- Bandung date

442 83 14
                                        

JASMIN membuka matanya dan langsung mendapati sosok Jendra yang kini sedang menatap dirinya. Untuk sejenak, Jasmin tidak bereaksi apa-apa, namun ketika dirinya sadar bahwa saat ini ia sedang berada di Bandung, Jasmin sontak membuka matanya lebar dan menatap Jendra dengan panik.

"Kamu?" ucap Jasmin kaget.

"Aku?" balas Jendra dengan nada yang sama dengan nada bicara Jasmin. "Kenapa aku?"

"Kenapa bisa ada di kamar aku?"

"Oh, aku disuruh bangunin kamu sama Bundamu. Tapi aku gak tega banguninnya, jadi cuma aku liatin aja." kata Jendra santai. "Kenapa kamu langsung bangun gitu? Kaget ya?"

"Siapa yang gak kaget sih, kamu gak ngabarin apa-apa ke aku semalem, terus tiba-tiba kamu dateng sepagi ini? Di rumahku yang empat jam perjalanan dari rumahmu?" omel Jasmin.

Jendra hanya menganguk-anguk ketika Jasmin mengomel, kemudian lelaki itu malah merentangkan tangannya dan membawa Jasmin kedalam pelukannya.

"Oke makasih ya omelannya. By the way, selamat pagi cantik."

Jendra mengelus lembut bagian belakang kepala Jasmin. Tidak perduli dengan penampilan Jasmin yang terlihat apa adanya saat ini. Bagi Jendra, melihat Jasmin seperti ini adalah hal yang sangat langka, dan ... Spesial.

Jasmin melepaskan pelukan mereka dan langsung menutup wajah dengan tangannya. "Aku jelek banget, kamu boleh keluar dulu gak?"

"Jelek apaan sih Jas, orang cantik banget gini."

"Jendraa." rengek Jasmin.

"Jasminnnn," balas Jendra. "Percuma ditutup juga, aku udah liatin kamu tidur dari tadi. Telat banget."

Jasmin akhirnya menurunkan tangannya, setelah merasa apa yang dikatakan Jendra juga ada benarnya.

"Bunda kenapa bisa kenal sama kamu?" tanya Jasmin penasaran.

"Gimana gak kenal, orang kamu ceritain aku ke Bundamu terus."

"Aku enggak?" Jasmin menyanggah.

Jendra tidak membalas dan hanya menatap Jasmin dengan senyuman meledek.

"Gak sesering itu, maksudnya." lanjut Jasmin, mengoreksi kalimatnya. "Kamu udah ngobrol dong sama Bunda? Ketemu Ayah juga gak?"

"Ketemu kok sebentar pas beliau mau berangkat kerja. Kalau sama Bunda kamu, aku juga udah ngobrol lumayan banyak tadi."

"Bunda bilang apa? Soal kamu?" tanya Jasmin penasaran.

"Katanya aku ganteng, terus katanya juga aku pinter soalnya aku anak Elektro. Padahal mah apa, aku belum bisa benerin TV."

Jasmin tertawa. "Terus?"

"Tadi pas dateng sebenernya aku gak bilang kalau aku pacar kamu, tapi pas aku kenalin diri Bundamu langsung tau kalau aku pacar kamu. Kamu ni udah curhatin aku seberapa banyak ke Bundamu?"

"Banyak. Kenapa gak suka ya?"

"Suka." balas Jendra cepat. "Terus curhatin aku ke Bundamu ya. Jangan berhenti."

"Oke." balas Jasmin berbisik pelan.

Jendra tiba-tiba saja melirik ke arah luar jendela, mengecek kondisi matahari pagi ini yang terlihat tidak begitu cerah karena tertutup awan sebagian.

"Kita jadi mau ke kebun binatang?" tanya Jendra ragu. "Kaya yang mau hujan deh Jas."

Jasmin jadi ikut melirik ke arah luar jendela. "Loh iya ...."

"Kalau kamu tetep mau pergi gapapa kok, siapa tau itu cuma mendung tapi nanti gak hujan."

"Aku sebenernya udah gak pengen ke kebun binatang," aku Jasmin jujur. "Tapi masih pengen keluar. Kamu ada ide?"

[PROSES REVISI] JanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang