Temu di antar hulu

168 19 4
                                        

Part 18

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Part 18

Temu di antar hulu

Pradipta izin pergi sebentar, setelah mendapat anggukan dari sang adik pemuda itu lantas berjalan ke luar ruang, langkahnya terhenti di lobi rumah sakit yang kemudian tampak menggerogoh saku celana mengeluarkan benda pipih dari sana. Dia mencari satu nama di daftar kontak lantas memencetnya, benda itu berbunyi.

Dilihat dari sorot matanya yang tajam juga dia menggertakkan gigi geraham, menyiratkan jika pemuda itu sedang marah besar. Terlebih nomor yang dia tuju tidak serta merta menjawabnya, tidak berhenti di panggilan pertama, putra sulung itu kembali memanggilnya hingga sampai panggilan kelima dia telah habis rasa sabar, mengumpat sebal tapi terus berusaha mebghubungi orang itu.

"Ck, angkat jalang!" geramnya yang masih berusaha mengecilkan suara. Kakinya kerap bergerak resah kesana-kemari, pula pandangan mengitari tempat dia berdiri takut jika ada orang dalam yang memergoki. Pradipta berjalan lebih jauh dari ruang saudaranya dengan perasaan diselimu amarah besar.

Nada putus-putus terdengar dari benda pipih yang dia pegang, lengkung garis pada dahi si pemuda makin jelas, dengusan napasnya seperti saling buru.

"Pertemukan aku dengan perempuan sialan itu!" ucapnya dikala orang di seberang mengangkat panggilannya.

Pradipa menutup percakapan secara sepihak, tiap kata yang diucap penuh penekanan dan jelas itu adalah sebuah perintah yang tidak akan bisa dibantah, dia kembali memasukkan benda pipih ke saku lanjut melangkah menuju ruang inap adiknya.

"Abang!" Langsung saja gadis itu berteriak girang ketika mendengar suara pintu kamarnya dibuka, buru-buru beranjak dari tempat tidur. Tubuh ringkihnya terlihat ringan sewaktu dia berlari, dengan buku yang berada dipelukannya si gadis lompat berhambur ke dalam pelukan kakaknya.

"Novelku resmi difilmkan, sutradaranya baru saja menghubungiku. Gimana menurut Abang?"

Pradipta mengelus lembut pucuk kepala gadis itu, memasang tampang haru sorot nyalang ganti sendu pula bingar mata tertuju penuh pada gadis dengan rambut sepanjang bahu. Tidak lupa senyum turut menghiasi rupawannya wajah anak sulung keluarga Pra itu. Aerin ikut berbunga.

"Aerin keren, kan?" tanya si gadis seraya memberikan bukunya pada sang kakak.

Pemuda itu menerimanya dengan senang hati, diambilnya buku dan mulai menilik dari sampul depan. Tercatat ada enam buah karya adiknya yang sebelumnya berhasil mendapatkan predikat best seller. Pradipta berdecak kagum, dialah yang pertama kali membaca karangan Aerin saat itu orang tua mereka belum mengetahui bakat si gadis, si Pradipta dengan inisiatif mengirimkan karangan adiknya itu ke perusahaan penerbit kolega yang masih bekerjasama dengan Praha Corparasion.

Aerin dua tahun yang lalu, kusam pucat pasi wajahnya letih memangku kaki di antara gelap bayang matahari di sudut bilik serba putih, jika mengingat kejadian lalu rasa sesak yang entah datangnya dari mana kerap mencerca isi kepalanya tanpa ampun, rasa bersalah turut menuntut saban dia melihat sosok Aerin yang sekarat. Pradipta menarik adiknya ke dalam pelukan hangat. Menularkan kasih dari sentuhan lembut, dari cara dia memeperlakukan si gadis berhasil membuat perhatian kedua orang tua ikut luluh. Kedua bersaudara itu saling terikat satu sama lain.

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang