Kalau ada typo tolong tandai ya
Sudah pagi menjelang siang. Kusir berkata bahwa mereka sudah setengah jalan dari tempat yang dituju oleh teman-teman Reid. Alia menyipitkan matanya menatap pohon-pohon rindang yang mereka lalui sejak sejam yang lalu. Tidak ada tanda-tanda akan melewati jalan sempit di tengah perjalanan
"Bawang Putih, kalian tidak mungkin turun di tempat ini 'kan?" tanya Anggit dari depan.
Alia menggeleng meskipun Anggit tidak akan melihatnya. Gadis itu menarik anak rambut bergelombangnya ke belakang telinga. Dia mulai menguap karena bosan.
"Aku akan mencari sebuah desa, atau petunjuk apapun yang akan menunjukkan adanya sebuah desa," kata Alia. Apa aku beritahu saja itu dari buku? Tidak. Itu akan membuat Anggit marah.
Alia sudah menganalisis tokoh sampingan yang satu ini. Anggit adalah karakter yang menyukai kepastian. Informasi abu-abu dan tidak jelas darimana, pasti akan Anggit buang jauh-jauh. Alia tidak ingin dibuang di tengah jalan hanya karena masalah sepele.
Brak.
Kereta kuda bergoyang oleng. Kendaraan yang mereka tumpangi diberhentikan paksa oleh kusir. Pria tua itu mulai berdecak gelisah. Alia melihat Pak Kusir menatap roda kayu mereka, dan mengintruksi untuk segera turun. Lantas setelah Nohta turun, kereta kuda tersebut ambruk.
Kuda mendengkur nyaring, Pak Kusir memeganginya.
"Astaga," ujar Pak Kusir. "Maafkan saya, tadi saya tak melihat ada batu besar dan membuat kayu terhantam keras dengan roda."
Pak Kusir membungkuk dengan sangat amat menyesal. Lelaki tua itu sampai menghela napas letih. Dia sudah tidak tidur dua hari, namun beliau tidak mempermasalahkan hal tersebut dan terus meminta maaf.
Alia merasa tidak enak dengan sikap Pak Kusir. Baru saja gadis itu hendak menyarankan suatu hal, sudah dipotong oleh wanita dengan surai hijau di sebelahnya.
"Pak, maaf kalau ini menyakiti hati Pak Kusir. Tapi saya dan teman-teman sudah membayar perjalanan ini dengan uang kami, seharusnya Pak Kusir lebih bersikap hati-hati saat mengantar kami," cetus Anggit.
"Hei, Anggit, tenanglah," sergah Nohta menghalangi pandangan Anggit pada Pak Kusir yang terlihat semakin letih. Kerutan di wajahnya semakin terlihat gelisah.
"Dia orang tua, jangan berkata seperti itu. Lagipula, Pak Kusir selalu ramah pada kita. Ini bukan kejadian yang beliau sengaja," ucap Ilita menenangkan.
"Tapi perjalanan kita menjadi tertunda!" balas Anggit. Dia wanita yang keras. Alia mulai berpikir dua kali untuk menjadikan Anggit karakter favoritnya.
"Permisi." Alia memotong baik-baik di tengah pembicaraan mereka. "Kita masih memiliki kuda. Mungkin Pak Kusir bisa mengendarainya lebih dulu bersama Marrow. Jadi Marrow bisa membawa kuda lain untuk kita tumpangi."
"Tanpa mencaritahu apakah di dekat sini ada desa atau kota kecil?" balas Anggit tajam. "Jangan berpikir dengan otak sempitmu."
Reid mengerutkan keningnya dalam. Dia mendadak kesal. Alia hanya berusaha memberikan bantuan, kenapa wanita itu merespon dengan kasar?
"Sabarlah. Marrow punya kekuatan fisik yang kuat, dia pasti sanggup untuk mengendarai kuda sampai menemukan sebuah desa atau kota," ucap Alia mencoba untuk berbicara santai. Orang keras kepala tidak bisa dibalas dengan batu juga. Alia sudah biasa melihat orang seperti Anggit dalam hal ini. Contohnya adalah ayahnya--benar-benar ayah Alia di kehidupan lalu.
"Berapa lama?" tanya Anggit pada Marrow.
Marrow mengedikkan bahu. "Aku pasti akan menemukannya. Entah kapan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Become A Red Onion Stepsister
FantasyUPDATE TIAP KAMIS Bagaimana rasanya masuk ke dalam dongeng yang bahkan tidak pernah kamu percayai? Alia baru saja merasakannya, dan dia menjadi pemeran utama Bawang Putih. Apa kabar dengan nasibnya setelah ini? Tidak. Alia harus melawan Bawang Merah...
