[°°°]
"Hei, kenapa gaya bicaramu seperti itu?"
Satu wanita yang sedang menggosip ria itu akhirnya tersentak. Dia menutup mulutnya rapat-rapat saat temannya menegur. "Aish. Aku lupa kalau kita berada di luar rumah. Ah, semoga tidak ada anggota Kerajaan yang mendengarnya. Bisa habis aku."
"Kau harus mengingat itu," balas temannya. Mereka mengangkat cucian dan pergi meninggalkan sungai. Di waktu yang sama, Alia mengangkat bakulnya dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa.
Maafkan aku ibu, aku mendadak suka menguping orang lain, batin Alia. Dia diajarkan untuk tidak menguping orang lain, karena itu bukan urusan mereka. Alia memang sering tidak sopan dan seenaknya, tapi untuk kata-kata ibunya akan dia lakukan apapun itu.
"Reid dan Ikan Mas sedang apa sekarang? Dan di mana mereka?" tanya Alia pada dirinya sendiri. Alia menghentikan langkahnya saat hendak melewati jalur kanan—jalur yang biasanya ia pakai—tapi urung dan memilih jalur kiri, jalur itu melewati pohon tempat nenek yang ia temui kemarin.
Alia tidak tahu, tapi pikirannya selalu terpikir akan perbincangan dua orang wanita di sungai tadi. Tentang Masa Kelam dan Pendongengnya. Kenapa penyihir legal sedang menjadi pendongeng itu?
"Ini kebetulan? Atau apa?!" cetus Alia. Kemarin nenek itu bercerita tentang sihir hitam yang menewaskan banyak orang, Alia berpikir, kemungkinan itu adalah Masa Kelam yang sedang digosipkan.
"Nenek!" teriak Alia saat dirinya sampai pada pohon apel tempat nenek itu berteduh. "Ah, bodoh Alia! Rumahnya pasti bukan pohon ini. Sial."
"Apa ada di sekitar sini?" monolog Alia berjalan lurus. Gadis itu menggaruk kepalanya frustasi. "Tapi di sini hanya ada beberapa pohon apel."
Sret.
Alia spontan menghindar saat sebuah cahaya menyilaukan terlempar padanya dari atas pohon. Cahaya itu meleset lumayan cepat dan meledak saat terkena semak di belakangnya. "S-sihir?!"
"Wah tidak kena ya?" Seseorang memakai jubah hitam turun mendarat dari atas pohon. Mata Alia membesar saat melihat warna mata ungu memikat itu bertatapan dengannya. Siapa dia?
"Kau penyihir?"
"Sudah terlihat jelas bukan? Ya. Aku penyihir," jawabnya santai. "Ventus. Panggil aku seperti itu."
"Dia penyihir ilegal," timpal seorang gadis seumurannya yang awalnya berwujud semak-semak berubah menjadi manusia di hadapan Alia.
Alia terlonjak, gadis itu merasa harus mempertahankan kewarasannya setelah melihat hal di luar nalar seperti ini.
"Aku Rimba," kata gadis itu. Dia berkacak pinggang. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau tahu tempat ini—ah tidak, maksudku pohon apel ini berbahaya."
"Aku bisa gila melihat kalian," jujur Alia masih tidak terbiasa. "Aku ke sini untuk bertemu seorang nenek tua yang berteduh di bawah pohon ini kemarin."
Ventus tertawa mendengarnya. Dia bahkan berlagak seakan mengusap air matanya yang jatuh karena menganggap omongan Alia itu lucu. "Kau bercanda? Kau tidak akan pernah bertemu dia lagi kecuali di akhirat."
Rimba menghela napasnya. "Kau tidak mengerti? Ini pohon tumbal untuk sihir."
Alia mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Apa? Tumbal? Pohon ini tidak menyeramkan. Lihat buahnya."
"Itu ilusi!" Ventus menyela sambil memberhentikan tawanya. Gadis ini, dia terlihat baru pindah ke Kerajaan ini.
Alia terdiam. Tangannya bergetar. Dia tidak mengerti! Sebanyak apa rahasia yang terkandung dalam cerita dongeng ini?! Sampai kapan dia akan terus terkejut dan terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasiUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
