•Roma Ani
Plakk
Aku menampar lengannya keras membuat dia meringis mengusap lengannya. Bagaimana aku mau manggil dia 'mas? Itu sangat menggelikan
"Nggada! ngga mau" tolakku
"Harus mau!" kekehya
Aku beranjak berdiri di depannya berkaca pinggang, "Tidak roma, aku tidak mau" ucapku mendramatisir
Sebenarnya aku malu melakukan ini, pertama kali memang aku memperlihatkan sifat petakilanku didepan Afkar yang notabenya cowo dingin. Dimana letak harga diriku saat ini? Biarkan toh Afkar juga sudah menjadi imamku
Hoek. Rasanya sangat ambigu
Dia ikut berdiri, karena tingginya yang melebihi tinggiku aku mendongak menatap dia yang menatapku. Tangannya bersedekap, tatapannya dingin. Sudah ku pastikan dia akan pergi tanpa sepatah katapun seperti biasanya
"Tapi aku mau ani"
Aku mendelik ketika seperkian detik dia merubah wajahnya ikut mendramatisir sepertiku. Adegan kisah film roma dan ani. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat muka dia yang menggelikan, terlihat seperti bayi tidak ada wajah aura dingin nan galak
"Tidak roma" aku memegang kepalaku dengan tangan seperti adegan pusing tujuh keliling
"Ani"
"Tidak roma"
"Dengarkan dulu Ani"
"Tidak roma"
Beginilah. Melupakan kejadian tadi pagi saat aku membangunkan Afkar dan juga melupakan kejadian tukang cilok tadi di taman dengan adanya drama absurd yang aku rasa tidak masuk akal. Bagaimana masuk akal jika hanya ada kata 'Tidak roma' yang keluar dari mulutku. Benar benar aneh
Aku terus mendramatisir bagaikan artis profesional yang tengah diadu akting bersama patner mainnya. Sedangkan Afkar menatapku dengan wajah sok memelas. Ditengah peraduan kami yang tak terduga ini siapa sangka jika di luar sana tepatnya depan pintu empat remaja tengah menatap ke arah kami.
"OH ROMA, ANI MERINDUKANMU"
Bersama dengan itu aku dan Afkar menoleh.
Dam it.
Disana terdapat sahabat Afkar dan juga nana yang ku pastikan dia ikut dengan Gilang. Sungguh! Jangan bilang kalau mereka melihat adegan memalukan tadi? Dan apa? Zakya mengatakan Roma dan Ani? Fix kali ini aku malu bener bener malu
Aku dan Afkar saling pandang. Sedangkan empat remaja itu masih berdiri kaku di depan pintu rumah, lagian meraka ngapain ke sini?
"Ekhem, ngapain kalian?" tanya Afkar dengan nada dingin, mencoba agar tetap dengan gaya nya yang cool walaupun sudah kepergok
"Main, eh taunya ada drama gratis" jawab Zakya membuatku menundukkan kepala.
Ini benar benar hal yang sangat memalukan. Lagian aku ngapain pake acara drama tadi sii
Mereka masuk. Duduk di ruang tengah yang memang berhadapan langsung dengan ruang tamu, jika dari luar maka tampak jelas keadaan ruang tengah. Biasanya gorden diruang tengaj tertutup tapi ini tidak. Dan sialnya Afkar tak menutup pintu sehabis dati tukang cilok tadi, jadi salahkan Afkar
Nana duduk di sebelahku, "Ani"
Aku mendelik, "Na plis jangan gitu, malu" dia terkekeh
"Bagus kok drama nya, kapan kapan lagi ya" ucap dia meledek

KAMU SEDANG MEMBACA
Arfa&Adisty [END]
Novela JuvenilStory 1 Pernikahan bagi sebagian orang memang membahagiakan tapi jika itu disetujui kedua belah pihak terutama sang mempelai. Lalu bagaimana jika pernikahan terjadi lantaran perjodohan atau--kecelakaan? Itu yang aku rasakan ketika harus menikah atas...