Alia menatap jalanan yang mereka lalui. Kelompoknya kehabisan energi untuk melanjutkan tujuan mereka. Akhirnya, mereka semua memilih untuk beristirahat malam itu.
Bintang-bintang yang terlihat berkilau di langit malam menjadi daya tarik Alia. Mereka bersinar membawa kehidupan di gelapnya langit luas.
Ianas tertidur lebih dulu, setelah itu yang lainnya menyusul lelap dalam mimpi panjang mereka. Bahkan tidak ada rencana siapa yang akan berjaga malam ini. Menurut Anggit, tempat mereka istirahat aman dari binatang buas. Semoga saja begitu.
Alia ingin berteriak dalam hati. Dia tidak bisa tidur. Siapapun jika menjadi dirinya, pasti sudah gila. Dari siang tadi, Alia sudah menahan keluh kesah dalam hatinya. Berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi sebagai manusia biasa, Alia takut.
Dia terjebak di dunia asing, tanpa tujuan dan kenapa dia ada di sini. "Aku bisa saja menikmati dunia ini, bebas." Alia tersenyum nanar. "Aku rindu keluargaku."
Ibunya yang acuh tak acuh, ayahnya yang terkadang hangat, atau Abangnya yang usil. Itu bukan keluarga setahun dua tahun, itu keluarga kandungnya. Tempat ia dibesarkan.
Alia menarik napas panjang.
Gadis dengan rambut hitam bergelombang itu melirik buku yang menjadi semangatnya dalam berjelajah. Sayangnya, penulis ini pembohong besar. Benar-benar tukang tipu! Bisa-bisanya monyet besar dia anggap lucu.
Akibat rasa penasarannya, dia menyeret Ianas, Reid dan yang lainnya ke dalam bahaya.
Reid beranjak duduk. Dia berkedip menyesuaikan matanya dengan suasana gelap dan api unggun. Dia menatap punggung gadis itu yang termenung di depan api unggun. Reid bergerak, dia duduk di samping Alia dan mereka menatap api yang bergejolak kecil itu bersama.
"Ingin pulang?" tanya Reid dalam keheningan panjang mereka.
"Kita semua sebenarnya sudah terlalu jauh dengan jalan utama 'kan?" balas Alia merasa bersalah. Dia mendengar percakapan Reid dan Anggit saat dia ditugaskan mencari ranting bersama Ianas.
"Anggit berusaha buat kita balik lagi ke jalan seharusnya." Reid menjawab dengan tenang.
"Ah, sialan." Alis mendengus. "Aku harus meminta maaf padanya."
"Tidak terlambat buat pulang kan?" Alia bertanya. "Aku berubah pikiran."
Ibu Ila memang bukan ibunya, bukan ibu kandungnya. Tapi dia ibu Bawang Putih, sifatnya buruk dan keterlaluan itu perlahan berubah. Alia merasa jiwa Bawang Putih tidak rela meninggalkan sosok wanita itu di rumah kecil mereka sendirian.
Reid mengangguk memahami. "Baik, baik. Keputusanmu?"
Alia tersenyum. "Keputusanku sudah bulat. Ayo kita kembali."
Ayo kita mulai lagi dari awal. Ayo buat bahagia Bawang Putih dan keluarganya.
Laki-laki dengan mata semerah darah itu menatap wajah lega Alia setelah membuat keputusan tersebut. Dia terlihat seperti Alia yang dulu Reid kenal. Lembut, baik hati, dan suci.
Reid selalu khawatir. Kebaikan hati Bawang Putih bisa saja dimanfaatkan, mungkin saja Bawang Putih yang dulu akan menerima cinta dengan tangan terbuka kepada siapa saja yang mau memberinya cinta. Namun Reid sekarang tidak perlu khawatir lagi, Bawang Putih bisa menjaga dirinya sendiri.
"Lebih baik kau tidur," ucap Reid sembari berbaring kembali di tempatnya. Laki-laki merogoh saku celananya. Dia kemudian melempar benda kecil dan panjang yang terbuat dari kayu ke pangkuan Alia. "Ambil."
Alia tersentak. Matanya membulat terkejut, dia menyentuh kuas lukis yang baru saja dilemparkan oleh Reid. "Ini--"
Reid tidur berbaring membelakanginya. Alia melihat napas laki-laki itu sudah baik turun dengan teratur, dia sudah menyelami mimpi yang menunggunya. Alia tertawa, Reid selalu melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia punya karakter yang penuh kejutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
