14- Perjanjian

387 96 0
                                        

Alia menatap langit yang terlihat mendung. Setelah beberapa hari terjadi musim panas yang menyengat, mungkin musim hujan akan mengambil jadwalnya kali ini. Alia mengetuk jarinya di atas meja, kembali menatap selembar kertas bertuliskan hal negatif tentang Pangeran Dimas. Sebenarnya Alia sendiri menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang cepat tanggap keadaan. Alia hanyalah remaja yang memiliki kemampuan standart, dan dia kurang berpengalaman. Pelajaran sejarah saja dia sering tertidur di kelas.

Alia melipat kertas itu. Dengan mata yang menunjukkan keyakinan, dia bertekad untuk mempelajari secara keseluruhan tentang kerajaan yang kini telah dia tinggali selama hampir dua bulan lamanya.

Lima menit kemudian Alia kehilangan tekad setelah menemui Melati dan gadis itu memberikannya beberapa tumpukan buku tebal di hadapannya. Alia mendesah frustasi, dia takut rambut halus yang dirawat Bawang Putih bisa rontok karena dia stress.

"Apa sebanyak ini?" tanya Alia putus asa menatap layu pada Melati yang hanya menyengir.

"Tentu saja," balas Melati sambil melipat lengan. Kemudian gadis itu menatap Alia penuh tanya. "Kenapa kau meminta buku tentang Kerajaan? Apa karena keterbatasan ekonomimu, kau bahkan tidak bisa membeli buku dasar seperti ini?"

Alia menggeleng. "Jika bisa meminjam kenapa tidak. Lagi pula aku hanya akan membacanya sekali."

"Kau berkata seakan kau adalah anak jenius yang bisa mengingat secara rinci dalam sekali membaca. Seperti tanggal lahir raja pertama, kedua dan seterusnya," ucap Melati terkekeh. Tak lama dia terkejut dengan ucapannya sendiri, melihat Alia tidak menyangkal candaannya. "Jadi kau benar-benar jenius?!"

"Tidak! Mana mungkin. Aku bahkan tidak ingat kapan aku lahir," tanggap Alia menggerutu.

Melati kian terkejut. "Apa?! Kenapa bisa?!"

"Ya bisa," balas Alia tak acuh. Tangan mungilnya mengangkat tumpukan buku itu dan berbalik. "Omong-omong, terima kasih atas pinjamanmu ini. Akan kukembalikan ketika habis membacanya."

Melati melambaikan tangannya. "Tak usah sungkan begitu. Buku itu juga hanya berdiam di rak perpustakaan kerja mendiang ayahku."

Ah, ayahnya sudah tiada, batin Alia. Untung saja dia tidak pernah menitip salam untuk orang tua Melati, mungkin hawanya tidak akan enak.

"Tapi aku 'kan juga tidak punya ayah," lanjut Alia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.

Ketika kaki Alia sudah berjalan mendekati rumahnya, dia melihat Ikan Mas dan Reid juga berjalan dari lawan arah. Alia panik, namun melihat kedua orang itu tampak berbincang serius, gadis itu langsung saja berlari cepat memasuki rumah untuk menyembunyikan buku-buku tebal yang ada di tangannya.

Mata coklat gadis itu berpendar mencari posisi mana dia dapat menyembunyikannya, Alia kemudian memilih meletakkannya di bawah kasur, di ujung kasur yang hanya di selimut kegelapan. Cepat-cepat gadis itu merapikan penampilannya agar tidak terlihat lelah habis berlarian.

Alia membuka jendela, ingin melihat apakah Reid dan Ikan Mas sudah berada di halaman rumah mereka. Nyatanya, dari tempat mereka berada tadi, Alia tidak melihat batang hidung kedua lelaki itu.

Alia menjatuhkan rahangnya tidak percaya. Kemana kedua orang itu?! Setelah dirinya berjuang untuk menyembunyikan barang negara, ternyata perjuangan itu tidak ada gunanya.

"Para lelaki memang suka menghilang tiba-tiba," gumam Alia mendengkus sambil menutup jendela kamar. "Oh iya, kemana ibu tiri itu?"

[°°°]

Beberapa saat yang lalu.

"Langit sangat labil. Sekarang tampaknya hujan akan turun dengan deras, namun tadi panasnya bisa sampai membakar kulit," ucap Ikan Mas dengan rambutnya yang setengah basah tak tertata rapi.

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang