Membiru dalam semu

215 43 7
                                        

Bab 15

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bab 15

Membiru

"Gue mau beli makanan dulu." Setelah melambaikan tangan pada teman sebangku, gadis itu beranjak dari pintu kelasnya, dengan langkah sedang dia berjalan menelusuri lorong sekolah tanpa menoleh kiri-kanan.

Beberapa kali sempat berhenti sebab menghindari siswa lain yang berlarian sembarang di koridor, dan tepat sesaat sebelum pundaknya terserempet tubuh seorang yang badannya dua kali lebih besar itu, Anya buru-buru meningkir. Si gadis mencibir, balik menoleh ke belakang sembari menatap laku jalan si empu selayak kesetanan.

Anya tidak ambil pusing, ia kembali melanjutkan jalan. Sesampainya di kantin, gadis itu dengan cepat menyela antrian, beruntung karena telat sedikit saja sudah ramai anak berdesakan di belakangnya. Gadis itu mengumpat dalam batin.

"Satya kelas MIPA 4?"

"Iya, seangkatan sama kita." Dua siswi di belakang Anya saling bisik, sempat-sempatnya menggosip di tengah lingkup ramai kantin yang pekat dan pelik. Sekalipun samar tetapi Nara dengan jelas dapat mendengar.

"Tiap pagi gue lihat muka anak itu di depan mading, jongkok sambil nulis-nulis gak jelas."

Mereka maju selangkah, sebab anak paling depan sudah selesai. Anya masih memasang telinga lebar-lebar, perbincangan dua gadis di belakang cukup menarik perhatian. Satya Atma Nibiru, katanya. Siswa kelas XI MIPA 4 menurut keterangan dua siswi itu, Satya merupakan salah satu pemburu identitas si gadispuisi paling antusias tiga bulan terakhir, setidaknya informasi itu yang ia dapatkan dari mereka.

"Menurut gue dia lumayan sih, ya, sekalipun gak masuk di kriteria gue. Tapi, sebagai salah satu pemain inti tim sepak bola sekolah, keren juga," terang sisiwi kepang dua, dia berdiri tepat di belakang Anya---semerbak wangi melati berasal dari siswi itu. Anya kerap kali mengendus bahkan menutup hidungnya sebab aroma parfum benar-benar membuatnya tidak kuat. Ini terlalu berlebihan.

"Jangan salah, sekalipun kata lo dia jelek, ya emang bener sih ... dia pernah nolak cewek."

"Saha?" Mata siswi berkepang dua melotot tepat setelah temannya selesai berujar.

"Lo kenal Tasya?" Siswi itu menganguk mantap, sementara Anya diam-diam melirikkan pandangannya ke belakang. Dua gadis tampak memiliki rasa penasaran yang tinggi. Meskipun Anya tidak tahu pasti, rupa dan bentuk makhluk yang saat ini jadi bahan gossip mereka.

"Ya itu, orangnya."

Anya menghela napas panjang, mendengar perbincangan dua siswi di belakang membuat perutnya terasa panas. Sejak pagi, gadis itu belum mencecap nasi barang sebiji sebenarnya Hazel sempat menawarinya roti, karena merasa tidak enak jadi dia memutuskan untuk membeli sendiri, lagi pula dia tidak suka roti tawar.

"Ibu, buburnya satu sama air putih," ujar Nara pada Bu Oki—pemilik kedai kantin tempat langganannya dan Hazel mampir. Bu Oki mengangkat jempol tinggi-tinggi sembari bergerak cekatan mengisi wadah mangkuk kecil dengan bubur pesanan Anya, suaminya bantu menyiapkan segelas air.

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang