Reid membawa tombaknya, kakinya menelusuri koridor istana yang megah. Ini memang seperti mimpi untuknya, namun Reid tentu saja tidak akan menjadi orang norak. Dia tahu batasan harus bagaimana berada di sini.
Reid adalah seseorang yang cepat beradaptasi, mudah saja baginya belajar banyak hal.
Dia laki-laki yang keras pada dirinya sendiri. Reid mencengkeram tombak, dia bergerak melewati beberapa penjaga istana sambil menunduk sapa mereka.
Dia dibebaskan berpergian kemanapun karena ada Tuan Jagat di belakang punggungnya. Reid berbelok jalan, dia melihat penjaga ruang baca istana. Laki-laki itu menarik napas, wajahnya dia pasang baik-baik.
Benar saja, dia langsung ditodong pertanyaan oleh penjaga pintu.
"Ada keperluan apa?" tanyanya dengan menyelidik. "Kau pengawal baru Tuan Jagat? Aku beritahu, ruang baca tidak boleh dimasuki siapapun kecuali bangsawan, kau tidak bisa masuk."
"Aku mendapatkan izin." Reid mengeluarkan selembar kertas yang tertera cap milik Tuan Jagat.
Bagaimana mendapatkannya? Mudah saja, Reid hanya meminta. Tuan Jagat langsung memberikannya izin, berkata jika dia harus hati-hati dalam menyentuh bukunya. Reid bersyukur Tuan Jagat memiliki posisi di samping raja Subanha, itu artinya para penjaga pintu mana pun akan membuka kesempatan bagi Reid.
"Coba kau periksa dahulu," suruh temannya menggerakkan dagu. Temannya mengambil kertas itu, menyentuh, dan melihat secara detail.
"Ini memang cap asli," kata temannya mengembalikan kertas itu pada Reid.
"Uh." Penjaga menggerutu. Dia dan temannya segera membuka pintu untuk Reid masuk. Saat terbuka, Reid bisa mencium aroma buku khas dan kental. "Jangan merusak sesuatu jika kau memang ada keperluan atas nama Tuan Jagat."
Reid mengangguk. Dia memasuki ruang baca. Penjaga menutup kembali pintu ruangan itu, membiarkan Reid sendiri di sini.
Apa yang harus kucari? Reid melihat sekitar, tentu saja rak buku pada jaman itu tidak setinggi dan semegah sekarang. Itu rak buku kayu yang mengkilap, masih terurus oleh beberapa pelayan kepercayaan istana.
Reid bergerak membaca tiap sampul. Semua hanya tentang kecantikan, kesehatan, dan strategi pertempuran.
"Bukan ini." Reid meletakkan buku ke sekian. Dia mendengus.
Reid menyipitkan mata saat melihat buku hitam pudar yang terdapat dipojok bawah. Posisinya sangat pas dengan bayangan, orang yang tidak teliti tak mungkin melihat buku itu ada.
Reid berjongkok, dia menarik buku itu. Laki-laki dengan mata semerah darah itu lantas bergerak menuju cahaya matahari yang terpancar dari jendela. Dia menggosok buku itu dan membukanya.
Itu buku tata cara melahirkan.
Reid spontan menutup buku itu, malu. Kini dia bergerak menuju rak lain. Menggeledah pelan-pelan tanpa merusak buku-buku yang sudah berdiri rapi.
Reid kini kembali mengambil buku lainnya, buku apapun yang terlihat mencurigakan akan dia baca. Tapi nihil, tidak ada satupun informasi yang diinginkan Alia.
Ketika Reid hanya bisa menghela napas untuk memutuskan berhenti, bola kristal kecil menggelinding di bawah kakinya.
Reid berjongkok, dia mengambil bola itu dan melihatnya. Tangannya mengepal sang bola kristal, berusaha merasakan energi sihir yang terasa samar dari benda itu.
"Akan kubawa pada Ianas." Reid berdiri, dia mengetuk pintu ruang baca sehingga para penjaga membiarkannya pergi.
"Buku apa yang kaubawa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
