13- Spekulasi Buruk

462 109 1
                                        

Hello, i'm back!

[°°°]


Kerajaan ini tak sedamai yang terlihat.

Beberapa hari ini, Alia hanya dapat menyimpulkan hal tersebut. Hanya satu kalimat pendek, tapi mengandung banyak makan yang sebenarnya ia pun tidak dapat menjabarkannya. Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan pada bangsawan dari rakyat.

Alia mengusak kepalanya. "Kenapa alurnya membingungkan seperti ini. Apa ini bukan dongeng yang sama?!"

Reid yang melihat Alia tampak frustasi duduk di tangga rumah, perlahan mendekati gadis itu. "Kau kenapa lagi? Sudah pengangguran, tetap saja terlihat memikul beban."

Sepertinya Reid sudah lelah melihat tingkah Alia yang aneh dari hari ke hari. Alia menghela napas, bagaimana dia bisa memberitahu Reid apa yang ia pikul sekarang.

"Kau benar, apa aku akan menjadi orang gila?"

Seketika ekspresi Reid seakan berkata, "Apa seyakin itu?"

Alia menopang wajahnya malas. Bagaimana dia bisa berbagi perasaan kepada Reid yang bahkan hanya sebatas karakter fiksi yang tidak punya perasaan?

Mata Alia membulat, benar. Di dunia ini hanya dia lah yang 'hidup', semua orang berperan sebagaimana cerita ini berjalan.

Ayo pikirkan Alia, apa yang akan terjadi setelah semua hal itu kaulalui? batin Alia. Dia hanya perlu menebak alur dari sifat para karakter utama. Sayangnya, di dongeng itu hanya diceritakan kisah malang bin kasian milik Bawang Putih dan betapa manisnya mulut Pangeran Dimas.

Oke, sekedar karakter Dimas saja tidak apa-apa, pikir Alia berusaha menyemangati dirinya.

Reid yang mengasah pisau kecilnya melirik Alia yang sedang melayangkan tinju ke udara, seperti seorang pemalas yang tiba-tiba mendapat motivasi sesaat.

Alia bangkit dari duduknya dengan perasaan berjuang yang kembali tumbuh. "Aku masuk dulu, Reid."

"Hm," balas Reid tidak peduli. Membiarkan gadis itu berjalan semangat ke dalam kamar.

Di dalam kamar, Alia membuka buku filsafat usang milik Reid, membuka halaman 17 dan mengambil secarik kertas lipat yang ia sisipkan. Kertas itu berisi pemikiran-pemikiran sementara yang Alia cantumkan seandainya ia mulai keliru.

"Aku tidak tahu apakah karakter Dimas bisa membawaku menemukan titik terang, tapi aku harus mencoba segala kemungkinan jika ingin bebas," kata Alia mulai mencelupkan pena ke dalam tinta.

[Dimas sangat pintar dalam mengatakan kalimat-kalimat manis dan memuakkan.]

Apa yang akan kulihat jika memandangnya dari sudut negatif? Alia mengangkat penanya saat berpikir.

[Mungkin saja kalimat-kalimat itu adalah hal palsu, keahliannya menjilat lawan, atau... ]

Alia berpikir keras dan kembali menulis. [... dia manipulatif]

"Semua hal ini menjerumus ke arah menipu seseorang dengan kata-kata," gumam Alia. "Apa yang akan dilakukan seseorang yang seperti itu?"

Mungkin ini terdengar aneh, tapi Alia memang terbiasa menanyai dirinya sendiri untuk mendapatkan jawaban dari dalam otaknya.

[Dia akan berusaha melakukan manipulasi berantai, adu domba, mendorong seseorang tanpa mengotori tangannya, dan mengontrol hal yang ia inginkan semaunya.]

"Ini benar-benar buruk, Alia ...." Setelah melihat jawabannya sendiri, Alia hanya dapat meneguk salivanya. Dia harus waspada dan memerhatikan Pangeran Dimas dengan teliti jika bertemu nanti.

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang