31 - Terungkapnya Pangeran Pertama

91 10 5
                                        

Sekilas chapter kemarin: Alia memakai cincin dan dia ada di dalam dimensi yang tak diketahui.

---

Di kertas itu tertulis

Aku dan api unggun pertama. Melihat seorang gadis cantik duduk di sebelahku. Apakah dia sosok calon takdirku?

[•°•]

"Tidak, Pangeran, ini sihir berbahaya! Hamba tidak ingin Pangeran dalam bahaya."

Seorang pria paruh baya berusaha menghentikan seorang laki-laki dengan rambut keemasan yang sedang membuat api unggun aneh.

Alia duduk di samping sang pangeran, namun sang pangeran seakan tidak melihat keberadaannya.

"Pangeran Pertama Arnan, tolong dengarkan hamba."

Tangan Alia bergetar. Cincin yang ia pakai dengan sembarangan itu mulai memancarkan cahaya yang mencurigakan. Ini bukan tentang kenapa Alia ada di sini, namun Alia terkejut dengan fakta bahwa dia ini melihat wujud pangeran pertama yang sudah digadang-gadang telah meninggal beberapa tahun silam.

Alia meremas tangannya pada kain yang ia kenakan saat ini. Dia tetap diam. Apakah ini masa lalu? Apakah cincin itu membawanya ke masa di mana Sang Pangeran hidup?

Di ambang kesadarannya, Alia mulai mendengarkan dalam diam. Napasnya tertahan di tenggorokan dan sulit sekali untuk sekedar menggerakkan lehernya untuk menatap pangeran yang duduk di sampingnya.

Mata mereka bertemu, Alia tersentak. Secara spontan dia bergeser mundur. Tak lama, pangeran mengalihkan pandangan dan tidak berbicara apapun meskipun telah berkontak mata dengannya.

Pangeran itu memiliki rahang yang sempurna, benar-benar pemilik darah biru yang tiada tanding. Alia yakin bahkan visual Reid bisa disandingkan dengan visual pangeran Pertama, Pangeran Arnan.

Tapi ini bukan saatnya Alia mengagumi wajah seperti ukiran Tuhan yang sempurna itu!

Alia menggigit bibir bawahnya canggung. Posisi mereka tengah duduk di atas batang kayu yang besar dengan api unggun berwarna hitam yang bergelora, terasa panas dan mencekam. Di tempat antah berantah ini, Alia hanya berharap jika ini hanya mimpi.

'Apa yang harus kulakukan, Ianas...' batin Alia, hendak rasanya ia berkeliling di sekitar api unggun dan berteriak di depan wajah Arnan serta mengeluarkan bau jigong dari mulutnya ke wajah pria itu.

Alia menahan pikiran gilanya.

"Pangeran, saya mohon pikirkan ini baik-baik. Hamba benar-benar tidak ingin Pangeran terluka. Ini memiliki tingkat risiko tinggi, Pangeran." Seorang patih yang tidak terlalu tua itu terus berbicara.

Pangeran Arnan terlihat tidak senang mendengarnya. Walaupun begitu, dia tetap tersenyum, matanya melengkung membuat bulan sabit, begitu manis. Dia berucap untuk pertama kalinya bagi Alia.

"Cukup, Patih." Pangeran Arnan menyugar poninya yang turun ke belakang. Ada luka seperti sisik di pipi kirinya. Alia dapat melihatnya samar-samar.

"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan masa depan kerajaan kita. Aku tahu kau pengasuhku sekaligus penasihat ku yang paling berharga." Arnan mencekik kobaran api unggun di tangannya. Patih itu tersentak dan teriakan tertahan ia buat.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Become A Red Onion StepsisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang