Beberapa hari diriku dilatih keras oleh Reid. Laki-laki ini tidak berniat memberikan belas kasihannya padaku. Pundakku didorong, tanganku ditarik, wajahku diapit dengan jari-jarinya agar diriku bisa fokus menatapnya. Bagiku yang sering kehilangan fokus, tentu saja ini adalah hal sulit. Hal kecil yang bisa dilakukan semua orang, namun tidak untukku. Fokus dalam diam sama saja membuat otak lamunku bereaksi. Karena itulah, Reid selalu membuat benturan kecil atau tepuk tangan di hadapanku untuk memaksaku memperoleh kesadaran 100% meskipun hanya diam dalam keadaan hening.
Aku memegang pedang di depan tubuhku. Membuat kuda-kuda dasar yang tentu saja banyak celah kekurangan. Tubuh Bawang Putih sangatlah lembek. Maksudku--benar-benar lembek. Kalau kuat sesaat sih bisa, tapi daya tahan tubuh dan staminanya cepat terkuras. Ini menyebalkan karena tubuhku dikehidupan dulu pun sama lemahnya. Malahan lebih lemah dari Bawang Putih.
Keringatku bercucuran, di hadapanku ada sosok yang berdiri tegap, Reid. Laki-laki bermata merah itu memegang pedang kayu di tangannya. Dia menatapku dengan sangat tajam. "Kau tidak bisa fokus? Ini sudah hari ketiga kau berlatih."
Meski mengeluh dan mengataiku seperti itu, Reid tidak berniat untuk menyerah melihat perkembanganku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dia terlihat sangat menanti diriku memberikan serangan padanya. Dalam hal berlatih pun, Reid yang menggunakan pedang kayu masih bisa menangkis pedangku.
"Banyak celah, banyak kekurangan. Yang seperti ini, mau kau bawa untuk berpetualang ke tempat berbahaya?" Dia sedang menyindir masalah stamina dan kuda-kudaku.
Aku mengeratkan semua jari-jariku pada gagang pedang. Reid berdiri sekitar tiga meter dari tempatku. Kalau aku berlari ke sana sekarang, tentu saja Reid akan mengambil langkah mundur lebih dulu karena langkahku yang ngos-ngosan.
"Kalau kau mau berpetualang dan berharap selamat selama berpetualang? Itu keajaiban yang penuh halusinasi. Di hutan, kau lemah, kau mati," ucap Reid kejam. Aku hampir jengkel mendengar mulutnya terus mengoceh.
Tolong sabar! Aku juga ingin kuat tahu! Gejolak kesal dalam hatiku hanya bisa kutahan. Jangan sampai mood Reid rusak dan dia berhenti mengajariku. Lagi pula, dari mana Reid belajar ini semua? Ayahnya?
"Jadi begitu," ujarku lirih sambil menatap kaki Reid intens. Kaki kanan Reid berjaga-jaga dengan membuat arah serong. Reid sudah tahu bahwa aku akan berpikir untuk menyerang bagian kanan tangannya yang memegang pedang lalu dia akan berpindah ke kananku untuk menghindar.
Jadi Reid tidak berusaha untuk menganggapku remeh. Buktinya, dia tetap waspada terhadapku meskipun tahu aku adalah orang yang mudah ditebak.
"Baiklah," ucapku sambil berlari ke arahnya dengan pedang terangkat. Tepat sesuai dugaan, tanah menimbulkan bunyi gesekan saat Reid ingin menghindar. Ketika tubuh Reid benar-benar berpindah, saat itu juga aku mendekatinya, lantas kaki kiriku menahan dan berputar ke arahnya serta menjatuhkan pedang kayunya. Ku dorong tangan kanannya untuk menjatuhkan pedang, Reid hilang keseimbangan.
Aku ngos-ngosan sekaligus merasakan ngilu di pergelangan kaki kiriku. Reid dengan cepat berdiri dan memeriksa kakiku.
"Bodoh. Itu pergerakan berbahaya. Kita tidak melakukan pemanasan kaki. Jika kau masih kaku, bisa saja bahu kananmu ikut sakit."
Aku merenggut. Apa di mulutnya tidak bisa mengeluarkan pujian sedikit pun? Aku berusaha keras untuk membuat senjatanya jatuh, namun dia malah mengkritik ku lebih dulu.
"Apa kau masih merasakan nyeri?" tanyanya.
"Yah, sedikit," jawabku meletakkan pedang. Kami terduduk di atas rerumputan sambil menyingkirkan peluh yang membanjiri leher dan wajah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
