- Tidak percaya diri

416 93 4
                                        

JASMIN mendorong pintu ruang rapat dan mendapati Sam sedang duduk seorang diri di dalam sana. Tanpa rasa ragu, Jasmin kini berjalan masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Sam yang terlihat sedang fokus pada ponselnya.

"Yang lain belum dateng kak?" tanya Jasmin, tidak sempat menyapa.

Sam terlihat langsung mengunci layar ponselnya dan mengangkat kepala untuk melihat Jasmin. "Udah kok, tapi lagi pada izin buat beli minum."

"Oh gitu," Jasmin menganguk paham. "Sejujurnya saya kaget waktu disuruh kumpul lagi hari ini. Kalau boleh tau hari ini mau bahas apa ya kak? Dari acara kemarin kita ada salah?"

"Enggak kok, hari ini mau bahas Mufest tahun depan. Gue juga belum tau apa aja yang bakalan dibahas hari ini, yang gue tau cuma beberapa panitia Mufest kemarin yang punya kinerja bagus dipanggil buat bahas konsep kepanitiaan Mufest tahun depan." jelas Sam.

Jasmin sontak membulatkan bibirnya. "Rapatnya mulai jam berapa?"

"Lima belas menit lagi sih kayaknya?" jawab Sam seraya melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.

"Saya boleh izin ke kamar mandi dulu?"

"Boleh."

"Yaudah kalau gitu saya titip tas ya kak? Sebentar doang kok habis itu balik lagi."

"Oke hati-hati ya."

Jasmin segera bangkit dan berlari keluar ruangan untuk pergi ke kamar mandi terdekat. Setelah kurang lebih lima menit menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Jasmin kembali menuju ruang rapat.

Ketika Jasmin baru saja membuka pintu rapat, tatapannya langsung saja bertabrakan dengan Jendra yang kini sedang terduduk seraya memeluk tas Jasmin yang tadi sempat ia titipkan kepada Sam. Jasmin lalu berjalan menghampiri Jendra dan duduk tepat di sebelah lelaki itu.

"Kamu kenapa gak kasih tau aku kalau ternyata kamu di ajak rapat juga hari ini?" tanya Jendra.

"Emang kenapa?"

"Yaa kalau aku tau kan tadi bisa bareng kesininya. Biar aku jemput kamu dulu ke gedung Fakultas kamu."

"Aku gak sempet pegang hp, jadi gak sempet ngabarin kamu juga. Maaf ya."

"Iya, nanti pulangnya aja yang bareng kalau gitu," balas Jendra. "Kamu hari ini lagi ulang tahun?"

Mendengar perkataan Jendra, Jasmin sontak mengerutkan dahinya dan menatap Jendra dengan tatapan bertanya, "Aku? Ulang tahun?"

"Iya," Jendra menganguk kecil, kemudian menujuk ke arah paperbag yang ada di hadapan mereka saat ini. "Itu kamu bawa kaya kado gitu, di paperbagnya juga ada tulisan buat Jasmin. Kamu ulang tahun kan?"

"Aku gak ulang tahun. Kamu lihat gak paperbag ini sebelumnya ditaruh dimana?"

"Di sebelah tas kamu. Persis. Makanya aku cek, itu punya kamu atau bukan. Eh, ternyata emang punya kamu." jelas Jendra. "Kamu kok kaya kaget gitu, emangnya sebelum kesini kamu gak bawa gituan?"

"Enggak. Makanya aku bingung."

"Coba cek dulu."

Jasmin segera mengambil paperbag yang dimaksud, kemudian memeriksa isinya. Secarik kertas terlihat diantara banyaknya snack yang ada di dalam paperbag ini, Jasmin sontak mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan Jendra yang kini juga turut melihatnya.

I always drown every time I see your smile, so please keep smiling so I can be a good swimmer.

"Wow," respon Jendra pelan. "Kamu punya penggemar rahasia tuh."

Jasmin hanya terdiam tanpa membalas perkataan Jendra. Sebenarnya ini bukan kali pertama Jasmin mendapatkan hal seperti ini dari pengagum rahasianya, tapi ini adalah kali pertama Jendra mengetahuinya dan itu jelas menggangu perasaan Jasmin. Jendra tidak seharusnya melihat surat itu. Tidak disaat hubungan mereka sedang berada di kondisi tidak berarah seperti ini.

