🏆 Nominasi cerita favorite writing challenge lovRinz publisher 2022
🏆 #2 prosa April 2025
📍Start from 2021
Bermula dari sosok misterius di balik nama pena @gadisPuisi yang karyanya selama dua tahun berturut-turut berhasil menjadi buah bibir di se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 6
Kurang Sempurna
Satya berjalan sembari membawa tumpukan buku yang menggunung, hukuman sebab tidak mendengarkan penjelasan Bu Rania selama pelajaran Fisika dan tidak melaksanakan piket kelas. Bu Rania selaku wali kelas jelas terpicu amarah.
"Bukan sekali, dua kali saya mendengar keluhan dari teman kelasmu tentang kamu yang tidak pernah piket, padahal itu termasuk bentuk tanggungjawab kepada kelas juga sekolah, Satya! Saya bahkan sampai pusing harus menertibkanmu dengan cara apalagi."
"Tapi ini keterlaluan, Bu!" ujar siswa itu yang susah payah jalannya.
"Jangan banyak mengeluh dan percepat langkahmu. Hidup itu berlaku hukum timbal balik, Satya. Kalau berani melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan, harusnya kamu juga siap menerima konsekuensinya!" Bu Rania sama sekali tidak menoleh ke belakang, ia menegakkan jalan dan melangkah cepat menuju ruang perpustakaan sementara Satya tampak kewalahan menumpu beban.
"Susun buku-buku itu ke tempatnya semula!"
Satya memonyongkan bibir, menjatuhkan tumpukan buku dengan amat kesal sampai membuat suara bedebam, alhasil Bu Rania kembali memberinya pelototan. Pemuda itu lantas berjongkok dan mulai menyusun buku sedemikian rupa, menatanya sejajar pada rak paling bawah. Satu persatu mulai mengisi tempat itu, setelah selesai dia buru-buru bangkit dan beranjak dari sana tapi ditahan oleh sentakan Bu Rania yang tiba-tiba.
"Kalau sudah, sebelah sana dirapikan juga." Bu Rania menunjuk rak pojok sebelah kanan yang mana isinya sangat jauh dari kata rapi. Satya menghela napas sebentar, kembali menggerutu lantas melangkah gontai ke belakang. Sesekali dia menguping percakapan dua orang siswi yang duduk di meja baca. Mereka menyembunyikan wajah di balik novel yang dibaca. Karena penasaraan, Satya sengaja menghentikan pekerjaannya, mendekatkan daun telinga ke rak buku dekat mereka.
"Anak Bahasa iya, ga sih?"
"Menurut gue, alasan dibalik susahnya mencari identitas si penulis mading karena ada keterlibatan orang dalam, atau mungkin ada sekelompok orang tertentu yang memang mereka bersekongkol buat menutupi sosok ini," ujar seorang siswi yang membaca novel bersampul warna merah bata, dengan tenang matanya bergerak mengikuti tiap baris kalimat, lantas tangan bergerak membuka halaman selanjutnya.
"Maksud lo, dibalik hebohnya spekulasi sekarang ada sekelompok tertentu yang bener-bener tahu siapa gadispuisi?"
"Yap." Siswi itu menganggukan kepala tanpa menoleh barang sekali kea rah temannya.
Suasana hening sebentar. "Bukannya aneh selama dua tahun ini pihak sekolah ga turun tangan, mereka pasti ga mau menyia-nyiakan bakat anaknya, apalagi sekarang banyak perlombaan menulis yang bisa aja mengangkat nama baik sekolah."