Kurang sempurna

324 61 21
                                        

BAB 10

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

BAB 10

KURANG SEMPURNA

Hari ini cuaca mendung, lapangan basah sebab tergenang air sisa hujan pagi tadi. Siswa-siswi cenderung menghabiskan waktu di dalam kelas sambil mengobrol dan bergaduh, namun Satya dan teman-temannya memutuskan mengadakan konferensi perut lapar di kantin Bu Tik. Di sana mereka menggelar sidang pemutusan perkara penulis mading yang dihadiri oleh beberapa rekannya. Terdengar suara denting sendok yang beradu dengan mangkok bakso, ting ... ting ... ting ....

"Gue kemarin denger suara di belakang lab gedung lima." Fadli membelokan pandangannya ke samping kanan, urung memasukan bulatan daging sapi gulung yang sedari tadi berhasil membuat perutnya meronta minta diberi asupan.

Aji sontak menggeser duduknya, tidak lupa juga semangkok bakso dengan uap yang mengepul di atasnya, serta segelas es teh manis langganannya ikut berpindah tempat. Dahi cowok itu berkedut sewaktu menoleh ke arah Satya.

"Bro!" Seto mengangkat dagu ke arah Fadhil, mengisyaratkan agar cowok yang gemar mengoleksi komik detektif Conan itu memberi tanggapan.

"Sekitar jam berapa?" tanya Satya tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangan kanan, sedangkan tangan satunya memegang sendok dan mengaduk-aduk kuah soto yang bahkan belum sempat dicicipi sejak lima belas menit yang lalu. Aji mendengkus jengkel.

"Pergantian jam pelajaran ke 5 menuju  6 soalnya waktu itu cukup banyak anak-anak wara-wiri di koridor."

"Berarti antara pukul 11.30 sampai dengan 12.45?" Seto tidak mau kalah, dia ikut menyela.

Fadhil turut merapatkan duduknya, meletakan jari telunjuk ke mulut, sorot tajam mata menatap bergantian wajah teman-temannya yang duduk mengitari meja.

"Kalian mau tahu clue dari gue, gak?" tanya Fadli yang kemudian mendapat respon anggukan antusias dari Aji dan lainnya.

"Diwaktu itu ada istirahat panjang yang digunakan anak-anak untuk ibadah dan makan siang. Gak jarang satu dua penghuni sebelah gedung mendengar samar-samar suara cewek."

"Hantu?" sela Aji ditengah-tengah keseriusan mereka, membuat Fadhil mendaratkan sebuah cubitan di bibirnya sampai kemerahan.

Fadhil tampak membenarkan letak kaca matanya yang melorot ke hidung. "Hantu bisa baca puisi?"

"Jangankan puisi, ayat kursi aja bisa," ujar Aji makin nyolot.

"Pernah denger lo?" Aji mengangkat pundak acuh-tak acuh.

"Gak, sih, cuma katanya bapak gue." Sontak saja hal itu memicu sorakan geram dari teman-temannya, Aji pun menyengir kuda kemudian lanjut menyantap makanannya.

"Berarti sebenarnya udah lama dong, penghuni gedung empat, lima, tiga tahu kehadiran suara itu?" tanya Satya seraya menyedot minuman Aji tanpa ijin lebih dulu---lantas sebuah pukulan kecil mendarat di lengan atas cowok itu, Aji merebut kembali kepunyaannya. "Punya lo mana, njir!"

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang