kuy vote laaaa—!
[°°°]
Suasananya sunyi, mencengkam dan membuat siapa saja yang berada di sana merinding setiap detik. Salah seorang perempuan yang berjalan di belakang seorang wanita bertudung membuka suaranya. "Kakak, ayo kita keluar dari sini. Aku tidak tahan terus berlama-lama di sini."
Matanya mengedar ke setiap sudut gua yang mereka masuki. Kabarnya gua ini adalah tempat Pangeran Kerajaan melakukan semedi. Anehnya, bukannya dijaga dengan ketat malah tidak ada satu orang pun penjaga yang menjaga tempat ini. Sang Pangeran sudah beberapa hari tak menjalankan semedinya, dan itu banyak memicu omongan rakyat dan bangsawan setempat.
Wanita dengan mata ungu memikat itu meletakkan tangannya di atas batu besar yang biasanya diduduki Pangeran. Dingin. Tentu saja karena hanya angin lalu yang menyelimuti batu ini semenjak Pangeran lengah.
"Menurutmu, apa motif Pangeran mendekati 'gadis yang menolak lamaran' itu, Rimba?" tanya wanita itu menarik tangannya kembali. Bagaimana laki-laki bermata emas itu tahan berada di dalam gua yang mengerikan ini? Itu pun tanpa ada yang menemani.
Perempuan itu tersentak, sampai sekarang dia masih merinding saat mendengar namanya disebutkan dari bibir wanita bertudung itu. "Aku tidak tahu. Bisakah kita berbicara di luar gua saja? Kita sudah setengah jam di dalam sini, sebelum ada yang datang kita harus cepat pergi."
"Tidak, sayang. Tidak." Wanita itu berucap sambil menggeleng kecil. Rimba mendesah frustasi mendengarnya.
Dengan berani, wanita itu duduk di atas batu yang dijaga tersebut. Rimba menarik napas tertahan, Penyihir gila satu ini benar-benar membuatku khawatir!
"Kakak, turunlah! Kita tidak boleh terlalu lama di sini! Kita tidak tahu apakah tempat ini benar-benar tidak dijaga atau hanya diawasi dari jarak jauh!" Rimba menaikkan oktaf suaranya. "Kita bisa dalam masalah. Aku mohon ...."
Wanita itu berdecih. Sudut bibirnya terangkat menatap sang adik. "Kau selalu memanggilku 'kakak' saat ingin membujukku."
"Ini bukan waktunya untuk Kakak bermain-main. Bukankah sulit untuk menghilangkan jejak kita berdua setelah insiden waktu itu?" Rimba tidak habis pikir. "Jika kita tertangkap sekarang, apa gunanya kita bersembunyi selama tiga tahun?"
"Iya, Rimba. Tutup mulutmu sekarang," balas wanita itu. Dia turun dari atas batu itu dan menyeret Rimba keluar dari gua. Sesaat, matanya menatap batu itu intens. Aneh, dia sengaja menggunakan sihir hitam di sekitar tubuhnya, namun batu yang 'suci' ini tidak menyakitinya sama sekali.
"Apa yang Kakak lakukan? Ayo cepat!" Kini bergantian Rimba yang menuntun jalan mereka. Wanita bermata ungu itu lantas mengekor di belakangnya dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
"Lucu sekali, apakah akan ada dua drama yang terjadi di waktu yang sama?" gumam wanita itu tidak percaya. Perlahan dia menutup sihir hitamnya kembali, takut ada yang merasakan keberadaan mereka berdua.
[°°°]
Alia tidak mengerti.
Sebenarnya apa yang ada di kepala Melati saat memanggilnya dengan alasan darurat. Di mana letak 'darurat'-nya? Hanya ada makanan ayam yang berhambur di tanah dan sudah dikepung oleh para ayam.
"Mela, kau memanggilku bukan untuk memungut makanan itu 'kan?" tanya Alia heran.
Melati menepuk jidatnya. "Bukan, Alia! Apa kau tak tahu yang namanya 'alasan'?! Aku hanya beralasan agar bisa membawamu ke sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
