🏆 Nominasi cerita favorite writing challenge lovRinz publisher 2022
🏆 #2 prosa April 2025
📍Start from 2021
Bermula dari sosok misterius di balik nama pena @gadisPuisi yang karyanya selama dua tahun berturut-turut berhasil menjadi buah bibir di se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PART 25
Mengejar bayangan
Tiga hari berlalu dengan beratnya. Penentuan pemenang telah di depan mata, tiap kelas dengan jurusan yang beda berdiri mengitari podium sembari memasang wajah antusias.
"Menurut gue XI IPS 3."
"MIPA dong, keren gitu pentas dramanya."
"Maaf, ya, kak tapi kita optimis X IPS 1 yang bakal naik."Salah seorang gadis berambut cepak dengan entengnya menyela gerombolan anak kelas XI, anak itu cukup percaya diri karena tidak terlihat raut keraguan yang menaungi wajahnya. Sambil bersiap menerima hadiah, anak itu menggandeng temannya yang tidak kalah antusianya.
"XI MIPA 4 LAH, gue udah effort jadi orang gila, njir," ujar Aji yang masih mengenakan busana pentasnya. Penampilan mereka telah usai lima belas menit lalu, tetapi properti dan kostum masih pada tempat semula, semua anggota kelelahan, terutama pemeran utama.
Mereka memerankan drama dengan judul BEAUTY AND THE BEAST yang disutradarai oleh Kemuning dan temannya sebagai asisten, Satya sebagai the beast dan Hauri memerankan tokoh Belle, didukung dengan rekan-rekan lainnya, terutama Aji yang berperan sebagai orang gila sebagaimana yang ia janjikan pada pak Hari sebelumnya. Pementasan mereka berhasil meraih tepukan paling semarak dan teriakan histeris, terutama ketika Satya harus melepas topeng yang menyeramkan lalu memperlihatkan wajahnya, ya, sekalipun sebenarnya tidak ada beda tetapi teriakan paling kencang datang dari kelas XI apalagi teman satu timnya lantaran sama saja, begitu kata mereka.
Tentu saja hal itu hampir membuat Satya keluar dari tokoh yang diperankan, ia sudah bersiap melompat dari panggung dan mengejar Liam dan Mahen. Tetapi urung sebab melihat seseorang yang diam-diam ia taksir menatap ke arahnya, maka cukup jenius Satya menahan gelonjak amarah yang menggebu-gebu itu. Maka, Satya semakin menikmati hinaan yang dilemparkan dari mulut Mahen yang tidak gosok gigi dua hari itu, Satya benar-benar kesal.
Satya ikut menyela gerombolan, belum juga melepaskan jubah dua meternya itu. "Jelas kelas kita lah, awas aja kalau gak dimenangin gue sumpal mulut Mahen pakai odol."
"Chek .... chek ... chek .... tolong diam saudara-saudara!" Pembawa acara kembali mengimbau para penonton yang riuh, suaranya kalah sebab satu banding seribu.
"Ekhem-" Dehaman dari si pembawa acara berhasil membuat mereka berhenti berdebat. Perhatian para siswa kini tertuju penuh padanya, sewaktu panitia turut naik ke atas podium sembari membawa kotak kertas. Perempuan itu berbisik ke telinganya.
"Terima kasih kepada panitia yang bertugas, ekhem-kalau masih lajang bagi nomor WAnya boleh kali, bercanda!" Suasana di ruang itu mendadak diisi sorakan dari penonton dengan ber huu ... ria, alhasil si pembawa acara mencoba menukasnya dengan membacakan kejuaraan yang dipegangnya.
"Karena kalian sudah tidak sabar lagi, maka dari itu tanpa basa-basi saya akan membacakan para peraih kejuaraan pada Lomba Bulan Bahasa tahun ini. Kategori Lomba Pidato, juara satu adalah ...."