BOY ♧♧♧ CHAPTER 4

7.9K 470 3
                                    

Sudah seminggu Ali dirumah.Ali membuka usaha dengan berjualan warung mini.Menjual lauk pauk,sayur bahkan berjualan bakso juga.Di bantu oleh ibunya,Ali semangat lagi untuk melanjutkan usahanya setelah ditinggal kurang lebih 2 minggu karena dirinya yang sakit.Ali tak pernah malu usaha kecil kecilan seperti ini.
Pekerjaan apapun kalau halal pasti hasilnya akan lebih memuaskan.
Sore hari setelah tutup warungnya,Ali ingin membeli bahan bahan yang akan Ali jual besok pagi.

"Sayang....kamu yakin mau belanja sendiri??" Tanya ibu cemas.
"Iya bu....Ibu nggak usah cemas gitu.Ali bisa kok sendiri kok apalagi udah ada motor dari paman." Jelas Ali lalu memakai helm ink nya.
"Hati hati ya nak....." pesan ibu pada Ali.
"Iya ibu....Ali berangkat dulu ya.Assalamu'alaikum" pamit Ali.
"Wa'alaikumsalam." Balas ibu tersenyum.

Ali pun melajukan motornya dengan kecepatan santai.Karena ia ingin menikmati angin sore yang sedang berhembus.Langit juga begitu cerah.
Ali tak begitu kesulitan saat mengendarai motornya karena motor yang di dapat dari paman nya telah dirancang khusus untuk keadaan fisik Ali saat ini.
Ali juga tak malu akan kondisi tubuhnya yang sebelah kakinya di amputasi.Ali memakai tongkat saat dirinya sampai di pusat belanja.Ali segera berjalan membeli bahan yang diperlukan.
Seseorang menepuk pundak Ali.Ali menoleh dan terlihat kaget.

"Digoo...apa kabar kamu??" Tanya Ali nampak tak percaya.
Digo menyungging senyum."Hai brother???(merangkul Ali)alhamdulillah...seperti yang brother liat.Sehat kok" jawab Digo.
"Gimana juga kabar orang dirumah??"
"Baik.Oh iya,maaf ya brother nggak sempat jenguk pas waktu sakit.Tapi brother nggak apa apa kan???"
"Brother nggak apa apa kok....cuman ya gini sekarang kondisi brother." Jelas Ali sambil menunduk.

Digo adalah sepupu dari mantan kekasih Ali si Ocha.Namun walaupun Ocha dan Digo sepupu namun hubungan mereka tak begitu dekat.Bisa dikatakan renggang.Jadi jika dipastikan Digo tak tau kabar si Ocha dan sebaliknya.
Digo tau kalau Ali sedang dekat dengan Ocha tapi walau begitu sekalipun mereka bertemu,Digo tak sudi melihat dan ngobrol dengan saudaranya itu.Entahlah hanya Digo dan Ocha yang tau masalah diantara mereka.
Digo sangat menginginkan kakak laki laki.Saat tak sengaja mampir di warung milik Ali,Digo semakin akrab dengan Ali.Sehingga Digo sudah menganggap Ali sebagai kakaknya sendiri.Sampai terbesit di otak Digo memanggil Ali dengan sebutan "brother".

"Brother jangan minder gitu ya....Digo yakin pasti brother sempat shock tapi mau nggak mau harus dijalani.Ini semua kehendak Tuhan.Yang penting brother Ali masih diberi kesehatan sampai detik ini." Ujar Digo bijak.
Ali terlihat malu pada Digo."Thanks ya Digo....brother sempat berfikir ingin mengakhiri hidup setelah kecelakaan itu.Dan...." Ali menggantung kalimatnya.
"Dan???" Digo terlihat menanti kelanjutan kalimat dari Ali.
"Dan menerima takdir kalau Ocha ninggalin brother untuk selamanya" Ali meneruskan kata kata nya dengan sedih.
"Digo turut berduka....brother harus yakin ya pasti akan ada penggantinya.Brother harus sabar dan harus bisa move on." Pesan Digo menatap Ali serius.
Ali menarik nafas dan membuangnya."Terimakasih....brother berusaha kok bisa nerima takdir ini."
"By the way....brother mau belanja ya??yuk Digo juga mau beli sesuatu didalam" ajak Digo.

Ali mengangguk dan tersenyum.Digo pun berjalan pelan di samping Ali.

★★★★★★

Usai berbelanja,Digo memutuskan untuk pulang duluan karena ada urusan.
Ali pun mengendarai motornya untuk kembali kerumah.
Saat melintasi rumahsakit tempatnya dirawat dulu,Ali melihat ada sosok wanita cantik yang sepertinya Ali pernah bertatap muka sebelumnya.Ali menghentikan kendaraannya tepat di hadapan sang wanita.

"Lho....ini suster...hmm,suster Prilly ya??" Sapa Ali kikuk.
Prilly melempar senyum pada Ali."Iya mas...mas nya masih ingat sama saya?" Tanya Prilly.
"Jelas lah suster....saya masih ingat.Oh iya,suster mau pulang???" Tanya Ali memandang Prilly sambil menyangklong tas berwarna pink.
"Iya nih.Nunggu angkot.he he" jawab Prilly di selingi tawa kecilnya.
"Kalau mau...saya bisa antar suster.Tapi kalau suster nggak malu saya boncengin dengan keadaan saya yang seperti ini." Tutur Ali yang terus memandang Prilly.
"Ah nggak usah mas....nanti malah repotin mas.Sepertinya angkot sebentar lagi mau datang kok!!!" Jawab Prilly.
"Suster yakin masih mau nunggu??ini udah hampir jam 7 lho.Atau suster malu ya sama kondisi saya??"
"Enggak kok...saya nggak malu.Mas nya ngomong apa sih,ya kalau memang nggak repotin...boleh deh" balas Prilly.

Ali pun menyalakan mesin motornya.Prilly dengan malu malu menaiki motor milik Ali.
Tak beberapa lama kira kira setengah jam Ali menghentikan motornya di depan rumah bercat putih dengan taman yang menghiasi di halaman mini nya.Ali pun turun dan duduk di bangku teras rumah Prilly.


Hai hai....gimana nih??vote dan koment ya.

BECAUSE OF YOU (BOY)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang