Note: saya lagi gabut aja hehe.
.
.
.
.
Beomgyu membuka kedua matanya. Iris gelapnya mengerjap beberapa kali, hingga retinanya terbiasa dengan cahaya dari luar. Ia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya lalu duduk bersandar pada headboard. Bagian bawah tubuhnya seperti mati rasa. Jangankan untuk berdiri, rasanya bahkan bergerak sedikit saja terasa sangat sulit.
Ia menarik nafasnya perlahan. Hanya ada dirinya di kamar yang luas ini. Soobin? Laki-laki itu sepertinya sudah menghilang jauh sebelum ia terbangun. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Cermin besar di depan ranjangnya terasa mengganggu sekali, merefleksikan bagaimana kondisi tubuhnya saat ini dengan jelas.
Telanjang, rambut yang tak beraturan dan ruam merah di sekujur tubuh.
Itu hanya mengingatkannya pada betapa liarnya ia semalam, dan itu rasanya... luar biasa. Sebagiannya jelas karena pengaruh obat sialan itu, dan sebagiannya lagi, karena tubuhnya sendiri yang menginginkannya.
Ia mendambakannya.
Tubuh kokoh dengan bekas luka di beberapa bagiannya itu tanpa disadari bahkan bisa membangkitkan gairahnya hanya dengan membayangkannya saja.
Aaarrggh, sialan.
Beomgyu tidak pernah tidur dengan siapapun. Laki-laki itu yang pertama. Tapi bukan berarti ia polos. Umurnya sudah menginjak angka dua puluh, setidaknya ia pernah beberapa kali menonton film dewasa.
Ia menepuk dahinya perlahan. Rasanya ia butuh mendinginkan kepalanya sekarang.
.
.
.
Jaemin menutup mulutnya yang menguap. Semalaman berada di pelabuhan sepi tanpa mendapatkan apapun jelas membuat moodnya naik turun. Tidak ada apapun yang terjadi di tempat ini, ataupun di hotel sana. Firasat atasannya jelas salah.
Tapi suara tembakan itu nyata, walau setelah itu terdengar suara lain walau samar. Seperti besi yang saling berbenturan. Kalau satu orang yang mendengar, ia bisa saja berasumsi itu hanya khayalannya. Tapi lain cerita di saat mereka berdua justru mendengarnya dengan sangat jelas.
Dan tidak ada apapun.
Tidak ada mayat, tidak ada darah, bahkan tidak ada bekas tembakan dimanapun.
Lagipula orang iseng mana yang melakukan latihan menembak di tempat yang jadi lokasi pembunuhan, salah-salah malah ia yang akan jadi tertuduh.
Minhyun sedang berdiri di luar, bersandar pada pintu mobil dengan sebelah tangan yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Drrrtt... drrrtt...
Getar ponselnya mengalihkan perhatian. Ia bergegas mengambilnya, namun gerakannya terhenti ketika layar menunjukkan nama si pemanggil.
Lee Jeno.
.
.
.
Dua orang laki-laki berbeda umur itu (satunya sebenarnya masih bocah, ngomong-ngomong) duduk di sofa. Berhadapan dengan layar televisi yang menampilkan dua mobil saling menyusul dengan sengitnya. Fokus mereka ada pada layar dan game stick di tangan dengan jemari keduanya yang bergerak lincah bahkan tanpa mereka perlu merasa khawatir salah pencet.
KAMU SEDANG MEMBACA
FREIER VOGEL || SooGyu
Fanfiction"Menutup matamu tidak akan mengubah apapun. Tidak ada satupun yang akan menghilang hanya karena kau tidak bisa melihatnya... Tetaplah membuka matamu. Hanya seorang pengecut yang memilih untuk menutup mata." Ini tentang masa lalu yang ingin dilupakan...
