"NIH gelang lo."
Jendra mengulurkan tangannya, mengembalikan gelang hitam milik Jasmin yang kemarin sempat tersangkut pada kancing lengan kemejanya.
"Makasih banyak ya Jendra, maaf ngerepotin." balas Jasmin seraya tersenyum kecil.
"Iya sama-sama," sahut Jendra. "Sepenting itu ya gelangnya? Padahal udah putus."
"Iya. Bagi aku penting banget."
"Kalau gitu jangan dipake lagi."
"Emangnya kenapa?"
"Kalau itu penting banget lebih baik disimpan aja. Kalau dipake nanti takut hilang lagi kaya kemarin."
Jasmin membulatkan bibirnya, setelah itu mengangguk paham. "Iya, habis ini mau aku simpen aja. Lagian juga udah gak bisa dipakai lagi, kan udah putus."
Jendra ikut mengangguk pelan.
"Bentar, gue ada sesuatu buat lo," kata Jendra tiba-tiba saja. Lelaki itu kemudian membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. "Kalau abis pake gelang terus tiba-tiba gak pake lagi rasanya pasti aneh kan? Nih, sementara lo pakai ini dulu sampai lo beli gelang baru."
Jendra menarik pergelangan tangan Jasmin dan memasukan sebuah karet rambut berwarna hitam miliknya pada pergelangan tangan Jasmin.
"Ini punya gue. Suka gue pake waktu main futsal. Sekarang udah gak pernah dipake soalnya rambut gue masih pendek bekas ospek kemarin. Jadi buat lo aja. Bersih kok." lanjut Jendra.
"Makasih banyak ya Jendra. Aku emang niatnya mau beli gelang baru, tapi kamu udah kasih duluan."
"Eh tapi itu iket rambut ...."
"Iya gapapa, lebih berguna." sahut Jasmin cepat.
"Iya sih. Kalau gitu gue cabut dulu. Lo habis ini masih ada kelas?"
"Enggak. Aku habis ini balik ke kost."
"Kost lo dimana? Mau sekalian bareng sama gue gak?" tawar Jendra.
"Makasih Jendra tawarannya, tapi aku bisa sendiri."
"Yaudah, hati-hati ya Jasmin. Jangan teledor lagi."
"Iya, sekali lagi makasih ya Jendra."
"Iya sama-sama." ucap Jendra mengakhiri percakapan mereka siang itu.
Setelah menemui Jasmin, Jendra memang berniat untuk mampir ke toko komponen listrik terlebih dahulu, karena harus membeli beberapa komponen untuk praktek esok hari.
Sesampainya Jendra di toko komponen, ia refleks menghela nafasnya pelan ketika melihat sosok yang dikenalnya juga sedang berada di toko yang sama dengan dirinya saat ini. Pertemuan dengan timing yang tidak tepat. Pasalnya Jendra masih dibuat kesal dengan tingkah orang tersebut tempo hari.
"Wih, baru satu hari kesepakatan udah ketemu aja nih kita," ucap Dara ketika melihat Jendra yang kini tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Mau beli komponen atau sengaja dateng kesini karena tau gue ada disini?"
"Geer banget gitu kenapa ya?" balas Jendra malas. "Gue emang pengen cari komponen."
"Oh, kalau gitu berarti gak kehitung ya."
"Lah, kok gitu? Kan tetep aja gue ketemu sama lo disini Teh." protes Jendra.
"Lo tadi bilang kesini mau beli komponen, bukan mau ketemu gue. Jadi gak kehitung dong?"
"Ya kan tapi perjanjiannya ketemuan baik secara sengaja atau gak disengaja ...."
Dara tertawa melihat raut wajah Jendra, "Iya elah, gue bercanda doang. Kenapa deh lo? Lagi sensi ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[PROSES REVISI] Jangan
FanfictionJangan takut jatuh cinta lagi, apalagi kalau itu bersama Rajendra. ©bcnzie11 2021
![[PROSES REVISI] Jangan](https://img.wattpad.com/cover/266881609-64-k503896.jpg)