Bermula di sana

123 14 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bab 19

Bermula di sana

"Na, jadi mau ikut nonton?" Hazel berlari dari tempat duduknya, menghampiri Nara yang sudah lebih dulu ke luar kelas. Gadis itu merangkul temannya sangat erat, sampai Nara sendiri merasa tercekat. Hazel tipikal anak yang hiperaktif, akan heran jika menemukan gadis itu diam tergugu di mejanya.

Seperti kemarin, tidak banyak laku gerak dari si gadis lebih sering menunduk dan menutupi wajah dengan buku pelajaran. Nara sampai kebingungan, sebab diajak berbicarapun dia hanya akan mengangkat tangan dan berbisik pelan.

"Boleh, tapi sebelumnya gue mau ke perpustakaan dulu," balas Nara seraya memperlihatkan sebuah novel di tangannya. Hazel tersenyum lantas mengarahkan acungkan jempol ke wajah Nara.

"Oke."

Sepeninggalan Nara, gadis itu duduk di pinggiran kelas sembari mengeluarkan benda pipih dari saku baju, setelah itu jemarinya tampak bergerak mengetik sesuatu. Hazel menyematkan beberapa helai rambutnya yang tidak terkucir ke telinga menampakkan semu ruam kebiruan di dekat pangkat telinga, lalu sebuah plaster menempel di pelipis sebelah kiri.

"Hazel, nanti jangan lama-lama ya, soalnya gue udah ditungguin Mama di rumah," ucap Nara yang tanpa Hazel sadari sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu sontak bangun dan kembali melepas helaian rambutnya, tidak lupa menepuk rok bagian belakang berusaha menghilangkan debu.

"Tumben?" Hazel memiringkan kepalanya ketika melihat wajah Nara.

Nara mengangkat bahu, mereka mulai berjalan menjauh dari koridor gedung tiga dan memasuki koridor gedung empat. "Mungkin ada sesuatu penting yang mau dibicarakan, gue gak tahu. Tapi belakangan ini, Mama udah jarang sekali ngebentak dan gak pernah ngacak-acak kamar lagi."

Tepat setelah Nara selesai berujar, Hazel balik melempar tanya. Gadis itu berjalan beberapa langkah mendahului Nara.

"Lho, ngapain dia ngacak-ngacak kamar lo?" Seketika Nara tersentak, dia spontan menghentikan langkah diikuti Hazel. Mereka mematung di ujung koridor gedung empat, dengan tatapan linglung Nara buru-buru menggelengkan kepala.

"Lo lagi gak nyembunyikan sesuatu, kan, Na?"

"Eng---gak, Mama cuma gak suka kalau gue baca novel. Kalau Mama tahu gue simpan novel di kamar, habis udah novelnya dibakar. Iya, kalau itu punya gue, kalau pinjam dari sekolah gue bakalannya kena denda juga omel dari penjaga perpustakaan," jawab Nara ngedumel.

Nara berlari dari lalu-lalang pikirnya, lanjut menarik pergelangan tangan Hazel yang sudah memasang tampang penuh tanya.

Balik menatap temannya, Nara melempar tanya sewaktu melihat sesosok pemuda berlarian kecil ke arah mereka, rambutnya yang mulai gondrong itu bergerak-gerak sewaktu dia berlari.

Nara mengerutkan kening, melirik Hazel di samping. "Pacar lo?"

Hazel mengalihkan pandang ke arah yang ditunjuk oleh temannya. Sosok itu tampak melambaikan tangan dari kejauhan, Nara dapat melihat wajah yang samar dengan postur tubuh yang tidak asing lagi di penglihatannya, pemuda tinggi yang mengenakan masker putih itu pun mendekati Hazel, kemudian mengacak rambut si gadis.Nara melongo dibuatnya.

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang