3- Pangeran Mencari Calon

882 199 48
                                        

"Tarik napas ...! Hembuskan, fyuh." Pagi ini Alia melakukan gerakan ringan yang dapat membuatnya tenang. Seperti sekarang, dia sedang menenangkan pikirannya layaknya pemanasan sebelum olahraga.

"Duh, Tiba-tiba pengin mie ayam," ucap Alia mengelus perutnya. Dia benar-benar tidak terbiasa hidup di jaman ini. Apalagi masalah mie ayam Kang Wiwil di depan sekolahnya.

"Kenapa kau mengelus perutmu? Apa kau salah makan?"

"Astaga!" kaget Alia saat melihat wajah Reid yang timbul di jendela rumah. Mata merah itu memandangnya tajam, tidak bukan memandangnya, tetapi menatap tangan Alia yang sedang mengelus perut.

Alia memutar bola matanya jengkel. Dia masih kesal atas insiden 'disuruh mencuci baju dapat kamar' nyatanya berbagi kamar dengan laki-laki itu. Reid tidur di bawah beralas tipis, sedangkan dirinya di kasur. Tapi tetap saja! Pembohongan yang Reid lakukan membuat Alia ingin mencacinya.

"Tidak. Bisakah aku punya kamar sendiri?" tanya Alia mendengkus.

Reid memamerkan kantung celananya yang kosong. "Tidak bisakah kau melihat kantung celanaku yang menganga ini?"

"Semiskin apa kau?" sarkas Alia. Mendadak dia berpikir selama ini dalam dongeng tidak diceritakan bagaimana keluarga Bawang Putih memperoleh koin.

Reid menopang wajahnya di pinggir jendela itu sambil berdecih. "Kau seakan tak pernah melihatk diriku berburu."

Lalu, kemana buruan itu?

"Aku makan tentu saja. Setelah berburu aku lapar," lanjut Reid menyebalkan seakan tahu isi kepala Alia.

"Hei," panggil Reid. "Aku kira kau akan kembali normal, kenapa masih tidak waras?"

"Aku bukan orang gila!" sembur Alia. Kau bisa melihat Bawang Putih yang lembek kalau aku bisa kembali ke duniaku, argh!

"Baw—ah maksudku, Alia, apa kau terbentur sesuatu hingga seperti ini?" tanya Reid. Laki-laki itu mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela. "Apa kau terkena semburan petir?"

Banyak tanya sekali kau. Alia menarik napas panjang. Dia menatap Reid sambil tersenyum sinis. "Peduli apa kau? Mau aku digotong babi hutan atau menjadi anaknya kadal seharusnya kau tertawa."

"Kalau itu aku memang akan tertawa, bodoh. Membayangkannya saja sangat indah," sahut laki-laki itu tertawa mengerikan.

"Mana satu setannya?" tanya Alia merasa tak melihat si ibu tiri dari pagi ini.

"Dia ibuku," koreksi Reid. "Dia sedang berkencan."

Alia menjatuhkan rahangnya. "Apa? Apa di sini ada yang namanya berkencan?"

Alia baru tahu! Kalau begitu kenapa Alia tidak menghabiskan waktu dengan berkencan saja? Jika ada laki-laki setampan Reid di sini, pasti masih ada yang lainnya! Bahkan mungkin anak tunggal kaya raya! Alia bisa memanfaatkannya dengan wajah cantik Bawang Putih.

Reid mengangguk. Matanya bertambah tajam sambil menunjuk wajah Alia penuh peringatan. "Tapi kalau kau berkencan sekali saja, siap-siap kau benar-benar akan kujadikan mainan babi hutan."

Alia protes. "Mana bisa begitu! Tua bangka saja bisa berkencan. Apalagi aku si bujang nan single ini."

Single? batin Reid tidak mengerti. Namun dia mempertahankan wajah sangarnya. "Kau itu bodoh dan polos."

Alia menunjuk wajah menggodanya, wajah yang dibenci seseorang saat ada teman yang 'cie-cie'-in sembarangan. "Oh, apa kakakku ini cemburu, hm?"

Alia sering melakukan itu pada Roni, dan Roni akan mengalah daripada harus mendengar suara menggelikan dan najis milik Alia yang seperti itu.

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang