Jenny sengaja bangun pagi-pagi agar bisa memasak untuk suaminya, ia segera mencepol asal rambutnya dan menuju kamar mandi segera untuk mencuci wajahnya.
Setelah selesai Jenny turun kebawah dan untung saja tidak ada para maid atau pun penjaga karena ini masih jam 4 subuh, sedangkan para maid bertugas memasak jam 5 pagi. Rajin sekali bukan Jenny? Jawabanya adalah iya.
Jenny melihat kulkas dan matanya berbinar saat mendapati berbagai macam sayuran dan ada beberapa potong daging sapi, Jenny segera mengambil beberapa sayuran seperti, tomat, sawi, dan gubis. Jenny mengetuk pelan keningnya kira-kira apa yang akan dibuat dengan sayuran ini.
"Sepertinya tumis oseng enak, dan dagingnya dibuat apa ya? Rendang? Tapi Jenny lupa cara masaknya hedeh," Jenny terkekeh sendiri melihat kepikunannya ini.
"Yasudah deh dagingnya dimasak kecap saja." Finisnya.
Jenny mulai mengambil daging dan menaruhnya diwadah lalu direndam dengan air, Jenny mengambil beberapa sayuran dan dicuci dulu lalu mulai memotong wortel serta gubisnya.
Jenny tersenyum-senyum sendiri didalam dapur sebesar ini ia hanya seorang diri, takut? Tidak sama sekali. Jenny rasanya senang karena ia bisa memasakan seseorang, ah bukan seseorang lagi melainkan suaminya sendiri.
Jenny mulai memotong bawang merah, putih, cabe, dan bawang bombay. Lalu mulai menumis sayuran tadi dengan telatennya.
Jenny mencium aroma sayurnya, sangat wangi. Jenny tersenyum selesai memasak tumis oseng Jenny pun mulai memasak daging dengan telatennya.
Ketika sedang memasak daging Jenny dikagetkan dengan suara seseorang, "Sedang apa pagi-pagi begini?" Jenny mematung ditempat lalu berbalik dan langsung menunjukan senyuman andalannya.
Siapa lagi jika bukan Sergio? Jenny meletakan serbet yang ia pengang lalu berjalan kearah Sergio dengan kerutan didahi, "Kenapa bangun? Baru jam setengah lima." Jenny melirik jam yang ada didapur, berarti sisa waktunya sebentar lagi bukan? Setengah jam lagi!!
"Aku terbangun karena kau tidak ada disamping ku, seharusnya tidak usah melakukan hal seperti ini. Gunanya mereka semua kugaji untuk apa," ucap Sergio lalu menarik pinggag ramping Jenny kedekapan-nya.
His! Menyebalkan sebenarnya dia mencari kesempatan dalam kesempitan ya!!
"Ya tidak apa-apa dong, lagian dari pada aku menganggurkan. Ini juga keinginanku sendiri untuk memasakanmu apa tidak boleh?" Tanya Jenny sambil mengerucutkan bibirnya kebawah.
Sergio yang merasa gemas sendiri pun mengecup bibir tipis itu dengan bibir tebalnya, Jenny mengerjapkan matanya ck. Padahal ini masih terlalu pagi untuk mendapatkan morning kiss.
Jenny mendorong pelan dada Sergio karena pria itu malah melumat bibirnya, sial! Nyaman namun tak bisa dilanjutkan. Ini dapur Jenny tidak ingin kepergok sedang berciuman entah oleh siapa pun itu.
"Ck. Ini masih pagi ya Sergio!"
"Tidak apa-apa. Aku ingin kiss lagi," pinta Sergio sambil menarik pipi Jenny. Tentu saja langsung mendapat pelototan tajam dari sang empu.
"Dasar mesum ya! Sana sudah kembali kekamar aku ingin memasak! Jika sudah selesai makanan-nya aku antarkan keatas, sanaaa ihh!!!"
Jenny mendorong tubuh kekar Sergio yang tidak menggunakan atasan itu dengan paksa, tak lupakan juga mulutnya yang mengoceh.