Pintu ruangan dibuka, memperlihatkan beberapa orang masuk ke dalam, termasuk Sam. Mereka kini berkumpul, menandakan bahwa rapat akan dimulai sebentar lagi.

"Oke karena gue liat-liat udah banyak yang hadir, langsung aja ya gue mulai rapatnya?"

"Oke bang."

"Langsung to the point aja kali ya? Gue selaku ketua Mufest tahun lalu punya maksud dan tujuan ngajak kalian rapat hari ini karena kalian sebenarnya adalah orang-orang terpilih buat mengurus acara Mufest tahun depan," jelas seseorang yang menjabat sebagai ketua pelaksana Mufest kemarin. "Nah, gue mau nunjuk beberapa orang buat jadi PO, VPO, dan bahkan ketua divisi buat Mufest nanti. Untuk PO sendiri gue sebenernya udah punya satu nama, tapi gue gak yakin dia mau terima tawaran gue atau engga,"

"Siapa tuh bang?"

"Jendra dari Teknik Elektro."

Semua mata kini tertuju pada Jendra.

Raut wajah Jendra semakin tidak karuan.

Jendra merasa tertekan.

___

Selama perjalanan pulang, Jendra diam seribu bahasa. Jasmin tidak bisa menebak alasan Jendra seperti itu, namun yang jelas ditunjuk menjadi salah satu calon sebagai ketua pelaksana acara Mufest tahun depan pasti menjadi salah satu alasannya.

Jasmin melompat turun dari atas motor Jendra dan berdiri di sebelah Jendra seraya menatap Jendra dengan tatapan khawatir.

"Kamu kenapa? Kok diem terus dari tadi." tanya Jasmin pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Aku kepikiran,"

"Soal Mufest?"

"Salah satunya itu, tapi bukan itu aja,"

"Terus apa?"

"Aku kepikiran sama kamu," jawab Jendra. "Kenapa ya Jas, aku malah jadi merasa kayak orang gak tau diri karena gantungin perasaan kamu?"

Jasmin mengerutkan dahinya bingung, "Maksud kamu?"

"Aku tau kamu pasti sering dapet kaya ginian. Entah itu barang atau cuma sekedar ungkapan perasaan. Tapi setelah aku lihat langsung, aku jadi sadar, cowok kaya aku yang gak ada spesialnya kaya gini kok bisa-bisanya buat kamu nungguin aku yang masih takut memulai hubungan?" ucap Jendra. "Padahal bisa aja kamu pacaran sama orang lain yang lebih dewasa, keren, dan bisa lindungin kamu setiap saat. Dan bahkan mungkin yang lebih ganteng."

"Jendra, kamu kenapa? Ini kaya bukan kamu ...."

"Jas, menurut aku konsep pacaran tuh gak sesimpel kamu suka, aku suka, terus kita pacaran, enggak," Jendra melanjutkan perkataanya. "Konsep pacaran bagi aku tuh kita harus rela bagi separuh yang ada di diri kita untuk di kasih ke orang lain. Waktu, perasaan, prioritas, semuanya. Dan aku butuh waktu untuk itu, aku gak mau kamu merasa buang-buang waktu pacaran sama aku nantinya. I just want to be worth it for you."

"Jendra, aku udah bilang kan kalau aku gapapa nunggu kamu? Jangan merasa bersalah dan jangan pernah merasa kamu gak cukup buat aku, karena kenyataannya cowok mana pun, kalau itu bukan kamu, aku gak bisa Jen, aku gak mau."

Jendra menatap Jasmin serius. Ketika Jasmin sudah menyelesaikan perkataanya, perlahan raut wajah Jendra menjadi membaik.

"Serius?" tanya Jendra, dengan wajah penasarannya.

"Iya."

"Oke, kalau gitu aku gak jadi gak pede, thanks for building up my confidance, Jasmin."

"Makasih juga udah bilang semuanya," balas Jasmin pelan. "Soal ketua pelaksana ...."

"Aku pikir aku gak akan bisa buat jadi ketua pelaksana. Aku belum sehebat itu."

Jasmin menganguk paham.

"Aku pulang dulu, jangan lupa bilang makasih sama Bang Sam ya Jasmin."

"Kak Sam? Kenapa?"

Jendra tersenyum kecil. "Soalnya dia udah kasih kamu banyak makanan? Paperbag itu dari dia Jasmin, he likes you."

Jasmin melongo keheranan.

___

[PROSES REVISI] JanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang