awal mereka berada. Ianas yakin sekali jika Reid pun sudah merasakan mana-nya, tapi lebih memilih jalan lain yang lebih aman.
Ianas sangat senang. "Tentu. Mereka pasti berada di ujung arus sungai. Kita menunggu mereka di sana saja."
Anggit tertawa. "Kau sangat percaya diri dengan prediksimu. Aku jadi tidak bisa menolaknya."
Satu tangan wanita itu membenarkan letak kain yang membalut bahu Ianas. "Kenakan dengan benar, tubuhmu rapuh jika kebanyakan udara."
Di sisi lain Nohta dan Ilita sudah mengintip mereka berdua dari bangku belakang.
"Oh, astaga, seorang anak kucing dan gorila," bisik Nohta pada Ilita.
"Selera Anggit aneh. Kukira dia akan tertarik dengan lelaki yang memiliki bisep kekar dan mempunyai otot dada yang tidak bolong meski diseruduk banteng." Ilita ikut berkomentar.
Nohta menyetujui. "Bukankah Ianas akan jadi beban baginya? Tubuh laki-laki itu tidak ada yang bisa dibanggakan. Mungkin saja buah jatuh di kepala bisa membuatnya pingsan."
Marrow menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kedua temannya. "Kalian jangan membicarakan orang lain secara berlebihan seperti itu."
Tangan kekarnya menarik ujung pakaian Ilita dan Nohta, menarik mereka mundur dan kembali duduk di tempat seharusnya. Kedua orang itu cemberut karena ditegur Marrow.
"Hah, gara-gara monyet tak diundang itu, kita tertimpa kesialan di siang bolong." Nohta memijit kepalanya yang berdenyut sakit. Dia sangat khawatir dengan keadaan kedua rekannya--Reid dan Alia--yang belum ada kabar sampai sekarang.
"Apa ujung sungai daerah ini masih jauh?" tanya Nohta pada Anggit.
"Tidak. Sebentar lagi kita akan tiba di sana." Anggit menyahut dari depan. Wanita itu memakai tudung selendang di kepala saat matahari berhasil menyengat wajah dan matanya. Silau.
"Aku berharap perkiraan Ianas tidak salah," kata Ilita sudah diambang kepasrahan. "Kalau keliru, kita harus kembali ke posisi awal lagi. Setuju?"
Semua menyahuti setuju, berbeda dengan Ianas yang terus memandang ke dalam hutan. Seakan dapat menembusnya, dan memastikan posisi Alia dan Reid. Sesekali Ianas mengeluarkan energi yang berterbangan layaknya debu di udara.
Di sisi lain, Reid terus ditekan dengan energi Ianas. Laki-laki itu berdecak, kenapa Ianas terus-terusan melacak mereka? Sebenarnya anak itu hanya khawatir dengan Alia atau dengannya juga?! Reid selalu menampar percikan energi itu menjauh darinya.
Alia bertepuk tangan melihat serbuk-serbuk keemasan itu mengelilingi dirinya. "Ianas memiliki sihir yang indah, iya 'kan Reid?"
"Kenapa kau menamparnya?!" Alia berteriak melihat Reid memperlakukan energi Ianas semena-mena. Tidak tahukah Reid? Ianas pasti bekerja keras hanya untuk memastikan mereka aman di dalam hutan.
Reid menatapnya datar, tanpa melihat butiran energi itu, kakinya bergerak menginjaknya dan energi itu pupus, menguap.
"Tak perlu setiap waktu untuk memastikan kita aman. Ini berlebihan, dia juga membuang mana miliknya dengan sia-sia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