Sergio menghembuskan nafasnya pelan mau tidak mau harus menurut pada istri kecilnya itu. Ck untung Sergio sayang.
"Ada-ada ajaa ih!!" Kesal Jenny namun tetap melanjutkan masakannya.
Setelah beberapa menit memasak akhirnya selesai juga, Jenny bernafas lega setidaknya ia selesai sebelum para maid datang. Memang sih mereka tinggal disamping rumahnya, khusus untuk para maid dan penjaga mereka memiliki rumah sendiri. Sergio yang membuatnya hebat bukan?
Jenny segera menyiapkan nasi dan lauknya untuk Sergio, menaruhnya dinampan dan perlahan-lahan berjalan menaiki tangga. Jenny juga membawa dua gelas susu dan gabin kesukaannya.
"Sergio tolong bukakan aku pintu!!" Pekik Jenny ketika sudah sampai didepan kamarnya.
Ceklek.
"Sini kubawakan." Ucap Sergio langsung mengambil alih nampan besar yang dibawa Jenny dengan raut wajah ditekuk.
Jenny mengerutkan keningnya merasa heran, kenapa dengan Sergio? Apa dia marah karena hal sepele tadi? Jenny hanya meminta Sergio untuk menunggu apa itu salah.
Jenny mengikuti langkah suaminya itu menuju soffa, dan langsung mendudukan bokongnya pada soffa. Ia masih menatap Sergio dengan raut heran, kenapa Sergio memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang marah.
Seketika Jenny terbahak, "Hahahaa kau marah Sergio?? Lihatlah wajahmu itu seperti anak kecil yang tidak jadi dibelikan es cream oleh orang tuanya," Jenny terbahak sambil memegangi perutnya.
Sedangkan Sergio melirik tajam Jenny wajahnya langsung merah seketika saat Jenny mengetahui jika ia sedang marah.
"Tertawa saja terus." Ucap Sergio kembali meletakan sendok yang hendak disuapkan kemulutnya.
"Oke, oke. Sini anak kecil biar bibi Jenny menyuapimu." Jenny tersenyum lalu mengambil sendok tadi dan menyuapkannya pada Sergio.
"Bagaimana enak?" Tanya Jenny dengan hati-hati takut jika masakannya tidak pas dengan lidah Sergio.
"Biasa saja." Kini Jenny yang memanyunkan mulutnya.
Niat ingin mendapat pujian eh malah terkesan menjatuhkan, dasar balas dendam yang sempurna.
"Haiss! Kau ini tidak bisa apa bilang iya Jenny ini sangat enak sekali," cibir Jenny.
"Bagaimana bisa aku berbicara seperti itu rasa sangat asin." Jenny melotot kearah Sergio perasaan tadi saat mencicipinya rasanya sangat pas.
Jenny mengambil sesendok daging dan nasi, ia memasukan kedalam mulutnya. Jenny kembali melotot kearah suaminya itu yang mulai cekikikan.
"Kau berbohong his!!!!" Kesal Jenny sambil memukul lengan Sergio.
"Hahahhaa iya ampunn!! Makasakan istriku ini memang paling enakk, lain kali bawakan kekantorku ya." Jenny memincingkan matanya lalu mengangkat bahu tanda tidak perduli.
"Ayo buat anak."
Jenny tersedak dalam minumnya ia menatap Sergio dengan wajah cengo, bisa-bisanya pria itu berkata dengan santai sambil meminum susunya.
Tbc.
🤭
Vote
Vote
Vote
Vote
Vote
!!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Passionate
Roman d'amour(FOLOW AKUN TERLEBIH DAHULU, KARNA SEBAGIAN PART DIPRIVATE SECARA ACAK.) ( Adult Romance ) Bagaimana rasanya menjadi Jennyta Agiana Geynor saat pulang dari Prancis usai menuntaskan pendidikannya, dan pulang kepada kedua orang tuanya malah dijodohkan...
