"LO ngerasa gak sih Jen, si Jasmin tuh kaya berubah gitu akhir-akhir ini?" tanya Jihan sore itu ketika dirinya dan Jendra sedang duduk bersama di depan teras kostnya, selagi menunggu Jasmin selesai berdandan.
"Beda gimana?"
"Nih ya," Jihan memperbaiki posisi duduknya. Gadis itu kini menatap Jendra dengan antusias. "Jasmin itu tipe orang yang gak akan ngomong kalau gak diajak ngomong duluan. Tapi belakangan ini, justru dia duluan ajak gue ngobrol. Entah kenapa pembawaan dia juga sekarang lebih percaya diri."
"Bagus dong?"
"Bagus, tapi gue cuma mempertanyakan aja apa yang bisa bikin dia jadi kaya gitu sekarang."
"Lo tuh harus percaya sama Jasmin." balas Jendra yang terdengar agak tidak nyambung.
"Maksudnya?"
"Jasmin selalu merasa sendiri. Dia susah buat bergantung sama orang lain. Jadi lo harus kasih kepercayaan sama dia kalau dia bisa bergantung sama lo. Nanti dia perlahan-lahan akan coba buat buka hatinya ke lo,"
"Dulu pas pertama kali liat dia, gue penasaran kenapa dia gak seheboh cewek lain yang ada di kelompok gue. Setelah gue usut, ternyata emang ada faktor yang bikin dia jadi begitu. Yaudah, solusinya ya gue kenalin ke orang-orang terdekat gue. Gue pengen dia punya pikiran kalau sebenernya banyak kok yang mau temenan sama dia. Minimal deket sama satu orang deh supaya nanti lo bisa saling mengandalkan satu sama lain." lanjut Jendra menjelaskan.
"Keren sih Jen pikiran lo. Biasanya orang yang kaya gitu tuh susah di deketin dan dibaca isi kepalanya."
"Yang penting lo ikhlas, nanti pasti dipermudah sama Tuhan."
"Tapi udah pacaran belum?" tanya Jihan dengan senyum yang meledek.
"Lah elu sendiri gimana? Udah balikan belom?"
"Tai," sahut Jihan cepat. "Jangan ngomongin Harfi lagi gue muak lama-lama."
"Lo yang mancing duluan."
"Eh btw Jen, sebenernya gue mau bilang sesuatu sama lo," ucap Jihan seketika terlihat menjadi serius, membuat Jendra sontak mengerutkan dahinya bingung.
"Apaan? Horror dah lu." protes Jendra.
"Gue mau bilang makasih Jen, soalnya lo sama Jasmin selalu ada buat gue. Mau minta maaf juga gara-gara gue selalu ikut main bareng kalian terus, gue jadi menghambat proses pdktan lo. Tapi kalo gak ada lo berdua, gue sekarang dipastikan masih mendekam diri di dalam kamar."
Mendengarnya, Jendra langsung menghela nafas pelan, "Gue awalnya bingung harus kasian sama lo dan Jasmin karena lo berdua sama-sama cewek galau, atau harus kasian sama diri gue sendiri karena dihampit sama dua cewek galau. Tapi yaudah lah, sama-sama. Bagusnya kalau besok-besok lu kaga mintilin gue sama Jasmin lagi."
"Iya, besok-besok gak mintilin lo sama Jasmin lagi. Nanti kalau gue mau keluar gue ajak Raga aja."
"Oh iya, ngomongin Raga, gue juga sebenernya mau bilang lo keren dah,"
"Huuu tumben muji?" sindir Jihan.
"Lo sekarang keliatan udah akrab sama Raga. Padahal gue yakin pasti susah buat akrab sama saudara tiri, apalagi kalau saudara ketemu gede kaya lo sama Raga."
"Raga baik Jen. Gue jadi gak bisa nolak eksistensi dia."
"Emang harusnya gitu gak sih?" ujar Jendra kembali bertanya.
Tidak lama setelah Jendra berkata seperti itu, Jasmin keluar dari dalam kost. Jasmin kini menatap Jihan, berputar beberapa kali di hadapan Jihan untuk menunjukan bajunya yang saat itu sedang dipakainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[PROSES REVISI] Jangan
FanfictionJangan takut jatuh cinta lagi, apalagi kalau itu bersama Rajendra. ©bcnzie11 2021
![[PROSES REVISI] Jangan](https://img.wattpad.com/cover/266881609-64-k503896.jpg)