daring membuat otakku ngebul.
Jangan lupa vote oke? 🥺
[°°°]
"Ini tidak benar!" racau Alia sambil memukul kepalanya. Ayolah, Alia berusaha berpikir keras. Insiden kemarin malam—saat dirinya merasa diselimuti sihir hingga tenggorokannya terasa perih. Alia menatap telapak tangannya, tidak ada yang aneh. Lantas kenapa malam tadi Alia seperti lesu, benar-benar tidak memiliki energi hanya sekedar untuk berbicara.
"Kau sudah baikan?" tanya ibu tiri yang entah kapan datang.
"Hah?! Astaga, aku terkejut," ucap Alia menarik napas pendek. Karena insiden itu juga, Alia mudah terkejut jika merasakan aura selain dirinya.
"Aku tanya, kau sudah baikan?" ulang ibu tiri ketus.
"Kenapa?" Bukannya menjawab, Alia malahan meresponsnya dengan balik bertanya.
"Sepertinya sudah ya." Ibu tiri melempar kain lap ke pangkuan Alia. "Lanjutkan pekerjaanku membersihkan meja makan."
"Aku ingin beristirahat dahulu, kau gila ya. Badanku masih panas tahu," balas Alia ogah-ogahan. Dia menyodorkan jidatnya pada sang ibu tiri. By the way, rambut Alia tergerai bergelombang sepunggung, hingga membuat ibu tiri sedikit iri. Meski wajah Alia terlihat pucat, entah kenapa malah tetap bersinar.
"Ya, panas sedikit. Pergilan ke dapur dan minum saja teh hangat, nanti juga sembuh," ucap ibu tiri dan berlalu pergi. Membersihkan meja makan 'kan bisa dengan duduk, jadi buat apa aku peduli? batinnya.
Rahang Alia terjatuh, lantas dia menutup mulutnya kembali sambil beranjak dari atas kasur, berjalan menuju dapur dengan mulut menggerutu. Ibu tiri tetap ibu tiri!
"Tapi ...." Alia berhenti di tempat. Dia juga ingat saat di tubuhnya yang asli, ibunya justru meninggalkannya dengan hanya berkata 'semoga cepat sembuh' lalu berangkat bekerja tanpa melihat kebelakang lagi.
Alia memejamkan matanya sesaat, dia sudah terbiasa diperlakukan begitu 'kan? Kenapa tadi dia mengeluh?
Alia menatap posisi matahari, waktunya pergi menyusuri sungai. Untuk saat ini, dia masih berusaha untuk mencari ikan mas. Alia menggosok asal kain lap di atas meja. Lalu cepat-cepat berjalan keluar rumah.
"KEMANA LAGI KAU, BAWANG PUTIH?" teriak ibu tiri frustasi. Bukannya berhenti, dia justru melihat anaknya itu mempercepat laju lari, tunggang-langgang meninggalkannya. "Kurang asem. Dia bahkan tak menyanggul rambutnya."
[°°°]
"Hei, Nak, kau mau pergi ke mana dengan penampilan seperti itu?"
Alia sontak memutar kepalanya ke arah sumber suara. Di sana—tepatnya di bawah pohon apel—duduk seorang nenek tua yang terlihat bungkuk dan wajah penuh kriput. Senyuman nenek itu tampak menenangkan, gaya bicaranya yang perhatian benar-benar terasa berbeda.
"Ah?" Alia tersadar. Nenek dengan mata layaknya tersenyum itu masih menunggu responsnya. "Saya ingin pergi ke sungai."
"Benarkah?" Nenek itu masih tenang di tempatnya. "Aku dengar di sungai sedang ada penangkapan ikan besar-besaran. Akan ada banyak pria di sana, sebaiknya kau pulang dahulu."
"Apa? Apa benar ada penangkapan ikan?!" balas Alia panik.
Nenek itu mengerutkan keningnya, dia bertanya, "Kenapa, Nak? Apakah ada pakaianmu atau barang lain yang tertinggal di sana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
