•Cemburu?
Sinar mentari memasuki celah celah jendela kamar bernuansa biru, terlihat dua sejoli tidur dengan saling berhadapan tak lupa guling yang ada di tengah tengah mereka. Alarm berbunyi membuat Adisty melenguh sejenak, dia mencari cari dimana letak jam sembari menerjapkan matanya berkali kali menyesuaikan cahaya.
07.15
Lantas Adisty bangun dari tidurnya beranjak ke kamar mandi sedangkan Afkar malah semakin membenamkan seluruh badannya kedalam selimut.
Selesai mandi Adisty turun membuka satu persatu gorden dari ruang tamu dan juga ruang tengah, membuka jendela dan mulai membereskan gelas yang masih berserakan di ruang tengah.
Adisty mulai berfikir dia akan memasak apa hari ini? Mula mula dia mencuci piring dan juga gelas lantas dia mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan segera mencucinya sebelum dia potong potong.
Simple, yang penting ada sayur berkuah sudah cukup. Karena itu menu yang harus ada mulai sekarang setelah dia tau alasan Afkar menyukai makanan berkuah
Mulai pagi ini Adisty di subukkan dengan hal hal yang berurusan rumah sudah persis seperti ibu rumah tangga di luaran sana yang sudah menekuni kegiatan rumah. Ya walaupun masih abstrak tapi Adisty haru melatih diri agar terbiasa. Lagipun kalau bukan dia siapa lagi yakan?
Selesai sudah acara Adisty memasak. Lantas dia menengok jam yang ada diruang tengah, memang letak dapur dan ruang tengah tak jauh bahkan makan sambil menonton televisi pun jadi
Adisty POV
Aku kembali naik ke kamar melihat bagaimana kondisi di kamar saat ini, apakah Afkar masih tidur atau sudah bangun? Namun nyatanya opsi pertama yang benar.
Dia masih asik dengan alam mimpinya, berguling selimut dan juga guling sebagai bantalnya. Benar benar seperti kapal pecah saat ini
Aku menyibak selimut yang dikenakan Afkar lalu berjalan ke arah jendela serta balkon untuk membuka gorden supaya cahaya matahari pagi masuk dengan gampangnya. Di situasi pandemj seperti ini harusnya banyakan berjemur pagi supaya virus itu tidak menyerang, bukan berarti kita berjemur tiap hari tidak memungkinkan terkena tapi setidaknya imun kita sedikit kuat.
Barang barang pun harusnya dijemur supaya kuman kuman mati.
Dia melenguh, silau.
Perlahan matanya terbuka, aku berjalan pinggang.
"Bangun udah siang, cepet!" perintahku
"Ck, nantii" jawabnya dengan suara khas bangun tidur. Dia kembali menaikkan sedikitnya dan kembali menutup kedua matanya.
"Tutup!" imbuhnya menunjuk ke arah jendela. Menyuruhku agar kembali menutup gorden
Aku berjalan mendekat ke arah ranjang, "Disuruh bangun kebo banget si," decakku
"Bisa diem ngga si, gue tu ngantuk!" jawabnya sedikit menaikkan intonasi suaranya
Aku terkejut mendengar jawaban yang mungkin bisa dikatakan bentakan itu, menghela nafas lantas aku biarkan dia tidur kembali.
Bodoamat
Aku sudah terlanjur kesal dan sedikit kaget sia membentakku. Lantas ku tutup kembali gorden dengan kasar, melangkah pergi tanpa bersuara

KAMU SEDANG MEMBACA
Arfa&Adisty [END]
Fiksi RemajaStory 1 Pernikahan bagi sebagian orang memang membahagiakan tapi jika itu disetujui kedua belah pihak terutama sang mempelai. Lalu bagaimana jika pernikahan terjadi lantaran perjodohan atau--kecelakaan? Itu yang aku rasakan ketika harus menikah atas...