15- Kekhawatiran Rimba

373 85 6
                                        

"Jadi ini yang kau sembunyikan dariku?" tanya Reid dengan nada yang begitu mengesalkan di telinga Alia. Laki-laki itu mengangkat satu buku dasar tentang Kerajaan di depan wajah Alia yang tampak sudah pasrah ketahuan.

Reid meletakkan kembali buku tersebut. "Aku tahu dari dulu kau suka membaca. Tapi aku tidak tahu kau bisa nekat meminjam buku sebanyak ini dari orang lain. Apalagi tentang seluk beluk Kerajaan."

Laki-laki beriris merah itu kembali berucap, "Tujuh belas tahun kau hidup, baru sekarang kau mau mempelajari semua ini?"

Alia dengan polos mengangguk. Dia berkacak pinggang. "Kenapa?! Kau ingin melarangku membacanya?!"

Reid tertawa remeh. "Kalau bisa sih, iya."

"Apa?" Alia tercengang saat melihat Reid tersenyum setelah itu sambil menatapnya dalam. Dasar, aneh! Laki-laki itu kemudian hendak melenggang pergi sambil melirik buku yang Alia pangku.

"'Peta Alam Kerajaan' kalau sudah membaca buku itu, mau melihatnya langsung juga tidak apa-apa," ucap Reid sebelum dirinya keluar dari kamar.

Apa maksudnya? batin Alia tidak habis pikir dengan omongan Reid yang jarang berkata pada intinya. Sambil membaca kembali, satu menit kemudian Alia menyimpan kekagumannya. Tepat di halaman berikutnya, terdapat semua lukisan tebal yang berbentuk layaknya tempat-tempat wisata--tidak termasuk dufan dan sejenisnya. Mata Alia melebar melihat hal tersebut, siapa yang melukis dan menulis buku ini? Dia pasti sudah melewati banyak perjalanan hanya untuk menuangkan pengalamannya dalam satu buku usang yang kemudian hanya menjadi pajangan di lemari buku.

Pada halaman-halaman berikutnya, sang penulis sepertinya benar-benar menganggap buku ini pasti akan dibaca oleh seseorang. Sebab itu beberapa kali, penulis tersebut menuliskan kalimat-kalimat yang dilebih-lebihkan seakan sombong dan sedikit candaan yang dapat membuat pembacanya merasakan seperti berbicara langsung dengan buku.

Setiap lembar dibalik, Alia akan terus menemukan sebuah lukisan--bisa saja dilukis oleh sang penulis dengan tangannya sendiri--yang membuatnya terus bergumam 'keren' dan 'cantik' saat melihatnya.

Pertama kali aku mampir ke danau ini, aku merasakan seperti berada di negeri dongeng. Benar-benar menjadi hal candu bagiku melihat danau dengan anak-anak katak yang bernyanyi merdu di malam hari. Saat ini, bulan tidak muncul. Sangat disayangkan sebab aku tak dapat melukis bulan yang memantul di atas danau.

Lalu sang penulis benar-benar hanya melukis sebuah danau indah dan bunga teratai serta para katak-katak lucu tanpa adanya bulan yang menerangi.

"Aku pasti tidak bisa menemukan buku seperti ini jika kembali ke masa modern," gumam Alia. Gadis itu terdiam sesaat, dia teringat ucapan Reid beberapa saat lalu. Alia kemudian memekik ketika sudah mengerti apa yang Reid maksud.

"Dia akan mengajakku pergi ke tempat-tempat keren di buku ini jika aku memintanya?!" ceplos Alia tak percaya. "Aku akan menghabiskan buku ini, kemudian mendatanginya untuk memastikan."

Alia kembali membaca buku itu dengan perasaan yang berdebar-debar. Benarkah Alia dapat menjelajah tempat-tempat yang tertulis di buku ini? Sebab Kerajaan Subanha bisa terbilang luas dengan beberapa desa dan daerah rawan hewan buas serta pepohonan rindang yang mengelilinginya. Alia benar-benar senang, dia hanyalah anak rumahan yang memiliki strict parent. Meski orang tuanya sibuk bekerja, mereka terus memantau Alia agar tidak keluyuran, dan Alia tidak pernah melanggarnya.

Dia hanyalah anak gadis yang bercita-cita mendapatkan beasiswa di luar kota agar merasakan yang namanya 'bebas'. Namun itu hanyalah kata-kata yang tak berarti, sebab Alia tidak pernah punya usaha untuk belajar lebih banyak dan ambisius. Dia juga tidak sedih ketika mendapat nilai rendah, dia juga senang seadanya jika nilainya tinggi. Benar-benar hanya manusia yang tak ingin banyak beban pikiran, tetapi ingin mencapai kebebasan dengan usahanya sendiri. Alia tidak mengerti dirinya. Sangat.

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang