Rumpang dipaksa utuh

503 109 38
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


BAB 4

Rumpang Dipaksa Utuh

Hazel mendudukkan badannya pada kursi depan meja tempat duduk Anya, dengan cewek itu yang menghadap ke belakang sembari sibuk memotong kuku jari.  "Na, gue denger ada tempat bagus gak jauh dari sekolah. Pulang nanti kita mampir ke sana, ya!"

Anya buru-buru menggeleng, mengalihkan pandangannya dari gawai di tangan, ia menatap wajah Hazel dengan tampang lesu membuat gadis berjepit ungu menoleh lantas mendecak setelahnya.

"Gue gak bisa," jawabnya tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Lurus sorot matanya menghadap hamparan buku yang mengaga, jari tangannya sibuk memainkan pena sesekali menggigit ujungnya. Hazel mencibir.


"Ah, lo gak asik! Kenaikan kelas masih dua bulan lagi, emang lo gak suntuk belajar terus. Main sekali-kali gak papa, Na. Otak lo nanti lama-lama meningitis lho, digembar-gembor tiap hari."
Nara meringis, mendengar itu membuatnya urung melanjutkan mencatat pada buku tulis.

"Lo 'kan tahu, gue harus masuk fakultas kedokteran. Gak boleh gak."


"Ck. Lagian kalau mau masuk FK ngapain lo milih kelas Bahasa coba? Huh, gak habis pikir gue, kan ada MIPA," ujar Hazel yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Pemotong kuku itu dia serahkan kembali ke pemiliknya.

Sementara itu, Anya berhasil dibuat bungkam mendengar kalimat Hazel. Tampangnya mendadak berubah sendu membuat dahi Hazel berkerut saat menatapnya.

"Sejak awal gue tahu, kok. Ibaratnya, gue ini tersesat di jalan, Jel dan gak ada yang bisa nolong gue bahkan orang tua gue sekalipun. Mama memang kasih alamat, tapi gak dengan petunjuk jalannya. Mama lupa, kalau ada banyak persimpangan dan jurang. Gue harus ke mana, gimana? Sedangkan status gue di sini buta arah."

Hazel meringis, bingung akan merespon seperti apa. Terlebih sepasang mata itu sedang menatap ke arahnya, seolah tersihir oleh binar pandang dari gadis di depannya Hazel tergerak menjangkau pundaknya lalu memberi tepukan pelan.

"Oke, mungkin lain kali kita bisa jalan bareng. Gue laper nih, lo mau 'kan ke luar buat beli makanan? Kata Mahen ada menu baru di kantin, coba?" Nara merespon dengan mengangguk antusias.

Ia segera menutup buku-bukunya, kemudian menyusun sekenanya. Hazel menggait tangan gadis itu, membawanya berlarian kecil ke luar kelas.

"Emangnya, apa menu barunya?"

"Bubur sumsum. Lama-lama menu di kantin lebih cocok buat orang sakit." Anya tertawa kecil.
Mereka melangkah beriringan sepanjang koridor, membaur bersama siswa lain.

"Ejel, lo belum cerita soal pacar baru lo itu," ujar Anya yang berhasil membuat temannya gelagapan. Sontak saja Hazel tersedak air ludahnya sendiri, gadis itu menepuk-nepuk dadanya berusaha meredakan rasa sesak di tenggorokan.

"Nanti deh, gue kenalin."

"Kakak kelas, ya?"

Hazel tertawa canggung, buru menarik Anya ke antrian kantin milik Pak Slamet yang belum terlalu panjang itu. "Ada deh, nanti juga tahu."

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang