- Mufest and all those heartbreak

416 94 16
                                        

ACARA Mufest akhirnya terlaksana hari ini.

Terhitung lima jam acara sudah berlangsung. Saat ini acara sedang diberhentikan sejenak karena jam sudah menunjuk ke angka enam di sore hari, para panitia diberikan waktu untuk beristirahat dan beribadah bagi yang melaksanakannya.

Jendra berjalan keluar dari tenda panitia untuk menghampiri Jasmin yang sedang duduk diluar tenda panitia bersama dengan Selina. Sebelum acara dimulai tadi, Jendra memang sempat mengajak Jasmin untuk makan bersama selama jam istirahat panitia. Jasmin setuju, dan itulah mengapa kini ia duduk di luar tenda panitia-menunggu Jendra keluar dari dalam sana.

Namun belum sempat Jendra berjalan menghampiri Jasmin, ujung lengan kaosnya tiba-tiba ditarik dari belakang, membuat lelaki itu membalikan badannya dan mendapati Dara yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan canggung.

"Eh Jen, lo mau kemana? Sibuk gak?" tanya Dara, terlihat basa-basi.

"Gue mau nyamperin temen abis itu mau solat sih teh, kenapa?" ucap Jendra balik bertanya.

"Oh, berarti lagi buru-buru?"

"Iya bisa dibilang gitu. Emangnya kenapa sih? Lo mau ngasih gue jobdesk tambahan ya?" tebak Jendra yang menghasilkan sebuah pukulan di lengannya dari Dara.

"Gue mau ngomong sesuatu, tapi karena lo lagi buru-buru jadi gue langsung ngomong aja ya, tolong buka telinga lo baik-baik," kata Dara, suaranya terdengar semakin gugup. "Gue suka sama lo, Jen."

Jendra melotot kaget. Tidak menyangka kalau kalimat itu yang akan terucap dari Dara. Melihat ekspresi terkejut Jendra, Dara sontak menaruh tangannya di depan bibir, menyuruh Jendra untuk tetap diam dan mendengarkan perkataannya lagi.

"Alasan kenapa gue bisa suka sama lo karena lo seolah-olah bersikap kalau gue spesial. Padahal engga kan Jen? Lo emang bersikap kaya begitu ke semua orang, bahkan ke Jasmin." ucap Dara. Gadis itu kini melirik kearah Jasmin yang malam itu terlihat memakai kemeja flanel milik Jendra yang sempat Jendra pinjamkan juga kepada dirinya. "Gue gak tau hubungan kalian apa, ngeliat semua yang lo lakuin ke Jasmin rasanya kaya liat perlakuan lo ke gue. Tapi ternyata ada yang lo gak kasih ke gue tapi lo kasih ke Jasmin, Jen. Lo tau gak itu apa?"

Jendra menggeleng pelan sebagai jawaban.

"Tatapan lo yang seolah bilang kalau lo jatuh cinta. Itu yang gak pernah gue dapet setiap gue sama lo."

"Gue gak suka sama Jasmin." elak Jendra cepat, berusaha untuk meluruskan.

"Lo bukan gak suka, tapi mungkin lo belum sadar," sahut Dara. "Maaf ya kalo gue tiba-tiba bilang gini. Gue cuma mau hati gue lega, dan sekalian pengen kasih tau lo juga, jangan memperlakukan semua cewek sama rata. Cukup spesialin cewek yang lo suka aja, biar gak ada lagi cewek yang baper kaya gue. Ngerti?"

Jendra mengangguk pelan. "Makasih udah mau jujur soal perasaan lo ke gue teh, dan maaf juga gue belum bisa bales perasaan lo."

"Gapapa. Udah sana solat, sorry ya ganggu waktu istirahat lo."

"Santai. Gue pergi dulu ya teh."

"Oke." Dara mengacungkan jempolnya dan masuk ke dalam tenda panitia tanpa menunggu balasan dari Jendra lagi. Jendra juga turut membalikan badannya dan kembali berjalan menghampiri Jasmin yang sempat tertunda tadi, dengan langkah lambat.

Rasanya menyenangkan. Mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang ternyata rasanya menyenangkan.

Namun, ketika melihat Dara yang menyatakan perasaanya tadi, Jendra seperti melihat dirinya dimasa lalu. Saat dimana Jendra menyatakan perasaannya pada Jihan, tepat dihari terakhir mereka belajar bersama dan berakhir oleh Jihan yang menolaknya karena gadis itu sudah benar-benar jatuh cinta oleh Harfi.

[PROSES REVISI] JanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang